Betrayal

Nur Mahmudah
Karya Nur Mahmudah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Maret 2016
Betrayal

?

Kadang, cinta memang tak adil.
Tapi bukan. Bukan cinta yang berlaku tak adil, manusialah yang tidak pernah merasa puas. Lantas apa pantas cinta tulus dari seseorang, kau balas dengan dusta? Atau bahkan mendua?
***
Randi
Malam itu kau bilang kau hanya akan dirumah, menghabiskan malammu di depan laptop sambil sesekali menyesap secangkir kopi susu kesukaanmu. Seperti biasa.
Dikantor, akupun hampir sama jenuhnya. Yang aku pikirkan hanya bagaimana caranya bisa berada didekatmu. Menemanimu menyelesaikan semua tugas kuliahmu, sesekali membantu jika aku mampu.
Bagikuuu mencintaimu adalah kesalahan yang akan selalu kubuat benar, dan wajahmu adalah candu bagiku. Rasanya ingin terus menerus kupandangi wajah cantik itu. Namun apa dayaku? Hari-hariku terlalu sibuk dengan pekerjaan, jadi sedikit sekali waktuku untukmu. Bukan sayang. Bukan maksudku membiarkanmu sendiri, menjalani harimu tanpaku, merenda tawa seorang diri. Semua yang kulakukan sekarang adalah wujud cintaku di masa depan. Saat nanti dengan lembut ku kecup keningmu di setiap pagi saat ku terbangun dari tidur. Saat ku angkat kau ketempat tidur karena terlelap di ruang tamu menungguku pulang. Percayalah, semua ini hanya untukmu. Hanya untuk kebahagiaan kekasih hatiku.
***
Talita
Maaf aku membohongimu malam itu. Kubilang aku hanya akan berada di rumah. Tapi aku jenuh, aku butuh refreshing. Akhirnya, aku pergi menonton sebuah pertunjukan dengan teman kuliahku. Zaki namanya, akhir-akhir ini dia yang selalu ada untukku, dia sosok yang sangat ramah. Dia tau persis bagaimana membuat orang lain merasa nyaman berada didekatnya. Akupun dibuatnya begitu.
Aku mencintaimu Randi, tapi yang aku butuhkan bukan hanya sekedar kata-kata cinta yang setiap saat kau kirimi untukku. Persetan dengan itu. Aku wanita biasa, yang aku inginkan adalah kehadiranmu. Mungkin aku na?f, karena terlalu takut kehilangan kamu. Sedangkan aku disini, menemukan seseorang yang selalu ada setiap aku membutuhkannya. Dia pria baik-baik. Dan aku meminta maaf padamu, karena mungkin aku juga mulai mencintainya. Aku mulai mencintai tutur lembutnya, senyum manisnya yang selalu menjadi inti di hariku. Dan yang terpenting dia selalu ada, tidak seperti kau yang hanya berkirim kabar maya.
Tapi percayalah aku masih amat mencintaimu.
***
Zaki
Senyummu tidak pernah lepas dari bayanganku sejak kali pertama kita bertemu. Sejak saat itu kusimpan rapat siluet indah yang membentuk bulan sabit, jika sewaktu-waktu aku merindu akan ku telan habis lengkungan sempurnanya dalam kalbu.
Aku tau mungkin kita tidak akan bisa bersama. Karena disana, di belahan dunia yang lain ada seseorang yang sedang berjuang keras membahagiakanmu. Aku tidak ingin disebut sebagai pengganggu.
Sampai malam itu kau menawarkan cerita di penghujung senjaku. Dengan senang hati kuterima. Setiap gerak yang dipertunjukan tidak lagi menjadi prioritasku. Karena alam saat itu sedang berbaik hati padaku, menunjukkan keindahan pada sisi yang tak terjamah. Makhluk indah disampingku adalah pertunjukan termegah yang pernah kulihat. Malam itu kau terus bercerita tentang hidupmu, tentang cita-citamu, dan tentang sesuatu yang pernah hilang di masa lalu. Masih dengan mimik yang sama. Lucu. Kau tetap terlihat cantik. Duhaaaiii, rembulanpun ikut berbaik hati padaku, cahayanya menerpa wajahmu. Malam itu kau sungguh. Menakjubkan.
***
Talita
Dan sejak saat itu, bertambah banyak kebohongan-kebohongan yang mengalir dari mulutku. Tapi kamu mempercayai itu. Sampai aku lupa bagaimana menjaga kepercayaanmu lagi.
Kini hari-hariku tidak lagi sepi, ada dia yang selalu menjadi temanku merajut kasih, merenda tawa. Dia adalah wujud pelangi yang Tuhan kirimkan setelah gerimisku. Mulai saat itu aku semakin jarang mengabarimu. Aku membuatnya agar terlihat seolah aku sudah mulai mengerti pekerjaanmu sekarang, yang kau lakukan itu untukku juga nantinya. Tapi semua itu lagi-lagi hanya dusta. Dusta yang semakin hari sejujurnya menggerogoti hatiku. Aku tak pernah berpikir laki-laki yang ingin membahagiakanku menghabiskan waktunya sepanjang hari di kantor. Tanpa sedikitpun tau apa yang sedang kuhadapi disini.
***
Randi
Sore di penghujung senja. Saat matahari telah separuh menghilang. Aku mendapatkan cuti dari kantor. Dengan rindu yang kian mennggebu aku segera menuju rumahmu. Entah mengapa hari itu aku sangat ingin bertandang ke rumahmu. Tapi apa yang kudapat?
Bayanganmu dan seorang laki-laki lain di ambang pintu rumahmu. Hanya siluet yang tertangkap mataku, tapi aku yakin itu pasti kau cintaku. Laki-laki itu mengecup keningmu lembut sebelum ia beranjak pergi.
Tadinya aku ingin menghabiskan sisa-sisa malam ini denganmu, mengobrol tentang banyak hal sambil memakan martabak manis kesukaanmu yang kubawa. Tapi semua itu sirna. Cukup lama aku terdiam mematung, lalu aku memencet bel depan rumahmu dan menaruh makanan kesukaanmu itu di depan pintu. Lalu pergi, tak tau akan kemana.
Sakit. Hati ini terlalu sakit sampai tak tau cara untuk merasakannya lagi. Melihat cintaku dengan mudah mendua, di belakangku. Entah salah apa yang telah kuperbuat, sampai kau sebisa itu melukai hatiku.
***
Zaki
Malam itu aku kembali ke rumahmu karena dompetmu tertinggal di jok mobilku. Sekujur tubuhku seketika terasa ngilu, kaku. Ketika ku lihat seorang pria tampan yang tak lama ku ketahui sebagai kekasihmu sedang berdiri mematung di depan pagar rumahmu. Tadinya kupikir dia akan menemuimu. Namun ternyata yang kulihat dia hanya memencet bel dan menaruh bungkusan merah di atas pagar, lalu berjalan lunglai meninggalkan rumahmu.
Aku terperanjat sepertinya dia sudah cukup lama berada disitu, untuk melihat penghiatan yang dibuat kekasihnya denganku. Dia pasti pria yang baik, bahkan sangat baik. Jika tidak dia pasti langsung menghajarku tadi. Seketika aku merasa malu. Orang macam apa aku ini? Mengganggu hubungan orang lain dengan mendekati kekasihnya. Tanpa pikir panjang segera ku susul langkah-langkah gontai pria itu. Dia menatapku nanar, matanya menyiratkan rasa sakit yang teramat dalam. Hatiku tiba-tiba nyeri membayangkannya.
***
Talita
Yang kulihat hanya ada sekantong plastik martabak manis di atas pagar rumahku. Biasanya Randi yang selalu membawakannya untukku saat malam-malam begini. Tapi disini tidak ada orang. Ah sudahlah.
***
Randi
Pria itu datang meminta maaf padaku. Dia bilang dia tidak pernah bermaksud merebutmu dariku. Dia juga bilang bahwa setelah ini dia akan pergi dan menjauh dari kehidupanmu. Dan memintaku untuk kembali padamu. Tapi aku juga sama. Maaf aku tidak bisa kembali dengan luka yang masih sangat basah dan berdarah-darah. Dan seharusnya kamu belajar menghargai.
***
Dalam hidup ini selalu ada banyak pilihan. Maka memilihlah dengan bijak.
Mungkin ada banyak kesalahan dalam cinta yang bisa dimaafkan, tapi tidak termasuk penghianatan. Apalah cinta, jika menjaga sebuah kepercayaan saja kau tak bisa.

?

ciputat, 8 oktober 2014

  • view 188