Berebut Makanan Kenduri

Nurma Kasa
Karya Nurma Kasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Berebut Makanan Kenduri

Seorang berlengan legam karna bekerja di bawah terik sang surya menenteng kantong kresek berwarna hitam. Tiga anak gadis menantinya penuh pengharapan. Sesekali menengok dari pintu rumah yang sedikit terbuka. Bergantian satu sama lain bak penjaga pabrik yang punya jadwal bekerja. Itu aku dan kedua saudaraku. Iya, kami tengah menanti bapak yang pulang dari kenduri.

Memang tak pernah ada syarat dan syariat yang mengatur tata cara bersyukur, apalagi kenduri. Tapi entah mengapa, cara itu dipraktikkan oleh banyak orang. Dan pelaksanaannya dilakukan dari generasi ke generasi. Begitu yang terjadi di lingkungan sekitar rumahku.

Dulu semasa aku kecil. Waktu semacam itu selalu menarik untuk dinantikan. Padahal bisa ditebak apa isi kantong kresek hitam itu. Mereka yang punya hajat akan memenuhinya dengan nasi, lauk-pauk tergantung hajatannya, jajan pasar dan pastinya amplop berisi uang yang dikenal dengan nama ‘binat’. Isinya variatif, mulai dari uang 1000 sampai 10000. Tergantung kemampuan pembuat kenduri, semacam penanda kelas sosial.

Makanan-makanan kenduri sungguh sangat menggiurkan bagi kami yang biasa makan seadanya. Jumlahnya tak cukup banyak memang, aneka lauk satu porsi bonus nasi satu cething. (Cething : sebuah wadah jarang untuk tempat nasi yang terbuat dari plastik aneka warna). Siapa sangka suasana usai kenduri jadi kebersamaan paling berharga.

Acara makan bersama dengan wadah cething selalu dibumbui perselisihan saudara. Terdengar berlebihan. Tapi memang selalu terjadi. Siapa mengambil jatah siapa. Siapa mau bagian mana yang lebih banyak.

Lalu tiba-tiba kerinduan menyerang. Ketika perantauan tak lagi menyuguhkan makanan untuk diperebutkan. Semua serasa beraliran egosentris yang peduli akan perutnya sendiri.

Kala itu, aku begitu mengingat sesuatu hal yang menyedihkan. Dalam kotak kenduri ada beberapa jajanan pasar. Penampakkannya tampak mewah walau harga sebenarnya sekira 1000 hingga 5000 rupiah. Tapi itu uang jajanku seminggu saat sekolah dasar.

Aku begitu menginginkan semuanya. Tentu saja kedua saudaraku juga begitu. Kami punya kadar selera dan uang saku yang kurang lebih sama.

“Aku mau ini tapi juga ini dan ini,” tanganku menunjuk tiga jajan pasar.

“Aku juga,” kedua saudaraku juga menginginkan jajanan yang sama dan berusaha meraihnya.

Ibu tak mengucapkan sepatah kata apapun. Beliau hanya bangkit dari duduknya menuju dapur dan kembali dengan pisau di tangan. Alhasil jajanan yang hanya berdiameter sekitar 6 – 7 sentimeter dipotong menjadi tiga bagian. Masing-masing dapat sepertiga.

Kecewa? Ya, tentu saja. Kerakusanku tengah berada di puncaknya. Jarang-jarang bisa makan jajan tanpa mengurangi uang saku. Malah sekarang dapat sepertiga bagian. Sungguh tidak menyenangkan.

Nyatanya pelajaran hidup dibalut di setiap kejadian. Soal kekurangan dan ketidak berdayaan sudah diakrabi olehku dan kedua saudaraku. Jadi tentang hal kecil dan berbagi makanan seperti api yang menyulut dendam untuk masa depan. Kami tidak mau terus begini. Ingin masa depan yang bebas jalan juga jajanan tentunya.

Rasanya sombong kalau terus mengeluh. Karunia Tuhan terus kami dapatkan. Kehadiran ibu yang begitu bijak menengahi perselisihan kami. Tak ada satupun yang dibela kecuali ‘hukum’ yang sudah disepakati sebelumnya. Ini bagianmu, ini bagianmu. Meski akhirnya sedih tak dapat apa yang dimau. Namun sekarang menjelma kesyukuran tentang ‘nikmatnya’ patuh terhadap aturan. Juga kebersamaan yang menghangatkan.

Aturan sering kali tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ide pencipta aturan berbenturan dengan ego pencipta aturan itu sendiri. Dan ibu menunjukkan cara menikmati aturan. Bersama, berbagi, disiplin dan sabar.

Waktu memang tak pernah sejenak lelah dan berhenti. Sekedar menunggui kopi diseduh jadi wedang. Masing-masing dari kami diharuskan membuat keputusan. Aku dan kedua saudaraku memilih jalan yang tak sama lalu menyebabkan jarak jadi pembeda.

Kenduri dan kerinduan agaknya punya tempat di hati. Sosok jahil diantara kami, juga kearifan bapak dan ibu tidak pernah lupa. Namun keinginan untuk mengulang serasa tak mungkin.

Hingga suatu waktu, telpon dari ibu membangun ruang sadar. Kenduri juga hal lain adalah kehidupan dunia. Fana, sebentar, sementara. Jika terus bersama, ikat saja dengan doa. Dan pastinya patuh pada aturan milik Sang Pencipta serta menikmati setiap fase perjalanan. Persis seperti ‘tradisi’ kami pasca kenduri. Alhasil kebersamaan #sehidup sesurga jadi buahnya. Selamat mencoba! Bukan berebut makanannya, tapi disiplinnya ya.

 

Dilihat 269