Pesawatmu Telah Tiba

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Desember 2016
Pesawatmu Telah Tiba

 

Aku tak sabar. Aku berharap sesuatu yang aku inginkan cepat datang. Lalu aku jadi sok tahu, mendikte Tuhan minta dikabulkan. Padahal sesuatu yang dimulai dengan masa tunggu ketika datang akan lebih berkesan.

 

Suatu hari, aku berperjalanan dari Samarinda ke Surabaya. Kebetulan pesawat yang aku tumpangi memberikan jadwal tunda. Sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam menunggu dengan bosan. Lalu pada akhirnya digenapkan waktu tunggu hingga tiga jam.

Siapa yang tidak kecewa? Sudah pasti kecewa bagi siapa saja yang berharap akan segera kembali.

Kala itu bulan puasa, sebagian besar penumpang mungkin bertujuan ke rumah orang tua. Maka menanti lalu diingkari jadi harapan sempurna yang dikecewakan. Kalau sudah begitu apalagi yang bisa dilakukan kalau bukan menanam rasa sabar. Toh sebuah protes tak dapat merubah keadaan.

Aku mengamati sekeliling. Sembari menunggu, ada yang berusaha memejamkan mata dengan kondisi seadanya. Ada yang sibuk mengambil gambar dengan kamera. Ada pula yang sibuk dengan ponselnya hendak mengisi daya. Semua nampak berusaha berdamai dengan rasa bosan. Sampai pada akhirnya setelah tiga jam, maskapai memberi kompensasi satu kotak nasi.


Meski menunggu tetap menunggu. Barangkali menyibukkan diri merubah waktu tunggumu lebih berarti. Seperti menanti genap separuh agama. Terus saja sibuk belajar ilmu dunia dan agama. Jika masa tunggu telah tiba di garis penghujungnya, bersiaplah menyambut satu kotak bahagia.

Itu berarti pesawatmu telah tiba. Selamat menikmati perjalanan.

  • view 216