Pesan Kakak Kedua

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 November 2016
Pesan Kakak Kedua

 

Barangkali ini lebih cocok disebut curhatan atau ocehan. Tapi bacalah sejenak di sela waktumu yang sibuk. Semoga ada hal bermanfaat meski sedikit.

Hai adik ketiga!

Kamu tumbuh semakin besar tidak hanya dari segi usia, tapi juga berat badanmu yang tampaknya melebihi aku. Ups sory. Yang terpenting kamu sehat selalu. Kalaupun sesekali influenza menyerang, bukan suatu hal besar yang dapat mematahkan semangat belajarmu bukan? 

 

Bagaimana harimu disana? Di perantauan memang tidak senyaman di rumah. Namun ada kalanya pilihan membuat kita tinggal di tempat orang. Kamu akan menikmatinya perlahan. Dan momen-momen paling ditunggu adalah saat pulang. Saat semua bagian dari dirimu diterima seutuhnya.

 

Dua puluh satu November dua puuh tahun silam. Bulek bercerita kalau waktu itu aku vokal sekali ‘menolak’ kehadiranmu. Kata beliau aku menangis, memintamu agar tak disusui. Saat itu aku baru berumur sekitar dua tahun dan kekanakan sekali. Balita perempuan yang terdengar sangat manja. Aku tak mau ibu dan bapak memindahkan rasa sayangnya padamu.

 

Ternyata aku salah. Ketika dirimu hadir di dunia, kasih sayang yang telah diberikan padaku tidak berkurang. Bahkan terus meluas dengan takaran lebih besar.

 

Aku sadar sepenuhnya. Apa yang selama ini aku berikan kepadamu tak cukup membuktikan sebentuk kasih sayang. Pesan-pesan yang bernada keras dan ketus. Juga pertanyaan-pertanyaan yang kadang aku sendiri heran kenapa bertanya seperti itu.

“Ada nggak yang suka sama kamu?"

“Ada kakak tingkat yang ganteng nggak?”

“Ada yang kamu suka?”

 

Adik ketiga, aku iri melihat teman-temanku yang begitu sering berkomunikasi dengan saudaranya. Kita tampaknya bukan tipe seperti itu. Tapi tak mengapa asal kita saling sayang dan mendoakan.

 

Bagaimana rasanya belajar di perguruan tinggi? Menyenangkan? Atau sangat melelahkan?

 

Aku yakin bahwa kepayahan dalam belajar itu lebih baik dari pada tak punya kesempatan belajar. Berjuanglah! Lelah dan segala hal yang sulit sudah pernah kita lewati sebelumnya. Aku percaya kamu bisa.

 

Oiya, tentang orang-orang yang senang membandingkanmu denganku itu, abaikan saja. Kita memang bersaudara, tapi anak kembar sekalipun punya jalan hidup yang berbeda-beda. Kamu bukan aku. Aku bukan kamu.

 

Jalanmu, bahagiamu, suksesmu adalah milikmu. Sepenuhnya dalam kendalimu. Asal baik, sebisa mungkin aku bantu mewujudkannya.

 

Adikku yang sholehah,

aku baru belajar sedikit sekali. Hari ini kamu mungkin mengingat sebuah tanggal yang tertulis di ijazah, akta kelahiran sebagai hari ulang tahun. Tapi tidak akan ada kue juga lilin untuk ditiup dariku. Selain jarak yang memisahkan kita,ada alasan lain untuk itu. Adik,aku ingin jadi kakak yang baik. Aku ingin belajar meninggalkan tradisi yang bukan milik umat Muhammad, nabi kita. Tidak apa-apakan? Semoga kamu mengerti.

 Aku hanya mampu memberikan doa sebagai senjata menjalani hidup.

Barakallah fii umrik Novia Ardana Reswari.

 

Jakarta, 21 November 2016

Kakak Kedua-Nurma Kasa

  • view 227