Di Balik Meja

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Desember 2016
Di Balik Meja

"Mba, kamu emang galak ke semua orang?"

"Senyum dong, cemberut mulu."

"Mukamu kayak hantu."

"Mbak, mukamu lo kok serius."

"Mbak nam, kayak nemo."
(nemo:nama karakter ikan di film animasi berjudul finding nemo)

"Kamu kenapa sedih?"

"Ma, kenapa ma?"

Reaksi di atas akhir-akhir ini akrab di telinga. Sebenarnya, jauh sebelum ini, pertanyaan dan pernyataan semacam itu sudah ada. Tapi kali ini harus digubris karna posisiku di belakang meja bertulis resepsionis.

Kalau dibanding jenis pekerjaan lainnya di kantor tempatku bekerja, berada di belakang meja ini relatif tak menguras banyak tenaga. Pasalnya sehari penuh berkutat di depan komputer tanpa mengalihkan mata. Sesekali saja berdiri ketika tamu tiba.

Tapi berada di balik meja ini rupanya jadi tantangan berat juga. Dimana aku dituntut harus berwajah ramah dalam segala suasana. Tak peduli siapa yang datang dengan kondisi apa. Tak peduli keadaan pribadi sedang lara atau ceria.

Pemisahan antara urusan pribadi dan pekerjaan memang wajib hukumnya. Hanya saja, berada di belakang meja ini tak bisa meminta siapa yang jadi lawan bicara.

Tantangan selanjutnya adalah mengkondisikan raut muka. Seperti di awal tadi, tidak semua reaksi 'kamu kenapa', 'mukamu serius', dilontarkan saat aku tengah berada di buruknya suasana. Beberapa kali, reaksi itu kudapat saat kondisi biasa saja, misalnya setelah selesai menggantung mukena. Kan keseharian saja?

Sepertinya aku harus berlatih mengkondisikan raut muka. Supaya terlihat tidak galak, tidak jutek, seperti ikan dan semacamnya. Jadi kalau ada yang mendapati wajahku masam, tak enak dipandang katakan saja. Yang pertama, aku tidak sedang membenci siapapun. Yang kedua, aku sedang dalam masa pelatihan.

Semoga saja latihan ini mendatangkan pahala. Sebab bermuka manis di hadapan saudara bagian dari akhlak mulia. Yes, semangat perubahan!

 

  • view 219