Cinta dari Tanah Sebrang

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Mei 2017
Cinta dari Tanah Sebrang

(1)

Aku ingin berdemo, protes keras. Pada matahari, langit senja, daun-daun dan seluruh semesta. Apakah selama ini mereka berbohong? Dengan meniupkan kedamaian di sisiku kala mencintainya. Sekarang mereka diam saja ketika aku kecewa. Aku tak bisa percaya. Sesalah itukah mencintaimu? Mereka bilang kita berbeda? Lalu apakah perbedaan itu adalah kesalahan? Aku tak juga mengerti.

Terlahir sebagai gadis berdarah jawa. Apa aku memintanya? Tidak! Dan tidak bisa memang. Tapi aku tak pernah menyesal. Bagiku yang lahir, hidup dan tumbuh di tanah jawa adalah suatu kesyukuran. Sekalipun sebagian masih terlalu kaku dan sedikit tercampur ritual, pada prakteknya budaya mengajarkan kita untuk berbuat baik.

Salah satu mitos yang berkembang adalah bahwa seorang gadis tak boleh makan di depan pintu. Konon katanya kebiasaan semacam itu akan membuat jodoh jauh. Awalnya memang terdengar aneh. Tapi kalau dipikir dengan logika, bisa menjadi masuk akal. Bayangkan apabila ada seorang pria ingin bertandang. Bukankah ia akan hilang rasa melihat gadisnya makan di depan pintu. Bukankah pintu masuk terhalang olehnya sehingga pria itu tak bisa masuk. Ada benarnya.

Sampai suatu ketika aku dihadapkan lagi pada mitos. Dan aku tak pernah menemukan hal benar di dalamnya. Aku tak bisa menerima.

Tak ada yang membuat bapakku ragu terhadapmu. Seorang pemuda yang aku kenalkan untuk menjadi calon pendampingku. Seseorang yang bersamanya membuatku mantap melanjutkan cita-cita. Cita-citaku menggapai surgaNya. Tapi cerita tak semudah rasa cinta hanya karena pemuda itu berasal dari tanah Pasundan. Mitos bilang tak bisa.

"Yo kalau bisa yang sama-sama wong Jowo gitu lo?" Bapak masih mendaratkan pandangannya pada selembar koran pagi ini. Lembaran yang terbuka berisi iklan kowongan pekerjaan. Rubrik yang bahkan selama ini selalu dipakai untuk alas gorengan. Bapak tak benar-benar membacanya.

"Kenapa, pak?"

Bapak membalik lembaran korannya setelah sekian lama. Tak berselang satu menit beliau menutupnya kembali. Lalu melepas kacamata yang sedari tadi menggantung di ujung hidung.

"Nduk, kalau dibilangin mbok ya nurut. Bapak mau anaknya seneng. Wes cari yang lain saja," Bapak bangkit dari duduk meninggalkan koran, kacamatanya, dan aku yang penuh tanda tanya. Apa salahnya menikah dengan pria berdarah sunda?

 

 

  • view 66