Berhati-hatilah Hati

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Mei 2017
Berhati-hatilah Hati

(1)

"Mau kemana?" sorot matamu tertuju ke arahku.

"Aku mau pulang soalnya...," kataku terhenti karna suaraku terdengar tak sendiri.

Resonansinya mengalir bersama dengan suara lain. Dan memang ternyata dari arah yang sama ada seorang gadis yang juga mengenalmu. Apa kamu bertanya pada dia bukan aku? Aku kelimpungan menahan rasa malu. Kalau boleh diulang, aku bisa berlagak tak kenal. Tapi terlambat. Aku terlanjur berkata-kata. Pada akhirnya hanya pikiranku yang bebas berseteru.
"Over confident sih".
"Emang dia cuma kenal kamu?"
"Diiih, malunya salah orang."

Aku berbalik arah mencoba beralih tujuan. Mataku lalu sibuk mencari obyek pengamatan. Seolah sudah lupa apa yang baru saja terjadi. Seolah tadi tidak terjadi apa-apa. Seolah aku sudah menemukan hal lain yang mengalihkan perhatian.Tapi kamu malah mendekat.

"Mau kemana?" suaramu lebih keras dari sebelumnya.

Aku hanya tersenyum menunjuk ke tempat parkir sepeda.

"Pulang? Acaranya kan belum selesai," keningmu berkerut penuh tanya.

Kalau saja aku punya keberanian, ingin kukatakan padamu agar berhenti bertanya. Perasaanku sudah berlompatan ke sana ke mari, kamu tahu? Rasanya ingin kudekap biar ia tenang tak kegirangan.

Tapi aku sekali lagi tersenyum saja tak sanggup berkata. Kamu lalu memainkan ekspresi muka. Menaikkan sebelah alismu tanda masih menanti jawaban.

"Pulang duluan ya, ada urusan," telunjukku menekan tombol lift yang sejak tadi memang sudah menyala, mencoba mengakhiri percakapan kali ini. Sekaligus berharap jadi katalis agar pintu manapun terbuka dan aku bisa hilang dari hadapannya.

"Oh, kalau begitu hati-hati," Ia mengakhiri kalimatnya dan aku segera masuk tak lama setelah pintu lift terbuka.

Lift membawaku turun ke lantai dasar. Tapi hatiku masih di atas tertinggal. Ini kali pertama kamu mengatakan hati-hati. Barangkali aku terlalu terbawa perasaan tapi aku tahu kamu tulus mengucapkan. Seperti aku yang biasanya mengucapkan hati-hati di langkahmu yang tergesa-gesa. Entah kamu dengar atau tidak. Aku lega saja melihat punggungmu. Seolah mendapat jawaban iya dari tas ranselmu yang hitam.

Pintu lift terbuka. Aku keluar dan setetes air mata ikut juga. Ia meluncur menggenang di pipi kanan. Apa? Aku menangis?

Iya, aku tak tahan terus begini. Bukankah 'hati hati' adalah kata biasa kepada seorang teman. Bukankah 'hati-hati' bermakna kasih sayang seorang teman. Seorang teman. Tapi kata 'hati-hati' itu memang pantas untukku. Bukan sebagainteman. Tapi sebagai makhluk yang dosanya bergelimpangan.

Sebuah kata yang diucapkan untuk berpikir lagi apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah kata yang diucapkan untuk memberi peringatan bahwa ada hati yang perlu dijaga. Ada hati yang perlu berhati-hati'. Jangan sampai menempatkan cinta dunia di atas segalanya. Terimakasih, teman. Aku akan lebih berhati-hati.

  • view 52