Perjalanan

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Mei 2017
Perjalanan

Perjalanan. Sejauh apapun kamu menjalaninya. Pasti berbalik ke tempat semula. Selama apapun kamu mengarunginya. Pasti ada saatnya kembali pulang.

Kupandangi bendera kuning yang berkibar di depan rumah. Tiba-tiba cahaya temaram di teras berubah terang benderang. Puluhan kursi plastik sudah berjejer di sepanjang jalan. Tak ada sedikitpun suara kendaraan bermotor berlalu lalang. Berganti suara tahlil yang terdengar pilu.

Isakku tak terbendung. Susul menyusul antara mata yang kanan dn kiri. Hingga pandangku kabur, tak jelas. Lalu kaki menjadi berat untuk melangkah.

Dari jarak tiga meter, aku benar-benar membatu. Seolah meragukan apa yang terjadi. Seolah ingin meyakinkan diri bahwa ini hanya sebuah mimpi. Yang esok ketika terbangun semua akan menjadi baik-baik saja. Tapi aku salah.

Kudapati jasad yang telah kaku. Kudapati di pembaringan, sosok yang selalu berseteru denganku. Kudapati bahwa waktuku sudah terlambat untuk mengucap maaf. Kudapati raga yang sudah tak bernyawa. Tiada. Nenekku sudah tiada.

Tujuh hari sudah tahlil menggema di langit rumah. Setiap kali terdengar, ingatanku pergi ke masa silam. Masa dimana aku yang membutuhkan nenek. Masa dimana nenek satu-satunya orang yang kuandalkan. Masih terdengar suaranya membanggakanku pada nenek tetangga. Lalu sekarang beliau sudah tiada. Sedang aku tak pernah berbuat apa-apa selama hidupnya.

Aku termenung memutar waktu dalam ingatan. Ke belakang ke depan. Hingga kusadari ini tak hanya terjadi pada nenek seorang diri.

Semua. Semua manusia pernah gagah dan jadi yang paling diandalkan. Semua manusia pernah menjadi muda hingga akhirnya menua dan tiada. Atau bahkan sebelum sempat bernama tua, Tuhan sudah memanggil terlebih dulu.

Sempat ada sesalku tak mengirau nenek. Tapi kini masih ada waktu untukku melantunkan doa. Sempat ada tangisku atas kepergian nenek. Tapi kini aku punya waktu untuk meminta surga untuknya. Dan jika sempatku bahkan tak ada. Itu artinya tiba waktuku untuk kembali juga. Aku tak ingin menangis dengan sesal. Aku ingin berakhir dengan kebaikan.

Maka tolong ingatkan aku sahabat bahwa kita sedang di perjalanan. Tolong ingatkan aku pula bahwa seorang pejalan pasti akan pulang. Ingatkan aku bahwa sebaik-baik perjalanan adalah mengisi bekal untuk kehidupan abadi yang sesungguhnya.

 

  • view 62