Cinta dari Tanah Sebrang

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Mei 2017
Cinta dari Tanah Sebrang

"Dulu ada sebuah lukisan gadis cantik bernama Pitaloka yang tersebar di kerajaan Majapahit. Ia adalah putri raja Pasundan. Sukalah raja Majapahit sama Pitaloka, terus dipinang. Singkat cerita diterima tuh lamarannya. Rombongan raja Pasundan datang ke Majapahit buat nikahin Pitaloka. Eh, sampai sana rencananya berubah. Awalnya mau nikah plus membina hubungan diplomatik. Karena ada patih Gajah Mada yang terkenal dengan sumpah palapanya, jadilah patih membujuk raja Majapahit. Oya, namanya Hayam Wuruk. Hayam Wuruk diminta patih Gajah Mada menjadikan pernikahan ini sebagai bentuk penaklukan kerajaan Pasundan oleh kerajaan Majapahit. Raja Pasundan marahlah dan menganggap ini sebagai penghianatan/ kecurangan dan semacamnya," Tara meneguk segelas es jeruk yang ada di hadapannya.

Sepertinya ia sanhat haus setelah menjelaskan panjang lebar. Oiya, Tara itu temanku yang paling suka baca buku sejarah. Karna itu aku memaksanya bercerita tentang hubungan Sunda dan Jawa di masa silam. Tapi ia bercerita tentang kerajaan. Dahiku mengernyit. Tak mengerti.

"Hubungan Majapahit-Pasundan sama larangan pernikahan Sunda-Jawa apa?" 

"Jadi setelah itu kerajaan Pasundan melarang rakyatnya menikah dengan orang Majapahit. Mitos nih mengartikan lebih luas kalau orang Sunda nggak boleh nikah sama orang Jawa. Nantinya bisa hidup sengsara. Seingetku gitu. Udah lama banget nih nggak baca. Cek aja di buku, takut ada yang salah," Tara meraih gelasnya lagi. Namun isinya sudah tandas. Jadilah gelasku yang masih berisi tiga perempat diselesaikannya juga.

"Mau dipesenin lagi, Tar?" dahiku mengernyit lagi dan lagi. Kali ini karna ternyata aku sadar Tara lebih dari sekedar haus. Mungkin dia lapar.

"Kamu aja. Nanti aku ikut nyedot," ia berhenti menghirup es jeruk milikku lalu dahinya ikut mengernyit srperti menyadari sesuatu, "memang kamu kenapa nanyain hubungan Jawa-Sunda? Kamu mau nikah sama orang Sunda?" intonasinya mengeras. Beberapa orang tampak menoleh ke arah kami. Sebagian saking berbisik entah bicara apa. Aku hanya bisa menunduk berharap ini tak perlu jadi konsumsi publik. 

Dan tentang mitos ini. Apa Bapakku juga percaya?

  • view 57