Pas Dengan Kamu

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Januari 2017
Pas Dengan Kamu

"aku cuma rindu, itu saja"

pas dengan cerita hidup kamu?

Di atas adalah sebuah potongan lirik lagu. Sebuah lagu yang menceritakan kegetiran kisah cinta hingga akhirnya hanya bisa rindu. Duh dek, begitu kata kawan-kawan di kantor. Lengkapnya sila dicari di internet.

Bernyanyi bagiku secara pribadi sangat menyenangkan. Memang syahdu ketika kecewa lalu bernyanyi sepuasnya. Seperti ada hal yang mewakili perasaan lewat lirik-lirik dan irama. Anehnya hampir setiap bagian lagu terasa pas di jiwa. Contohnya seperti potongan lirik lagu di atas. Lantas, apa iya lirik itu mewakili perasaan kita?

Sepertinya tidak. Aku merasa punya kecenderungan yang tidak baik. Otakku berusaha memanggil file-file masa lalu ketika mendengar lagu. Kemudian ia mencoba mencocokkan roman-romannya dengan lagu. Gawatnya ia patuh. Jadilah lagu galau versi apa saja bisa berpasangan dengan cerita silam. "Lagunya gue banget," begitu jadinya.

Awalnya aku merasa bahwa cerita semacam itu mungkin banyak dialami orang. Sehingga para seniman yang mencipta lagu bisa mewakili perasaan khalayak ramai.

Namun ternyata otak yang disiplin ini mengkomandokan anggota tubuh lain sesuai asupan. Pendeknya, apa yang kita makan. Itu juga yang menyusun tubuh kita.

Makanannya lagu berlirik kesedihan. Maka yang galau makin galau.Yang patah hati makin remuk kepingannya.

Trus kalau hatinya galau gimana?
Ya, ditanyain obatnya sama Pencipta Hati. Kalau sama lagu galau, sama manusia hasilnya sama. Sama-sama nggak tau.

Kembali pada petunjuk Sang Pencipta Hati. Karena kesulitan, dijawab dengan sebuah ayat yang mengatakan bahwa bersamanya ada kemudahan.

Karena kemarahan , diberikan solusi dan pengingat bahwasanya Allah bersama orang-orang sabar.

Karena kegalauan, disediakan tempat bahwasanya Allah tempat menggantungkan harapan.

Hanya saja kita sering sok 'iya' menjalani hidup di dunia. Mengaku galau yang dituju malah lirik lagu penambah lara. Mengaku rindu tapi yang dibuka social media berjuluk 'mantanku'. Mengaku sedih, tapi yang didengar irama irama perih.

Maka memulai kebaikan tidak ada kata terlambat. Mengganti lagu duniawi dengan ayat-ayat surgawi. Mengubah lagu sendu ke ayat ayat Al Qur'an yang merdu.

Katakanlah kita tak langsung memahami karna berbahasa Arab. Tapi setidaknya kita mengubah kesian jadi ganjaran. Mengubah kecenderungan dari galau menjadi ingat Tuhan.

 

 

  • view 101