Aku Payah

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Mei 2017
Aku Payah

 

Sekali lagi kepalaku menggeleng tanpa mau menoleh.

"Run...," langkah kakimu mendekat. Sejurus kemudian kamu sudah berada di depanku. Dan aku seperti tertangkap basah. Aku menangis karenamu meskipun kamu tidak tahu. Sungguh, aku malu.

"Run, kamu nggak papa?" Aku menggeleng lagi. Tapi bibirku bergeming. Karena sudah berusaha bicara, setidaknya bilang nggak papa. Tapi pasti kalah oleh air mata. Aku menggeleng lagi dan lagi. Sebenarnya meyakinkan diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja. Walau sebenarnya aku sudah terlihat kacau. Aku memilih berlalu.

Esoknya kepalaku berat sekali saat bangun. Kupingku terasa pengang. Seolah segala yang terjadi kemarin adalah baru saja. Adit mungkin mau menjelaskan. Tapi apa yang akan dipikirkannya jika aku bertanya dengan mata sembab. Alih-alih menahannya, air mata itu keluar tanpa persetujuan. Berat memang. Tapi aku harus tetap bekerja. Aku tak boleh selemah ini. Akan aku hadapi. Atau aku hindari ia.

***

Suasana ruangan sudah riuh, lagi. Persis seperti kemarin. Tapi kali ini tampak Adit ditengah- tengah mereka. Masih dengan topik kemarin. Aku juga ingin menghujaninya dengan candaan seperti yang lain. Tapi aku belum mampu.

"Pagi semua," sapaku sekenanya dan aku berjalan ke meja untuk segera menghilang di balik bilik. Aku tak ingin dengar apa-apa lagi. Ia memang idola. Selalu jadi buah bibir wanita manapun. Aku sudah biasa mendengarnya. Tapi kali ini lain. Adit yang terkenal dengan kesantunanya berbonceng dengan seorang wanita tak dikenal. Aku tak kenal maksudnya. Baik, mungkin ini terdengar sedikit berlebihan. Di jaman sekarang yang cukup bebas, apa anehnya melihat dua orang berboncengan? Bagiku aneh kalau Adit orangnya. Setahuku ia berbeda, ia sangat menjaga karena itu aku suka. Ah, tidak aku biasa saja.

"Run, masih pagi kali," celetuk salah seorang senior padaku. Membuat langkahku mandek dan terpaksa menoleh pada kerumunan. Aku merasa salah tingkah. Walau yang lain tampak cuek dan tetap menghirau Adit. Aku hanya membalas senyum.

Sesekali mataku tak bisa berbohong lalu menerbangkan pandangan melewati bilik. Aku tak tahan karena berulang kali mereka tertawa dengan tema Adit. Dan ia terdengar menikmati dengan tawanya yang berbaur.

"Nanti boncengan lagi, Dit?" tanya yang lain mengikuti langkah Adit.

"Kerja dululah mbak."

Adit tersenyum ke arahku. Tidak! Mata kami saling beradu. Aku berusaha mengalihkannya. Ini hanya aku yang terlalu percaya diri. Ini senyum biasa. Senyum yang sama saja dengan kata hati-hati kemarin. Aku dengan cepat kembali larut dalam pekerjaan.

Senyummu mengikat segala perasaan, Adit. Aku sudah berusaha untuk ikhlas. Karena aku tahu jodoh tak akan tertukar, tidak pula tersasar. Dan segala yang tak berjodoh tidak akan bersama. Sekeras dan segigih apapun usaha. Tapi selalu ada rasa sakit ketika melupakan perasaanku sendiri. Itu oartinya aku harus melupakanmu. Ingin memastikan dan bertanya apa perasaanmu padaku. Biar hatiku menyerah memelihara perasaan ini. Biar sekali sakit lalu sudah berhenti mencintai. Tapi aku tak seberani itu. Aku selalu berkutat dengan segala duga. Payah.

Satu pesan masuk ke ponsel, membuat mejaku bergetar. Dari Nina, supervisorku. Aku menunduk lesu membacanya. Aku harus terlibat lagi denganmu.

Dilihat 32