Bukan Sebatang Pohon

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Februari 2017
Bukan Sebatang Pohon

Aku ingin memiliki sebuah pohon di halaman rumah. Berharap kelak rindangnya mampu menyejukkan setiap mata yang memandang. Berharap kelak keberadaanyanya mampu jadi tempat berteduh yang nyaman. Dan suatu hari ketika ia sudah terlalu tua, batangnya yang berkambium mampu bertahan di kehidupan selanjutnya. Tak soal jadi meja, bangku, lemari atau talenan masak saja. Yang terpenting berguna sampai langit berkata, "kami tulis namamu wahai pohon tua."
Ah, alangkah indahnya.

Jika dan hanya jika sekarang aku hanya memiliki satu batang tanaman wortel saja, tak mengapa. Aku akan sangat bahagia. Sebab aku tak tahu pelajaran apa yang tersembunyi di baliknya. Barangkali, satu batang inilah yang akan menjadi catatan bersambung walau raga telah berpisah dari nyawa.

***

Seorang Pangeran Selatan gelisah tak terkira. Pandangannya kabur. Setiap benda yang dilihatnya tercipta menjadi dua. Ia takut kehilangan cinta. Sebab sebentar lagi akan digelar lomba memanah untuk menentukan pendamping sang putri Kerajaan Utara, yang ia damba.
.
Rasa cintanya memang telah tumbuh sejak beberapa masa silam. Kala itu pangeran muda menggambar sosok putri dengan potret punggungnya. Pangeran muda tak mengenal sang putri. Ia hanya mendengar kecerdasannya dan sekali melihatnya dari belakang. Tapi siapa sangka , dari hal sederhana itu ia jatuh cinta.

Lima tahun sejak pandangan pertama diadakanlah sayembara memanah. Sang Raja merasa putinya sudah cukup dewasa untuk memiliki pendamping hidup. Namun Sang Putri hanya berkata, "aku terserah ayah saja, siapa orangnya." Akhirnya sang Raja memutuskan lomba panahan itu sebagai penentunya. Itulah mengapa sang Pangeran Selatan gelisah dengan matanya. Singkat cerita datanglah ia ke sebuah rumah tua di pinggiran kerajaan. Disana hidup seorang nenek tua yang konon punya wortel ajaib. Barangsiapa yang memakan wortel itu, pandangannya akan jernih dan luas seketika.

Tak ragu, pangeran selatan meminta wortel pada nenek itu. Nenek tua itu tak keberatan asal sang pangeran mau memenuhi persyaratan. Sang pemuda langsung setuju melakukan demi mendapatkan putri raja Utara.

Tibalah waktu sayembara itu digelar. Banyak pangeran-pangeran lain yang gagah dan tampan ikut berjuang. Mereka tentu berharap mendapatkan putri Raja Utara yang masyur karna kecerdasannya.

Para peserta bersiap di sisi sebelah utara. Sedang sasaran dipasang sepuluh meter dari tempat mereka berdiri.
"Siapa yang paling tepat anak panahnya, dialah yang akan menikahi putriku,"ujar sang Raja.

Pangeran Selatan tengah berada di kepercayaan diri yang tinggi. Sebab ia sudah berlatih dan kini matanya sudah sehat kembali. Namun ia terhenyak ketika mendapati sasaran yang harus ia panah adalah nenek tua tadi. Nenek yang memberikan wortel ajaib padanya.

Seluruh peserta sudah menarik busurnya dengan anak panah tak terkecuali pangeran selatan. Dalam hatinya dipenuhi keraguan. Ia cinta pada sang putri dan ini satu-satu cara mendapatkannya. Tapi ia tak tega melihat nenek tua itu berdiri terikat di papan sasaran. Apalagi untuk menjadikan sasaran anak panah.

"Pastikan tepat pada jantungnya. Hitungan tiga, lesakkan anak panahmu," teriak sang raja bersemangat.
"Satu, dua dan ti....ga."
Suara anak panah bertabrakan dengan nafas udara. Terdengar panah- panah itu menancap hendak menemui sasaran. Sedangkan panah sang pemuda di arahkannya tepat ke tengah lapang tempat sayembara itu digelar. Ia jelas jelas mengarahkan panahnya pada arah yang tak seharusnya.

Sang pangeran mengusap mata tak tega menyaksikan nenek itu di sasaran. Ia menunduk dengan mata bercucuran.
"Payah sekali kalian semua. Mengapa hanya ada satu yang tepat pada sasaran." Raja itu mengumumkan hasil sayembara.

Sang pangeran semakin lemah dan bertambah deras air matanya. Ia masih menunduk merasa tak kuasa menghadapi dunia. Pemuda mana yang tega mengantarkan anak panahnya ke jantung nenek tua itu pikirnya. Ia berjalan meninggalkan busur dan anak panahnya pergi, meninggalkan tempat itu, meninggalkan kisah cintanya.

"Hei anak muda, hendak kemana kau pergi? Bermain-mainkah kau untuk mendapatkan putriku?" sang Raja berteriak lantang menghalang pemenangnya pergi.

Tapi semua penonton justru memandang ke arahnya. Apa yang dimaksud sang raja adalah dia. Sang pemuda berhenti berjalan kemudian menoleh. Dihapusnya air mata yang menutup pandangan matanya. Kini Raja Utara berjalan menghampirinya.

"A..apa yang sebenarnya terjadi?" pemuda itu mengalihkan pandangannya pada nenek tua. Nenek tua itu sekarang sudah duduk di singgasana tepat di samping putri. Tanpa terluka tanpa sedikitpun goresan anak panah yang tak tepat sasaran.

Sang Raja memeluk sang pangerang. "Hanya engkau yang berhenti egois. Hanya engkau yang membuang kesempatan ini. Lihatlah mereka semua yang berusaha memanah nenek tua itu. Meleset." Pangeran Selatan mengarahkan pandangannya ke arah anak panah pesaingnya. Dan memang terlihat panah itu berusaha tepat sasaran, tapi tak bisa.

Sang pangeran memandang sang raja lekat. "Akupun tak tepat sasaran," tanyanya kebingungan.

"Itulah mengapa kau pemenangnya. Karena aku tahu anak panahmu tak akan tepat sasaran. Karena hatimu tak mau menyakiti nenek tua itu kan? Meski kau harus merelakan kesempatan emasmu untuk mendapatkan putriku. Nenek tua itu benar, memang kau pemuda terbaik yang ada di bumi ini."

"Nenek itu nenek..," sang pemuda gelagapan menyusun tanda tanyanya.

"Nenek itu yang memberimu wortel bukan? Semua pemuda melakukannya, tapi hanya engkau yang menepati janji."
Pemuda itu menangis lagi. Ia teringat syarat nenek tua itu untuk mendapatkan wortel. Nenek itu mengatakan bahwa suatu hari ia akan dihadapkan pada pilihan sulit. Dan memilih dengan kejernihan hati adalah yang harus ia lakukan, itulah syarat pertama dari nenek tua. Syarat yang kedua adalah memastikan pilihan itu tak menyakiti hati orang.

Sang raja menepuk punggungnya, "Selamat wahai pemuda, kau yang berhak menikahi putriku. Lelaki sejati adalah ia yang mampu memenuhi janji. Dan Nenek itu adalah ibu suri kerajaan ini yang sengaja menyamar untuk menguji para pemuda."

Sang Pangeran bersujud di tengah keramaian orang yang melihatnya. Ia bersyukur atas takdir hidupnya. Ia sempat gelisah dengan hidupnya. Tapi ketika ia berpasrah, justru ia mendapat apa yang ia minta. Kini tak hanya pandangan dan hatinya yang jernih. Tapi ia berharap juga hidupnya kelak bersama sang putri yang ia cintai.

 

 

Dilihat 93