Cinta dari Tanah Sebrang

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Mei 2017
Cinta dari Tanah Sebrang

Aku jadi berpikir kalau manusia tidak perlu jatuh cinta. Jatuh cinta itu rumit, susah dan banyak aturan. Bukan tentang dua orang. Bukan tentang dua keluarga. Tapi tentang sejarah dua kerajaan di masa silam.

Aku berlebihan. Aku hiperbola. Terserah apa yang orang lain pikirkan. Aku sesungguhnya adalah orang yang tak mau terlibat konflik. Tapi aku harus menyuarakan apa yang aku rasa.

Kali ini aku harus berhadapan dengan orang tua. Orang yang aku punya, saling memiliki dan menjaga. Aku tahu bahwa orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya. Tapi aku tak yakin jika langsung dipaksa berhenti cinta, apa aku bisa. Padamu sungguh aku tak berpura-pura. Tak mau main-main. Karena aku tahu cinta bukan hal yang datang begitu saja. Ia anugerah.

Aku mendengus tanpa sadar. Kaca jendela kelas di sampingku basah membentuk uap air.

"Jangan terlalu dipikirinlah ceritaku kemarin. Bujuk aja terus," Tara mengurut punggungku. Terpaksa kemarin kuceritakan semua soal hubungan rumit ini. Lalu sekarang yang aku lakukan hanya menoleh pada Tara. Aku mengangguk dan berusaha tersenyum.

Aku yang sekalinya jatuh cinta, cinta dan jatuh pada lelaki sunda. Apa aku memilih? Tidak! Hatiku yang condong terhadapnya. Kalau aku bisa memilih, aku akan menjatuhkan pilihanku pada ia yang satu suku. Biar tak repot. Biar bapakku setuju.

Selama ini yang aku cari adalah ia yang seiman. Satu akidah. Begitu pelajaran yang terus menerus Bapak tanamkan. Juga apa yang selama inu aku dapat di madrasah. Walau sudah lalu, aku masih ingat selalu. Bapak barangkali juga tak ingin meneruskan pemikiran ini. Tapi sepertinya terlanjur. Ada akar kuat yang menopang sebuah pohon. Akar kepercayaan. Percaya pada mitos nenek moyang dulu.

"Usaha dan doa, itu kuncinya," Suara Tara seperti setetes air di pikiranku yang geraang. Tara mengangkat tangannya dari punggungku dan bangkit dari kursi.

Iya, jadi dua hal itu belum aku coba. Aku baru bertanya sekali saja. Aku mau berusaha. Aku mau meminta.

***

Ini bentuk usahaku. Walau malam terasa dingin. Udaranya menusukkan nyeri di kuku-kuku. Aku sudah siap dengan setelan baju dan celana panjang bersila di atas singgasana. Kasur kesayanganku. Bagaimana tidak sayang. Setiap hari aku bermanja dan bercanda dengannya. Kalau bahasa sekarang mager, males gerak. Tapi kali ini aku tak memilih tidur cepat.

Aku menghabiskan berlembar-lembar buku sejarah. Kemarin aku sengaja pinjam di perpustakaan. Iseng yang pertama. Yang kedua aku benar-benar jadi tertarik membaca cerita cinta Jawa Sunda yang berakhir menyedihkan. Meski aku tak mau berakhir sama.

Jam dinding membentang kedua jarumnya di angka sebelas. Waktu yang cukup malam bagiku untuk terjaga. Biasanya aku sudah tertelan kapuk-kapuk empuk nan menggoda itu. Anganku melayang, menerawang dan membayangkan peristiwa masa lalu. Sekuat apa mereka bertahan. Jatuh cinta, mencintai, dicintai diantara ketidakbebasan yang masih jelas tergambar.

Aku cukup dimanja dengan segala kemudahan. Jikalau dulu kehormatan dibuktikan dengan kematian. Aku tak ingin jadi Pitaloka meski tegar. Bunuh diri tak pernah jadi solusi. Itu bukan akhir. Awal pilihan hidup di masa selanjutnya. Setitik air mataku tak sadar mengalir.

"Nduk, kok belum tidur tumben?" Bapak tetiba sudah berada di ambang pintu. Beliau menatapku yang semoga saja tak terlihat air mata ini.

Aku menggeleng saja. Berusaha menggeser buku yang aku baca agar Bapak tak melihat. Tapi Bapak mendekat.

"Serius tenan to? Opo iku?" Bapak meraih buku yang tadi aku baca. Aku tak bisa menahannya. Bapak membaca halaman yang terbuka.

Mataku terpejam seketika. Aku takut melihat air muka Bapak yang berbeda. Aku takut mengahadapi kenyataan setelah ini. Tapi beliau hanya menepuk punggungku sekali. Beliau berjalan mendekati nakas dan meletakkan buku itu di sana. Bapak menepuk pelan buku itu kali ini.

" Wes, kamu tidur sekarang. Besok saja diteruskan obrolan kemarin," kali ini suara Bapak tenang. Tak terdengar gelombang marah atau menentang. Obrolan kemarin? Aku tak sempat bertanya. Bapak dengan sarungnya yang masih melilit di pingggang, meraba saklar dan mematikannya. Bayangan Bapak lalu tertelan bersama suara pintu yang tertutup.

Aliran darahku langsung mengalir. Tadi rasanya jantungku seperti sesaat menahan detaknya. Baru setelah Bapak pergi ia kembali bekerja seperti biasa. Aku tak tahu apa yang terpikir di benak Bapak kali ini. Penerimaan, penolakan, bujukan atau apa esok yang pasti harus kuterima. Mataku mengembun lagi. Entah karena terlalu lama membaca atau perasaanku tak biasa.

  • view 68