Hujan, Kamu dan Rindu

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Desember 2016
Hujan, Kamu dan Rindu

  • Rinai yang syahdu dari langit temaram. Aku dan kamu yang terpaut jarak di pekatnya malam. Bersama hujan, kamu dan rindu lalu datang bersamaan. 

    Hujan, pintar sekali mengambil perasaan. Aku yang duduk di barisan pencari ilmu, tak luput dari sasaran. Katanya, ini waktu mustajab yang Tuhan siapkan. Bagi siapa-siapa yang berdoa dan ingin dikabulkan.
    "Ya Allah, ijinkanlah aku berjumpa pangeranku dengan cara yang Engkau bolehkan."

    Hari ini aku ikut cara bertajuk Gemar, yang merupakan akronim dari Gerakan Menutup Aurat. Berada di sini sebenarnya karna ajakan dari teman. Tapi aku sadar bahwa tanpa takdir, kaki ini tak akan sampai tujuan.

    Secara bergantian pemateri menyampaikan pesan. Diantara suara hujan yang berjatuhan, terdengar ayat-ayat Al Qur'an dibacakan. Tentang hijab dalam syariat, tentang sebuah cinta untuk muslimat. Tegas dikatakan wajib hukumnya, tak ada alasan untuk berkata nanti atau jangan sekarang. Tapi tersimpan makna indah di balik sebuah kewahiban.

    Apanya yang indah dari wanita berhijab, apalagi yang syar'i? Tentu saja indah karena sejatinya yang indah itu yang terjaga. Lalu yang belum terjaga? Ya, mari memulainya dengan hijab sesuai syariatNya.

    Hujan tersenyum mendengarnya seolah membenarkan. Kamu dan rindu adakah sama mengiyakan?
    Terserahlah apa mau kau rasa. Aku hanya sedang belajar taat pada perintah Tuhan. Meski terkadang rasa cemburu melihat hujan, kamu dan rindu berpasangan. Namun aku tak akan bertanding, berusaha mengalahkan. Karena akan ada suatu masa ketika jarak memutus dirinya dan menjumpakan aku, hujan, kamu dan rindu.

    Di sana aku yakin kamu dan rindu akan setuju. Seperti hujan waktu itu.

  • view 234