Jogja, aku pergi

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Februari 2017
Jogja, aku pergi

Suara rel kereta membebat pikiranku yang tercecer di Jogja. Semakin lama jarakku dan Jogja semakin jauh. Seperti jarak antara kamu dan aku.

Awan hitam bergumul memayungi angkasa. Para pengendara mendongak ke langit kota. Berharap tibanya air hujan ke bumi tepat ketika mereka telah tiba. Hingga tak ada pakaian yang perlu diganti karna butiran hujan menyapa.

Tapi langit telah menanggung sedih yang tak terperi. Ditinggal sendiri. Disanjung saat cerah bermentari. Dimaki saat tak sesuai kehendak diri.

Aku mengamati dari jendela kereta yang tak lagi jernih. Aku pernah jadi salah satu dari mereka, para pejuang jalanan. Tapi aku dulu tak serisau kini. Naluri wanitaku merasa tak perlu punya rasa takut lagi. Ketika pria yang memboncengku penuh percaya diri mengucap satu janji.

Aku begitu ingat janji itu. Bahwa dia akan selalu di sisiku. Nyatanya aku telah tertipu. Aku lupa kalau kata-kata itu sangat bisa tak bermakna dengan kepergiannya. Raganya  barangkali masih ada. Tapi hatinya sudah berlalu lama.

Keretaku masih melaju di rel yang sama. Tapi suaranya bersaing dengan derasnya hujan di luar sana. Sekali lagi aku terkenang oleh cerita masa remaja. Ketika aku masih bersamanya.

Aku cekikikan sepanjang jalan mendengarnya bercerita. Menceritakan apa saja yang saat itu entah mengapa jadi hebat terdengar di telinga. Baju kami sudah basah kuyup di siram air hujan. Tapi tak sedikitpun aku merasa menderita. Sekali lagi aku begitu yakin hidupku bahagia dengannya.

Elektron di langit saling bertabrakan. Suaranya menggelegar dengan kilatan. Beberapa penumpang mengucap kalimat baik mengharap perlindungan Tuhan. Sementara aku berdoa semoga ia tak sedang berada di jalan. Semoga ia baik, dan tak ada suatu apapun yang kurang.

Aku mungkin tampak malang. Mengkhawatirkannya, padahal kisahku telah sirna. Namun perasaanku masih mempertahankan rasa sayang. Aku masih merasakannya di tiap kenangan. Tapi dia sebaliknya, telah hilang bersama kenangan.

Pada akhirnya yang aku hanya bisa berdoa. Apapun takdir yang baik untuknya. Sekalipun takdir baik itu tak menuliskan namaku di sisinya. Sungguh, aku tak apa-apa. Aku ingin dia tersenyum selalu agar janjiku membuat ia bahagia tunai tak bersisa. Karna aku tahu rasanya diberi harapan kemudian ditinggalkan.

Jogja, aku pergi.
Aku mohon jaga bahagianya di tempat ini.


Progo, Jogja-19022017

  • view 104