Dipukul peserta aksi

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Desember 2016
Dipukul peserta aksi

Puluhan orang berbaju putih masuk ke gerbang kantor tempatku bekerja. Kemudian mereka memukulku yang baru saja menyelesaikan senam pagi. Apa salahku?

Tua, muda, pria, wanita berbaju putih masuk ke halaman kantor tempatku bekerja. Awalnya beberapa orang saja. Lalu jumlah mereka bertambah makin banyak. Mereka-mereka adalah peserta aksi 212 yang hendak merapat ke monas.

Awalnya aku diam. Seperti biasa usai senam jum'at pagi, para pegawai di kantor tempatku bekerja mendapat jatah sarapan. Kali ini menu sarapan dipesan dari penjual soto lamongan yang biasa mangkal di sekitaran kantor. Aku ikut antri memesan racikan soto. Karna selera yang berbeda-beda, hasil racikannyapun berbeda. Ada yang tidak pakai sambal, ada yang sambalnya banyak, ada yang tidak pakai nasi, ada yang tidak suka pakai mihun. Tapi rata-rata pakai mangkok.

Hingga beberapa  peserta aksi 212 datang, suasana menjadi berbeda. Aku yang tadinya diam dipukul oleh mereka. Mereka tidak menggunakan senjata semacam kayu atau tongkat. Tidak pula dengan tangan atau pergelangan mereka. Tetapi dengan hati dan apa yang mereka lakukan.

Aku asik antri soto untuk melayani perut sementara mereka  asik antri wudhu untuk melayani hati. Aku dipukul dengan pertanyaan yang muncul di hati tiba-tiba. Apa aku hanya perlu melayani perut? Bagaimana dengan hatiku? Perlukah dilayani? Apa jangan-jangan aku tak punya hati? Astagfirullah, malu benar rasanya dipukul dengan cara seperti ini.

Sejatinya hati yang butuh dilayani. Saat yang dicinta dengan mudah dikatai. Beginilah teladan yang mereka,para peserta aksi 212, beri. Teringat pesan aa Gym untuk tegas namun tetap santun. Mereka membuktikan bisa tegas menyuarakan tegaknya hukum Tuhan. Tapi sekaligus bisa santun 'memukuli' hati orang-orang yang menyaksikan. Seolah berkata,"mari saudaraku bergabung!"

Ah, terimakasih telah memukulku para peserta aksi. Aku bersalah tak melayani hati.

  • view 255