Pria di Peron Enam

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Oktober 2016
Pria di Peron Enam

Gelombang suara saling bertabrakan lalu menimbulkan kegaduhan yang teramat sangat. Sementara aku hanya terpaku diantara ratusan orang yang menciptakannya. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas informasi apa yang disampaikan oleh announcer. Meski hanya berita tentang kereta mana yang bisa membawaku ke tujuan. Atau di peron mana aku harus menanti kereta datang. Manggarai saat itu gaduh sekali.

Aku memang beberapa kali bepergian dengan kereta. Tapi entah, otakku tak juga merekam jalur-jalur dengan berbagai tujuan  Jabodetabek itu. Lantas setiap pergi, aku menghampiri petugas keamanan untuk bertanya. Ya, sekali lagi suara announcer tak dapat kudengar dengan baik.

Hari itu agaknya lebih terik dari hari biasa. Semakin terasa menyengat dengan sinarnya yang bertabrakan dengan logam rel kereta. Pantulannya menyerang epidermis yang dibiarkan terbuka tanpa hijab.

Dia meraih tanganku dan menggenggam erat. Lalu langkah kakiku berusaha mensejajarkan langkah kakinya yang lebar. Maka rok hitam yang kukenakan kuangkat sekira lima sentimeter meleluasakan kakiku yang bergegas. Kami berjalan menyeberangi peron demi peron.

Hanya beberapa menit saja tangannya menggenggamku. Namun begitu erat dan hangat seperti matahari yang mendekap awan di waktu senja.

Kami tiba di peron enam dimana beberapa teman telah menunggu. Seketika punggung telapak tangannya yang coklat membuat jarak dengan jemariku. Ia melepaskan genggamannya. Mendapati gerakan itu, beberapa teman lantas mencibir kami yang seolah tertangkap berbuat asusila. Dia tersipu.

Dia pria di peron enam baru saja mengajarkan padaku. Bagaimana rasa malu telah menjaganya hingga batas halal tiba. Hingga ia mengambil tanggung jawab atasku dari bapak. Peron enam seolah sependapat. Sebuah kereta melaju dari arah utara hingga batas tepi peronnya.

 ***

 Dering ponselku nyaring memenuhi ruang kamar. Aku terjaga dengan kebahagiaan mimpi semalam. Bibirku tak usai melengkungkan sudutnya penuh harap bahwa di pria di peron enam itu akan tiba, suatu saat.

  • view 194