Ragil untuk Pratama

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Januari 2017
Ragil untuk Pratama

Apa aku menyerah ketika berusaha pergi darimu?

Ribuan detik telah kita bunuh dengan kesiaan. Tanpa bekas apapun kecuali dosa dan luka. Kau tahu kan saat itu aku bahagia. Bahkan aku pernah berkata tak dapat melewati hidup tanpa sosokmu yang tercinta.

Aku baru sadar kalau selama ini aku terlalu 'sok tau'. Bagaimana tidak? jauh-jauh sekali sebelum jumpa kita pertama. Aku hidup melanglang sendiri saja. Melewati badai, menepis hujan juga mencipta pelangi dengan berbagai warna. Iya, tanpa seorangpun yang setiap pagi mengirim pesan.

"Kamu menyerah begitu saja?" matamu menatapku nanar. Seolah daun berembun tanpa sapuan surya. Kini memerah pada bola matamu yang putih. Menggempur tembok yang baru aku bangun kemarin lusa. Aku menggeleng. Sekali menggeleng tak setuju dengan apa yang kau kata.

"Lalu?" Setitik air mata meluncur ke pipi kananmu. Tak biasa, kau biarkan ia menganak di sana. Aku membaca ada sedikit mau yang tak kau ubah menjadi kata. Hingga hanya terwakilkan beberapa mili air mata.

Aku menggeleng lagi sementara neuron di otakku masih membuat jalan untuk lewatnya aksara.

"Ragil, apa kamu menyerah begitu saja?" tanganmu berusaha meraih tanganku. Tapi aku lebih cepat memperluas jaraknya. Kini jariku berpindah dari tengah ke pinggir meja. Dekat sekali dengan dada. Denyutannyya sampai menggertarkan tanganku. Bersama pesan -pesan yang Bapak wejangkan. Aku tentu kuat bahkan lebih dari sebelumnya.

Kali ini kamu menggeleng. Tanganmu saling meremas dengan sedikit kasar. Oh, tidak. Bukankah kau bilang tak bisa menyakiti wanita? Tapi untuk kepalanmu beriring dengan rahang yang mengeras, apa artinya? Kau akan marah?

"Haaaaaa!" tanganmu meninju ke udara hampa. Membuyar lamunanku yang berkelebat bak sinetron pukul delapan malam. Lalu anak sungai yang kau buat tadi menderas alirannya. Aksaraku buyar, berlarian kembali ke tempatnya. Dan tanganku semakin mundur ke dada dengan getaran seperti orang tremor saja.

"Maaf," akhirnya bibirku menghempaskan empat huruf yang selalu hadir di akhir perdebatan kita. Aku ikut mereka sungai-sungai kecil di bawah mata. Kali ini ceritanya tak boleh sama.

"Apa kamu menyerah dengan hubungan kita begitu saja?" kamu menyisirkan jari-jari ke kepala. Lalu menyeka tanganmu di atas permukaan pipi dengan cepatnya.

Bibirku kelu. Sungguh sulit sekali meramut kata yang tepat. Bukan kata yang tepat, tapi kata yang aku mau dan kamu  bisa terima.

"Apa aku menyerah ketika berusaha melupakanmu?" tanganku saling mencekeram. Harap-harap cemas melewati detik reaksimu.

"Iya." matamu mengarah padaku. Menerbitkan matahari dengan sinarnya yang menyengat. Melukai epidermis kulitku.

Aku menggeleng. Aku menggumam tidak. Karna aku baru saja percaya lebih kuat bahwa aku tidak menyerah.

"Lalu?" kau masih memintaku mengulangnya. Pernyataanku untuk menyudahi kisah terlarang kita. Baik. Kalau kamu ingin mendengarnya sekali lagi.

"Aku mencintaimu dulu. Dan sampai sekarang sungguh masih ada cinta itu. Dan keegoisanku berteriak bahwa kamu harus ada di sisiku. Bapak bilang aku tak boleh begitu. Karna bila aku terus denganmu itu artinya akulah orang yang paling jahat padamu di dunia." Aku menghela napas yang hembusannya terdengar seperti kerbau melepas udara.

"Tidak seperti itu," kamu menggeleng tak mau percaya. Tapi kamu menunggu aku melanjutkannya.

"Bagaimana bisa aku mengaku cinta tapi terus membuatkan lorong ke neraka?" Aku berusaha menyeretmu ke masa itu. Aku dan kamu yang tak pernah bersedia menamai hubungan kita sebagai pacaran. Berpura-pura jadi pasangan pra halal yang sempurna dengan ikut kajian agama."Banyak manfaat daripada masalahnya kan?" kilahku waktu itu.

Ternyata tujuan kita mendapat dukungan dari semesta. Kita harus benar-benar sempurna menjalankan hidup kita. Memang mustahil, tapi setidaknya kita harus berusaha,Tama.

"Kamu menyerah karna bapakmu melarang hubungan kita kan?" rahangmu mengeras tapi punggungmu berusaha mendekat dengan sandaran kursi. Aku tahu kamu sebenarnya paham. Emosi tak pernah menunjukkan jalan.

"Tama, aku tidak pernah menyerah. Karna bukan hanya Bapakku yang melarang. Tapi Tuhan juga, karna Ia sayang." Aku tak sanggup mengehentikan getaran itu hingga ke pita suara. Tampaknya sendang di mataku masuk ke musim penghujan yang agung airnya.

"Tama, kita sekarang tak boleh bersama. Karna semua hanya memperlebar jalan kita ke tempat terburuk di semesta. Jika perasaanmu masih sama, mari kita berpisah sejenak karna-Nya. Katamu kau akan berusaha membuatku bahagia. Dan ini caraku membalasnya. Jadi,"

"Jadi apa kamu sudah tidak cinta? Aku cinta kamu Ragil," katamu menebas begitu saja.

Kau tahu aku sangat perih sekarang. Tapi kita bisa, Tama. Hati kita memang terlanjur terpaut satu dengan yang lainnya. Tapi aku yakin Tuhan telah melengkapi semua fitrah kita dengan jalan baiknya.

"Aku tak perlu menggaungkan perasaan yang aku punya. Tama, jika esok suatu hari nama kita tertakdir bersama. Sejauh apapun aku pergi, kaulah yang duduk di sampingku selama perjalanannya."

Aku berdiri meninggalkanmu. Bersama meja yang mungkin saja sudah asin karena air mata kita berdua. Telingaku sayup mendengar tangismu yang bertabrakan dengan suara mahasiswa lain di lapangan basket sana. Tapi aku telah memutuskan pergi dari sini. Tempat pertama yang merubah aku dan kamu menjadi kita. Taman utara lapangan basket kampus kita. Di sana juga nampak masjid. Kita bertemu di sana saja Tama. Ekor mataku melirik kubah emas di atas masjid.

Tama, aku tahu kamu masih punya mimpi melanjutkan S2. Pun dengan orang tuamu yang sangat menginginkannya. Besok hari wisuda kita. Dan barangkali besok adalah waktu yang tepat untuk mewisuda rasa cinta kita yang berubah buruk rupa.

Tama, kau yang membawaku duduk di Masjid itu mendengar setiap firman Tuhan. Wanita baik untuk laki-laki baik. Wanita pezina untuk laki-laki pezina.

Aku memang buruk dalam memghafal. Hanya itu yang mampu aku rekam. Aku mau bersatunya kita sebagai insan yang baik, Tama. Karna kamu orang baik. Aku tak mau merubahnya.

***

"Tama, ayo cepat sedikit pakai bajunya. Mobil udah siap," suara Bapak lantang mengingatkanku. Sungguh, debaran jantungku seperti bunyi bedug di malam Idul Adha. Kencang sekali. Apa kau juga merasakannya?

Sepanjang perjalanan menuju kampus aku berkeringat. Kali ini tidak untuk kuliah, tapi untuk mengucap janji setia di Masjid kampus kita tercinta. Mamah sigap dengan sekotak tisu unruk melap cucuran keringatku. Kata beliau, jangan sampai melati yang mengalung di dadaku berganti harumnya dengan peluh.

Dan juga jas yang aku kenakan ini, kata Bapak harus awet setidaknya supaya bisa dipakai tak hanya sampai pernikahanku saja. Dwi, adikku harus pakai ini juga. "Rasakan kau boy, jas tua ini. Belajar yang baik dan cepatlah mentas dari semester lima supaya kau bisa menikah juga," Dwi melirikku dengan seringai.

Sampai di aula Masjid aku tak melihatnya. Ia disembunyikan di balik hijab sebelum akad tiba. Duh,bagaimana ya dia sekarang? 

Langit berguncang luar biasa. Ketika seorang anak manusia berani meminta tanggung jawab dari Bapak gadis yang dicintainya.

Ia keluar dipapah oleh dua orang saudaranya. Dia tidak sedang sakit. Tapi janjiku membuat tubuhnya ringkih menahan bahagia. Dan ia lebih cantik dari hari apapun saat dulu bersama.

Rasa rindu yang selama ini berada di langit doa, kini luruh menghujani kami dengan kesejukan dunia.

Ragil, maafkan aku yang dulu egois hingga tak mau lepas darimu. Aku tahu saat di kajian itu kau mendengar pria baik hanya untuk wanita yang baik pula. Maka aku berjuang membuktikannya bahwa itu kita. Tentu saja jika kita sama-sama berusaha.

Sekarang sang master ceremony yang tak lain adalah pamanmu menyuruh kita berpegangan. Ragil, tanganmu terlihat bergetar. Tapi kali ini kau benar- benar menyerah tak bergeming sampai jariku menelusup di tanganmu. Sudah jangan dingin, aku akan menghangatkanmu.

"Aku mencintaimu karena Allah, Ragil." Kamu memejamkan mata dan bibirku mendarat di keningmu dengan sempurna. Kau Ragil untuk Pratama.

  • view 111