Bau Tanah Basah

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Desember 2016
Bau Tanah Basah

Rinai hujan di siang menuju senja. Tak ada yang istimewa selain doa mujarab saat rintiknya bekerja.

Rinai hujan membasahi aspal dan pengguna jalannya . Juga gedung-gedung pencakar langit yang terbuat dari bata.

Rinai hujan menjatuhi taman kota. Mengabarkan rindu yang teramat lama. Ketika dulu, si pria berdasi penghuni gedung itu masih muda. Ia adalah seorang anak yang suka bergurau dengannya. Di pelataran rumah dan kebun mini milik orang tua. Asik menari sampai bau tanah basah menguar di udara.

Rinai hujan hanya punya tempat di sana. Untuk sebuah masa lalu yang barangkali tak akan pernah ada. Untuk sebuah obat penawar luka. Bersua tanah kering mencipta aroma berbeda. Jadilah bau tanah basah dan kekhasannya.

Rinai hujan kembali bermuara. Setelah menelusup diantara paving dan semen juga aspal tentunya. Melewati got dan gorong-gorong hingga sampai ke sebuah sungai berwarna coklat tua.

Rinai hujan selesai di sana. Meski datang berulang kali, ia tak mampu mengulang masa. Rinai hujan dan tanah tak pernah lagi berkarya. Lalu rindu bau tanah basah agaknya menjadi batas. Kisah masa muda dan masa tua pria berdasi akan tak sama. Bau tanah basah tak lagi ada.

Rinai hujan tak kapok juga. Kali ini ia membisikkan rintik ke telinga manusia. Tentang 'ingin' yang dipercaya terkabul di tengah hujan yang bersuara. Ia titip doa agar suatu hari ia bisa datang dan meninggalkan bau tanah basah di seluruh penjuru kota. Tak hanya di taman saja. 

Semoga saja, suatu masa.

 

  • view 130