Biasa itu Istimewa

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Desember 2016
Biasa itu Istimewa

Hari ini jadwal tak biasa bersama superoomate. Setelah berkali-kali mengagendakan acara nonton bedua,  akhirnya di tiga Desember kesempatannya.

Sabtu malam, waktu yang biasa dipilih muda-mudi menghabiskan masa. Ada yang bersama pasangan, ada juga yang berkumpul sesama pemilih aliran sendiri. Tak masalah menganut kelompok mana, asal syaratnya halal. Bersama pasangan yang halal atau sendiri mempersiapkan diri untuk dihalalkan. 

Cinta Laki-laki Biasa, judul film yang kami pilih menghabiskan malam minggu yang tidak biasa. Tidak biasa nonton dan tidak biasa keluar malam. Maklum kami anak rumahan. Eh bukan, anak kos-kosan.

Perjalanan menuju bioskop kami tempuh kurang dari tiga puluh menit. Sepanjang kaki melangkah, ritmenya ngebut demi mengejar waktu tayang pukul tujuh malam. Qadarullah, sekitar satu menit sebelum jarum panjang di angka dua belas, kami tiba di depan bioskop.

Singkat cerita, kami akhirnya menikmati film laki-laki biasa selama kurang lebih dua jam. Itu sudah lengkap antri tiket, cari nomor duduk ditambah iklan-iklan sebelum film ditampilkan.

Jadi bagaimana sih film laki-laki biasa? Kalau tentang jalan cerita bisa spoiler lewat novelnya bunda Asma Nadia. Bisa juga kepo lewat trailernya. Pemainnya Velove Vexia sama Deva Mahenra. Sudah sih begitu saja bocorannya. Tapi kalau ditanya laki-laki biasa  itu seperti apa? Begini biasa yang istimewa versi saya.

Laki-laki biasa adalah sosok yang terlihat biasa. Benar-benar biasa. Penampilannya, dandanannya, kata-katanya, semuanya biasa. Tapi laki-laki biasa itu layak disebut istimewa. Kok bisa?

Ia tampil apa adanya. Tak hidup berbalut gengsi, juga tak hidup dengan kata-kata bermodus sana sini. Lalu istimewanya? Istimewanya ketika bekerja, ia biasa sholat tepat waktu. Ketika hidup bermasyarakat, ia biasa bersedekah. Ketika menghirup udara, ia biasa berdzikir mengingat Tuhannya. Ketika berjalan, ia biasa mengulang hafalan. Ketika melihat yang tidak halal, ia biasa menundukkan pandangan. Dan ketika jatuh cinta, ia biasa menyerahkan urusan hati pada Yang Kuasa.

"Nania Dinda Wirawan bersediakah kamu ta'aruf denganku, Muhammad Rafli Imani?"

Seperti itulah laki-laki biasa yang istimewa.

 

  • view 239