Kemudian

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Desember 2016
Kemudian

Aku menunduk khidmat memandangi layar ponsel yang berkedip. "Jangan dia, jangan dia," rapalku lirih bersamaan dengan peluh yang berjatuhan. Tapi tanganku bergerak lambat menyentuh tombol nyala. Pada layar terbaca namanya dengan dua pesan yang telah kutunda sepuluh menit sejak pengirimannya.

Aku meletakkan kepalaku miring di atas meja. Berkelebat pesan-pesan yang sudah kubalas sebelumnya. Semakin lama bukan ketenangan yang mampir ke dada. Tapi pikiran liar menjalar ke sebuah alam yang tak terjamah letaknya. "Bagaimana aku membalas pesannya?" aku mengetukkan kepalan tanganku ke atas kepala. Pelan tapi cukup sakit benturannya.

Aku sudah makan bangku sekolah 12 tahun lamanya. Ditambah 2 tahun berseragam di taman kanak-kanak. Sekarang juga sedang berjuang meraih gelar sarjana. Apa aku harus menunggu wisuda untuk memilih kata yang tepat untuk balasan pesan yang kubaca?

"Ka, udah sih nggak usah dipikir lagi tugasnya. Masih ada dua hari buat diskusi," Sesil mengurut punggungku dengan ujung stabilo miliknya. Ia terus melakukannya dan sesekali menggumamkan agak keras buku yang ia baca.

Aku lalu menoleh padanya. Tapi ia hanya menaikkan kedua alisnya mewakili tanya. Aku menggeleng pelan lalu menjatuhkan kepala lagi ke atas meja. "Sejak kapan sih, Ulka pesimis?" kali ini ia meletakkan buku dan stabilonya bersandingan. Kepalanya ikut diletakkan ke meja menghadap wajahku. "Bukan tugas ya? Ada apa?"

Aku merogoh ponsel ke dalam saku celana. Tanpa merubah posisi, aku meletakkan layar ponsel memunggui mukaku. Sesil mengangkat kepalanya cepat dan meraih ponsel dari tanganku. "Dia menghubungimu?" suaranya berubah nyaring dan penuh tekanan. Seketika mataku terpejam berharap itu meredam nada suara Sesil yang membesar.


"Dia menghubungimu?" kali ini suara Sesil sangat lirih dengan memiringkan kepalanya ke arahku. Aku menggigit bagian bawah bibirku mengiyakan pertanyaanya.

Sesil dengan cepat menggeser percakapanku dan dia dengan mata awas. Sepertinya ia terkejut karna berulangkali tangannya menutup mulut yang menganga.

Ia menoleh ke arahku seperti pistol yang siap ditarik pelatuknya. "Kenapa bisa? Sejak kapan? Kau mau jawab apa? Kenapa tidak cerita dari awal?Ah, kau ini!" tangan Sesil menggaruk rambutnya yang tertutup hijab sempurna. Lalu meletakkan kembali ponselku ke meja.

Aku memasang wajah memelas berharap ia memberikan sebuah jalan. Tapi ia diam bahkan melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyenderkan punggung.

"Gimana?" tanyaku sangat hati-hati. Sesilpun mulai membuka mulut. Sementara telingaku bersiap menyerap kalimatnya.

Dia menghembuskan nafas dengan berat, "pertama, ini sudah berjalan cukup lama, tanpa kau bercerita." Matanya menyeringai seolah jaksa yang mengajukan pertanyaan pada terdakwa.

Aku menunduk dan menyodorkan ponselku kembali sehingga lebih dekat ke sisinya. Sesil tak mau menyentuh, ia terus mengeratkan lipatan tangan di dadanya seolah membuat pertahanan.

"Kedua, dari pesan dan ekspresimu sekarang, jelas hatimu sangat menaruh harapan padanya," Sesil mendekat badannya ke arahku.

"Jadi aku harus ba.....?" lidahku kelu tanpa bisa melanjutkan tanya.

Bola mata hitam Sesil menggantung agak lama. Lalu kemudian tangannya mengaduk tas ransel warna biru miliknya. "Alhamdulillah aku salah bawa. Ternyata ini maksudnya," Sesil manggut-manggut mengacungkan sebuah buku yang bersampul biru muda. Seperti telah memahami sesuatu, ia tersenyum memandang sampulnya. Sesil lalu menumpuk ponselku dengan buku yang ia keluarkan.

Aku bingung dan sulit mencerna tindakan Sesil. Atau jangan-jangan orang yang jatuh cinta selalu menjadi bodoh tiba-tiba?

Aku terus mengamati sampulnya. Jelas sekalipun menjadi bodoh aku tak kehilangan kemampuan membaca.

"Se, ini 'udah putusin aja'. Aku mulai aja belum gimana putusnya?" Aku membalik-balik buku itu kehadapan Sesil. Berharap ia menyadari judul buku yang diberikannya.

Sesil malah berdiri mengemasi buku yang sedari tadi ia baca beserta stabilo merah muda. "Ini namanya tindakan pencegahan. Kamu bilang 'mulai aja belum' , seolah kamu bakal melakukan. Baca aja sampai habis sebelum kamu balas pesan Harfa."

Aku diam. Kali ini bahkan bingung akan berkata apa. Satu yang aku pikir semoga saja manusia yang tersisa di kelas tidak mendengar kata terakhir yang diucapkan Sesil. Aku menoleh pada sekumpulan mahasiswa yang masih tersisa. Mereka tekun di depan layar laptop. Semoga saja mereka tidak mendengar. Atau setidaknya mereka tak menghiraukan ucapan Sesil tadi.

***

Hari ini aku bertemu Sesil setelah dua hari tanpa jadwal kuliah. Praktis dua hari pula aku tak bertemu dengannya juga kak Harfa pemilik pesan yang memusingkan. Juga artinya dua hari pula pesan kak Harfa belum kujawab. Dan sekarang setelah melahap buku biru pinjaman Sesil, aku merasa telah menemukan jawaban cocok untuk pesan Kak Harfa.

"Sesil!" aku melambaikan tangan padanya yang berjalan ke arahku.

"Gimana udah selesai baca?" tanyanya santai lalu duduk di bangku taman kecil tak jauh dari aku berdiri. Aku mengikutinya lalu ikut duduk bersanding dan menunjukkan layar ponselku padanya. Ia tersenyum teduh memelukku.

"Sudah kubilang kau harus selesai baca. Baru membalasnya," tangannya menepuk pundakku pelan. Aku mencengkeram pelan punggungnya. Kemudian jariku ringan mengetuk tombol kirim, dan jawaban pesan kak Harfa bahkan telah dibaca penerimanya.

"Assalamu'alaikum kak Harfa. Ulka minta maaf karna membalas pesan ini sangat lama. Memang cinta itu butuh pembuktian. Tepat sekali seperti yang kak Harfa katakan sebelumnya. Ulka senang karna kak Harfa mau berbagi waktu untuk sekedar bertanya apakah Ulka sudah makan. Lalu ketika Kak Harfa bilang sayang dan ingin lebih dari teman, Ulka kebingungan. Tapi sekarang Ulka sudah punya jawaban sekaligus pembuktian. Ulka dan kak Harfa akan sangat baik untuk belajar cinta dulu pada Yang Maha Pengertian. Ulka ingin membuktikan bahwa cinta harus berjalan di jalan kebenaran. Semoga kak Harfa mengerti apa yang Ulka putuskan. Sampai jumpa jika memang nama kita ada di tempat yang sama. Selamat tinggal jika memang takdir tak menyatukan nama kita. Terimakasih kak Harfa."

Aku melepas pelukan Sesil karna telah membanjiri punggungnya dengan peluh dan air mata. Aku mengaduk-aduk tas untuk menemukan tisu. Tapi dengan cepat, Sesil mengulurkan sapu tangan miliknya.

Air mataku ternyata tak terbendung meski diseka. Tapi kedua sudut bibirku entah mengapa mengembang sempurna. Seolah ada batu besar yang berhasil aku hancurkan dalam dada. Iya, meski tanganku berdarah untuk memecahkannya. Tapi aku melihat jalan panjang yang indah penuh bunga di balik bongkahannya.

"Kamu menyesal?" Sesil meraih kedua tanganku dan menggenggamnya. Aku menggeleng belum bisa berkata.
"Kamu nggak marah kan padaku?" nadanya pelan dan matanya menerawang melewati pandangan mataku yang terhalang air mata. Aku hanya bisa menggeleng lalu sekali lagi memeluknya. Aku merasa lega, kau tahu?

***

Aku Ulka, gadis biasa yang sedang jatuh cinta. Cerita klasik berawal dari pertemuan dengan seorang pemuda. Sudah sejak lama saat seorang itu menyapaku dengan ramahnya. "Ada yang bisa dibantu, Dek?". Lalu aku jatuh cinta, dengan mudahnya.

Mungkin ia tak mengingat aku, karna begitu banyak gadis di sana. Tapi aku mengamatinya sampai seseorang memanggil nama Harfa. Iya, namanya Harfa.

Waktu itu bukan hari pertamaku sebagai mahasiswa. Tapi saat itu aku baru saja naik ke kelas tiga. Aku mulai sering menyambangi kampus yang aku harap bisa belajar di sana. Aku datang untuk sekedar melihat-lihat kegiatannya. Sesekali bertanya pada beberapa mahasiswa, jika aku penasaran akan suatu apa. Tujuan semula adalah untuk memotivasi diriku sendiri belajar lebih keras. Nyatanya aku dapat motivasi dan ras cinta.

Mimpi memang minta digaungkan dengan usaha. Setelah berusaha aku lulus dan diterima di sana. Aku senang tidak terkira. Apalagi mendapati kenyataan bahwa aku bisa berkuliah di kampus yang sama dengan kak Harfa. Seseorang yang diam-diam aku suka.

Semester demi semester berlalu begitu cepatnya. Aku bagai kancil yang mengendap-endap di kebun pak tani, memasang kuda-kuda. Berharap pak tani lengah dan aku mencuri timunnya.

Aku sering lewat di depan kelas kakak tingkat. Mencuri pandang wajah kak Harfa dan menelan senyum manisnya. Serasa obat untuk dahaga.

Kak Harfa baik dan peduli sesama, lalu aku semakin suka setiap harinya. Tapi aku selalu diam karena tak mampu berkata. Aku pikir cinta itu harus pria dulu yang mengungkapkannya.

Aku hanya mampu bercerita pada Sesil, teman terbaikku di kampus. Dan Sesil sependapat untuk keputusanku yang diam tak mengungkapknnya. Tapi ia punya alasan yang berbeda. 'Kalau cinta tak seharusnya diselesaikan dengan cara yang tidak sempurna' begitu katanya. Aku tak mau ambil pusing yang terpenting aku tetap cinta pada Kak Harfa.

Hingga suatu hari, aku terlibat dalam acara bakti sosial dengan kak Harfa. Anehnya, setelah kegiatan ia masih sering mengirim pesan padaku. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Aku bisa kehilangan rasa kantuk dan bangun dengan cepat untuk memastikan tak terlambat membalas pesan kak Harfa. Aku berkhayal seandainya aku memiliki kak Harfa. Seperti teman-teman kampusku yang bergandeng tangan mesra dengan kekasihnya. Memiliki seseorang yang perhatian luar biasa. Namun hayalanku terhenti ketika sebuah pesan masuk yang isinya berbeda.
"Ulka, aku mulai sayang dan cinta. Aku gak mau berteman. Boleh kita berpacaran saja?"

Jariku mendadak bergetar dibuatnya. Aliran darah ke otakku serasa melambat sampai ke sana. Dan ini menjadi lebih susah dijawab dari soal manapun yang pernah kudapat. Aku tak pernah siap, kalau ternyata khayalanku jadi nyata.

Saat semua mimpi tinggal selangkah saja. Aku justru tak bisa berkata 'iya'. Aku malah memikirkan apakah aku bisa menjalaninya. Aku bertanya pada Sesil, tapi ia justru meninggalkanku dengan sebuah buku. Aku bahkan tidak pernah minat membacanya, 'Udah putusin aja' karya Ustadz Felix Siauw. Bagaimana bisa aku membaca ini sedang aku tak pernah memulai ikatan apa.

Anehnya, aku menurut saran Sesil untuk membacanya hingga tuntas. Aku tertegun di sebuah halaman dengan beberapa kalimat yang menyita renungan.

"Tak selamanya mencintai itu memiliki, terkadang cinta harus melepas pergi. Jauhkan yang dicintai dari api, dekatkan ia pada cinta illahi.
Tak selamnaya mencintai harus berpegangan tangan. Ia hanya mengumbar nafsu setan, menopeng cinta dengan kemaksiatan."

Aku tertunduk. Apa yang selama ini aku harapkan? Kemaksiatan? Aku mencintai dalam diam. Tapi berharap dengan cinta yang melenakan. Pipiku tiba-tiba basah tak tertahan. "Aku tak boleh begini!" teriakku dalam hati.

Maka sebuah pesan aku tulis sebagai jawaban. Hari itu pertemuan dengan Sesil menjadi penguatku untuk segera mengirimkan. Aku menolaknya. Bukan! Ini caraku menghormatinya. Aku tak mau, Ulka dan Kak Harfa yang bergandeng mesra tanpa ridhonya. Aku tak mau pada akhirnya Ulka dan Kak Harfa ke neraka, bersama apa yang disebut sayang juga cinta.

Aku berdoa semoga kelak cintaku selalu karena-Nya. Dipertemukan dengan cara yang disukai-Nya. Dipalingkan pula jika memang bukan cinta yang sesungguhnya. Urusan jalan cerita, biar Allah yang mengatur semua. Yang terpenting usaha dan doa percaya. Kalau bukan Kak Harfa, jadi memang bukan Kak Harfa jodohnya.

"Ya Allah, maafkan Ulka yang sering lupa. Allah, tolong lindungi Ulka dan semua pemuda dari dosa zina dan apa-apa yang mendekatinya."

Kemudian, aku bersiap menjadi Ulka yang berbeda. Ulka yang berjuang agar jauh dari cinta sementara. Lalu menjadi Ulka yang benar-benar cinta karena Sang Pemilik Cinta.

  • view 157