Sneakers dan Stiletto

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Februari 2017
Sneakers dan Stiletto

Aku bisa saja berlari mengejarmu. Tapi aku tidak punya alasan cukup untuk melakukannya.
.
Kalau kamu bilang aku tak cinta. Aku tak akan mampu bertahan sejauh ini bila tak cinta. Hanya saja, aku merasa itu bukan alasan yang cukup untuk membersamaimu.
.
Ada satu hal yang berbeda diantara kita. Tentang dua buah garis yang masing-masing telah kita lewati sebelumnya. Sayang, garis itu hanya sejajar. Maka garis sejajar tak akan pernah bertemu, walau terus ditarik ujungnya.
.
Bagaimana maksudku?
Mari duduk sejenak sambil menyesap secangkir teh hangat. Anggap saja aku sebuah koran pagi tertanggal beberapa hari yang lalu. Jika kau tak ingin membacanya, setidaknya ambilah untuk alas gorengan hangat teman teh hangatmu.
.
Suatu masa bertemanlah Stiletto dan Sneakers. Mereka seringkali berbicang berdua. Menceritakan banyak hal dari A hingga Z. Menuturkan ribuan dongeng, kisah negeri utara hingga selatan. Sulit sekali melihat mereka berpisah. Dimana ada Stiletto disitu ada Sneakers. Mereka bagai dua makhluk yang tak terpisah.
.
Suatu hari di negeri mereka, diadakanlah sebuah peringatan hari jadi. Yah, semacam peringatan hari kemerdekaan. Berbagai perlombaan digelar guna memeriahkan acara. Semua bersorak-sorai gembira menyambut acara itu. Tak terkecuali Stiletto dan Sneakers. Mereka bahkan telah menyusun rencana untuk memenangkan kompetisi bersama. Mereka punya keyakinan menang. Tapi untuk ikut pertandingan, yakin itu bukan tiket kemenangan. Terlebih dulu ada aturan yang harus dipenuhi.
.
Panitia lomba menggeleng pada mereka. Bukan! Bukan karna mereka tak layak. Hanya saja lintasan tak menerima peserta lari estafet seorang Stiletto heels. Stiletto menangis tersedu-sedu. Air matanya tumpah seperti tanggul air yang jebol di musim penghujan. Campur aduk dengan peluh yang menggenang di sekujur tubuh. Asal kau tahu, mereka baru saja berlatih lari estafet.
.
Sneakers menghapus air mata kekasihnya. Iya, memang begitulah akhirnya mereka dipanggil. Rasanya sulit bercerita di awal. Tapi cinta yang kata orang buta agaknya benar bagi mereka.
.
Mereka menawar pada panitia. Barangkali permintaan yang tulus akan memgampuni syarat buatan makhluk. Maka berhasilah mereka mendapat nomor peserta.
.
Sneakers tampak bahagia meski sejujurnya khawatir keadaan kekasihnya. Sebaliknya Stiletto heels meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja bahkan ia akan terluka jika membuat Sneakers kecewa. Ah, cinta macam apa yang mementingkan bahagia kekasih di atas rasa segalanya. Kisah sempurna? Seperti ini kelanjutannya.
.
Mereka telah bersiap di lintasan. Disusunlah strategi bahwa yang akan lebih dulu berlari adalah Stiletto. Salah satu alasannya, Sneakers ingin sekali merobek pita penghalang garis finis dan mempersembahkannya untuk Stiletto. Cita-cita yang manis.
.
Peluit telah ditiup. Sneakers berharap cemas menanti Stiletto di hadapan matanya. Sedang Stiletto tengah berjuang menyibak lintasan yang tak nyaman pada dirinya. Stiletto menahan sakit tapi ia ingin membuat Sneakers bahagia. Namun sayang pada separuh jalan heels-nya patah terpelanting bersama tongkat estafet yang ia bawa.
.
Stiletto berusaha bangkit menyusul pesaingnya. Padahal untuk bangkit saja ia tak bisa. Heels itu kecantikannya. Sebagian dari hidupnya.
.
Waktu telah menentukan perobek pita di ujung garis. Maka peraih medali telah terpilih.
.
Sneakers tak kuasa membendung tangis yang menggelembung. Ia hampiri sang kekasih yang kini tergolek tak berdaya tanpa heels-nya. Ia bukan saja terlalu ambisius berusaha memenangkan pertandingan. Tapi ia seorang egois yang berani mengorbankan kekasih masa depan.
.
Tunggu, masa depan mana yang ia impikan? Tanpa heels, Stiletto tak lagi sama dengan masa silam. Ia bukan keindahan yang dulu Sneakers sanjung dan kenang. Dan tak ada lagi, lari estafet lain yang mungkin dimenangkan bersama. Karena mereka berbeda.
.
Itulah alasanku tak mengejar. Barangkali di matamu, akulah orang jahat yang tak mau memperjuangkan masa depan. Tapi sungguh, aku tak mau menjadi lebih jahat karna membiarkanmu terluka.
.
Kita bisa saja melewati garis makhluk seperti Sneakers dan Stiletto. Tapi kita tak akan mampu melewati garis Pencipta makhluk dan alam semesta. Tak bisa. Maaf, kita berbeda.

  • view 88