Saat Lampu Kamar Dipadamkan

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Desember 2016
Saat Lampu Kamar Dipadamkan

Saat lampu kamar dipadamkan. Saat malam datang menggantikan siang. Saat cahaya bulan masuk dengan remang-remang. Saat semua yang terlihat tak lagi nampak kelihan. Saat yang terlupakan memaksa diingat di hari kemudian.

Saat lampu kamar dipadamkan tapi mata enggan terpejam. Saat jam dinding menunjuk angka belasan tapi mata terang seperti jam enam. Saat suara berfrekuensi kecil, menjadi terdengar cukup kencang. Saat itu seorang gadis teringat rumah masa depan.

Mataku mengerjap cepat , menggoda kantuk bersemayam. Tapi nyatanya cara ini tak bekerja. Tetap saja ribuan detik berlalu sia sia.

Aku mengamati sekeliling berharap menemukan sesuatu yang berguna. Setidaknya sebelum tubuh bersedia membujur di pembaringan, ada kegiatan yang bisa dilakukan. Tapi waktu tak mengijinkan jumpa. Hingga jarum jam terdengar nyaring bunyinya.

Entah darimana datangnya, tiba-tiba rumah masa depan membayang. Di sebuah kamar yang lampunya padam, hanya tertembus lampu jalan, terasa agak menakutkan. Aku berpikir bagaimana kehidupan kelak di dalam tanah tanpa setitikpun sinar. Akankah lebih mencekam?

Jelas dan pasti sendiri. Kematian siap atau tidak datang menghampiri. Kemudian kalau sudah begitu, gelap datang bersamaan. Bersama gundukan tanah menimpa badan. Pandanganku akan lebih tak terlihat dari lampu kamar yang padam. Saat itulah baru berharga jumlah kebaikan yang dilakukan saat terang.

Aku masih diberi kesempatan menyalakan lampu temaram. Namun suatu saat waktu Tuhan memadamkan lampu kamar, kesempatan itu praktis selesai tak tertwarkan. Dan selanjutnya hanya beribadah, bekerja, belajar dan berteman yang dihitung sebagai angka kebaikan. Nilai i utamanya hati yang ikhlas dalam menjalankan. Semoga kelak ketika lampu kamar dipadamkan, kebaikanlah yang menjadi akhir hidup setiap insan.

Saat lampu kamar dipadamkan.

 

  • view 165