Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 22 Desember 2016   22:58 WIB
Suara dari Surga

"Wes maem sek."
(sudah makan dulu)
"Topine digoleki dicepakne nggo Senen."
(segera cari topi, disiapkan buat hari Senin)
"Adus kono wes sore."
(sana mandi, udah sore)

Pernah dapat komentar serupa saat sedang asyik-asyiknya bermain?

Aku dulu termasuk anak yang sering mendengar suara-sumbang semacam itu. Perasaan yang dongkol, panas, malas, kesal, gregetan dan hal serupa lainnya menumpuk jadi satu.

Dunia anak memang bermain. Tapi nyatanya orang tua sering kali mengarahkan atau lebih tepatnya memaksa sang anak untuk berbuat lebih.

Reaksi anak bermacam-macam. Pertama, ada yang menolak terang-terangan, kedua bisa jadi merayu minta diundur waktunya, ketiga ada yang mengiyakan tapi dalam hati berkata sebaliknya. Meskipun ada juga anak yang menurut tanpa embel-embel suatu apa.

Kalau aku masuk yang ketiga. Karena sudah pernah coba yang kedua dan gagal sempurna.

Suatu ketika aku bermain hingga waktu maghrib hampir tiba. "Ndang iyam nduk," suara sumbang mulai menggema.Tapi aku yang nakal meminta untuk diundur deadline-nya.

Sampai matahari hilang bersama awan, aku tak berpindah dari tempat bermain semula. Alhasil, aku dipaksa mandi dengan sapu lidi sebagai senjata. Aku berusaha menghindar dengan berlari mengelilingi rumah tetangga. Nyatanya, lawan tanding lebih siap dengan rencana kedua.

Aku merasa di atas angin. Sampai menyadari kalau ternyata yang mengejarku berjumlah dua bersenjata sama, dari dua arah yang berbeda. Tertangkaplah aku, ditambah guyuran air sebagai hukuman mandi yang ditunda.

Aku yang waktu itu kanak-kanak kesal sekali. Rusaknya acara bermain ditambah dengan suara sumbang yang menghantui. Lalu timbulah tekad untuk segera tumbuh dewasa. Biar diri bisa berbuat sekenanya.

Si dewasa justru ingin mengulang kembali masa yang lama. Karna dewasa, tak cukup hanya dari usia. Dewasa adalah tanggung jawab setelah manusia masuk usianya. Ketika tak ada lagi persembunyian di balik sosok suara sumbang di masa sebelumnya.

Menjadi dewasa lalu mengubah indra menjadi lebih peka. Kesadaran akan sura sumbang yang sesungguhnya bermuara dari surga. Bapak, ibu, bulek (bibi) hanya 'memaksa' sebuah kata bergelar cinta. Harapan dari orang tua kepada penerusnya. Harapan untuk si dewasa agar selalu tepat waktunya.  Sedang 'perintah' mandu hanya bentuk pembiasaan dari banyak tanggung jawab lainnya.

Sosok dewasa akhirnya menyerah. Kenangan dan rindu mencipta lelah. Rindu suara sumbang yang dulu begitu namanya. Rindu suara orang tua yang ternyata berasal dari surga.  

Tidak akan pernah lunas dibayar jika itu adalah harta. Tidak akan pernah lunas dibayar jika itu adalah jasa. Tapi setidaknya anak yang baik akan berusaha menggapai ridho mereka. Biar kelak suara dari surga kembali ke surga. Biar kelak sosok dewasa ikut dikumpulkan di jannah-Nya.

 

Karya : Nurma Kasa