Mencari dengan Perasaan

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Desember 2016
Mencari dengan Perasaan

Angin sepoi-sepoi di pinggir jalan mengibarkan kerudungku. Tanganku berusaha menjangkaunya turun agar tak tersibak. Sembari membetulkan rambut-rambut muda yang nakal mengintip dari balik ciput hitam. Mataku masih fokus ke arah seberang. Menanti ia  yang katanya akan datang.

Lima menit waktu menjelang makan siang. Perutku agak keroncongan. Ia mulai mengetuk dinding tanda tak sabaran. Aku menatap ke arahnya berharap ia diam. Namun suara perutku seperti disuruh menyaringkan.

Angin perlahan mulai menhembus agak tajam. Membawa guguran daun coklat yang berjatuhan, melewatiku kakiku yang mulai kesemutan. Ah, aku belum cukup tua untuk merasa kaki berdenyutan. Sepertinya salahku yang kurang bergizi memilih makanan.

Pukul duabelas lebih empat puluh menit. Peluhku mulai bercucuran, mengaliri epidermis kulit. Udara semakin panas menggigit. Ditambah lalu lintas kendaraan berknalpot yang berdecit. Kombinasi sempurna untuk penantian yang mulai sulit.

Aku merogoh dan memasukkan ponsel berulangkali. Memastikan ia tak mengirim pesan untuk membatalkan pertemuan ini. Entah sudah berapa penantian aku berdiri. Tapi aku selalu menyanggupi dengan hasil sama setiap kali.

Ia tak datang lagi.

Esoknya aku tak mau menunggu lagi. Kuputuskan untuk larut dalam tumpukan bukun seharian. Pikiranku berhenti padanya. Tapi perasaaanku masih sama. Cinta.

Tiba-tiba ia datang menghampiriku dengan secangkir teh di tangan. Ia tersenyum. Akupun membalasnya.

***

Adakalanya ide tak perlu dinantikan. Apalagi memaksa otak bekerja keras memikirkan.  Cukup libatkan hati dan perasaan. Maka ia akan datang seperti senyuman. Manis dan membingungkan. Ah, siapa dia?

 

 

  • view 208