Rinduku Mengiringi Benci

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Oktober 2016
Rinduku Mengiringi Benci

 Rinduku beriringan dengan benci. Setiap aku rindu, aku merasa benci bersamaan. Kemudian bimbang menyergapku saat rindu meminta jumpa. Haruskah aku bilang benci pada yang kurindukan?

 Ini tentang dia.

Dia yang tak pernah menggandengku dengan lembut. Akupun tak pernah memintanya menggandeng tanganku. Dia juga tak pernah mengucapkan kata lembut bernada kasih sayang. Namun bagiku cukup sebuah cinta tanpa perlu kata yang menghubungkan.

 Entah bagaimana ia merasa?

Kami hidup dengan udara yang sama. Langit dan bumi yang sama pula. Aku menghadap kertas PR Matematika. Rasanya pusing sekali, tapi ia bilang itu sangatlah mudah. Aku memang tak pandai berhitung berbeda dengannya. Lalu aku mengaguminya.

Dia sering sekali menulis. Aku banyak melihat bukunya yang rapi tercatat. Setiap lembarannyapun terlihat feminis dengan warna-warni pena yang indah. Saat itu aku masih Sekolah Dasar dan kagum melihatnya. Banyak tulisan dan angka yang ia akhiri dengan sempurna.

Sampai pada suatu masa, langit senja kehilangan jingganya yang penuh rona. Ia menghitam pekat menggantung air mata. Saat itu aku belum benar-benar mengerti aturan mana yang harus diikuti. Namun ia menunjukkan bagaimana cara melanggar seluruh aturan itu bersamaan. Langit senjaku melepaskan tangisnya.

Detik mengejar menit. Menit mengejar jam. Jam mengejar hari. Hari mengejar bulan. Dan bulan mengejar tahun. Mereka seolah berkompromi membuatku terus berlari. Jarak tapakku membesar, hingga aku berselera membuat kecepatan di lintasan. Aku hanya ingin sampai tujuan di waktu awal. Meski saat itu senja kemerahan hendak menggoda. Aku ingin lupa saja karena setiap senja mengenangkan dia.

 Aku terengah-engah di garis finis. Dan kemudian ramai sekali yang menghampiriku. Mereka mengucap selamat, ada pula yang memberi bunga. Aku jadi bertanya. Datang darimana mereka? Padahal sejak berada di garis start mereka tak pernah memandangku ada.

 Tak terkecuali dia. Ia bahkan tak pernah bertanya apakah aku butuh sepatu atau sekedar krim otot untuk berlari. Sesungguhnya aku berharap dia datang menawarkna sebotol air mineral untuk menyambutku di ujung lintasan. Nyatanya tidak, dia tidak berada di udara yang aku hirup.

 Usai berlari aku bergegas untuk urusan lain. Sebagaimana surat Sang Penguasa jika selesai satu urusan, baiknya kita begegas untuk urusan lain. Aku mengancingkan kemeja berlengan panjang. Di tanganku tergantung sebuah tas berisi buku. Aku memandangnya lekat, tak serapi dan seindah miliknya. Ah, manusia memang berbeda satu sama lain. Mungkin aku bukan sepertinya yang rapi dan penuh kecerdasan.

 Kemudian suara ponselku mengalihkan perhatian. Ada sebuah telepon masuk dari nomor yang tak kusimpan.

“Halo, Assalamu’alaikum,” sapaku hati-hati.

“Wa’alaikumsalam.”

Gendang telingaku seperti sudah sering menangkap frekuensinya. Dia pemilik buku rapi nan indah itu datang lagi. Tanpa menangkap hatiku, ia bertanya apa kabar senjaku di langit lintasan?

Aku ingin memaki tentang senja yang ia hancurkan. Tapi rinduku telah dahaga ditumpuk kenangan. Ia kasih sayang yang hadir tanpa kata. Namun tanpa kata pula pergi meninggalkan luka.

Astaga, mengapa rindu ini mengiri benci. Bisakah aku memaki untuk seluruh rinduku yang menanti?

  • view 170