Cinta Sederhana

Nur Mahmudah
Karya Nur Mahmudah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Februari 2016
Cinta Sederhana

 

Jika cinta hanya dengan kata-kata

Jika cinta hanya dengan pengungkapan

Lalu bagaimana dengan kakek nenek yang masih bersama hingga tua renta. Cintanya tak pernah terungkap lewat kata. Tak pernah tergambar melalui ungkapan.

Karena bagi mereka cinta lebih dari sekedar kata. Lebih dari sekedar rangkaian bunga.

Ketika nenek menunggui kakek pulang dari sawah, menyambutnya dengan senyum yang tak pernah pudar sejak awal mereka bersama. Menyiapkan secangkir teh hangat tanpa gula, melepas dahaga. Meski dengan tertatih membukakan pintu. Tapi seperti itulah cinta yang nyata. Yang tak pernah jemu menyemai rasa.

Ketika kakek menunggui nenek yang terbaring lemah di rumah sakit. Tertidur di atas kursi besi sambil menggenggam tangan yang dikasihinya. Hanya berdua. Padahal tubuhnya juga lelah. Tapi baginya itulah cinta yang semestinya.

Saat tubuh tak lagi segagah masa muda, mereka masih saling menjaga. Saat penglihatan mulai mengabur, mereka akan selalu saling menghibur. Saat berjalan pun kembali tertatih, mereka tak pernah letih untuk saling melindungi.

Saat hanya ada mereka berdua di rumah mungil yang mereka bangun bersama. Kata-kata cinta tak lagi berarti banyak. Namun tindakan dan kesetiaan serta penerimaan yang begitu luas, menjadi satu satunya bukti nyata. Bahwa cinta mereka tak termakan usia.

Sampai salah satu diantara mereka pergi lebih dulu. Tak bisa kubayangkan bagaimana jadinya. Si nenek yang tetap menunggu di teras rumah dengan secangkir teh hangat tanpa gula. Meski ia tahu, yang ditunggu pasti tak datang.

Atau si kakek yang sepulang dari sawah, menunggu istrinya membukakan pintu, dengan senyum hangat yang mampu redakan penat. Meski ia tahu, pintunya tidak akan lagi terbuka dari dalam.

Tapi rutinitas itu masih saja dilakukan. Karena bagi mereka, semua masih sama. Tidak akan ada yang berubah.

Yang mereka tahu hanya satu. Bahwa cintanya sudah paten, tidak akan berkurang walau setitik. Rindunya sudah memuncak pada pertemuan abadi di surga kelak.

Begitulah, cintanya sederhana. Sesederhana embun merindu pagi. Sesederhana gerimis menanti pelangi. Sesederhana pantai menunggu ombak. Tapi kau tahu, semua itu mutlak.

 

Tangerang, 24 Feb 2016

Sumber gambar?disini

  • view 210