Secangkir Senyum Perkenalan

Nur Mahmudah
Karya Nur Mahmudah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Februari 2016
Secangkir Senyum Perkenalan

Sudah hampir dua jam Bani duduk di salah satu sudut kedai kopi langganannya. Bolak balik ia memperhatikan jam tangan lalu handphone-nya. Ya, Bani memang sedang menunggu seseorang. Bang Dean, begitu ia sering memanggilnya.

Bang Dean merupakan salah satu senior yang paling Bani segani dalam organisasi. Namun begitu, Dean merupakan senior yang baik hati, dan tidak pernah pelit untuk membagi ilmunya. Tadi siang mereka membuat janji untuk bertemu di kedai ini. Bang Dean ingin meminjamkan Bani sebuah buku tentang fotografi, yang belakangan ini baru ia geluti.

Bani kembali menyesap kopi dari cangkir kedua miliknya. Cangkir yang pertama sudah habis sejak setengah jam lalu. Tapi, Bang Dean belum juga datang.

Ada apa ini? Tidak biasanya Bang Dean molor waktu sampai dua jam seperti ini. Biasanya paling lama ia hanya telat lima menit.

Untuk kesekian kalinya Bani mencoba menghubungi Dean, tapi nomornya tidak aktif. Sampai Bani dikagetkan dengan kedatangan seorang gadis.

"Permisi, Assalamualaikum" Sapa gadis itu dengan senyum tersungging sangat manis di bibirnya.

Bani sempat terhipnotis sepersekian detik, lalu ia sadarkan diri.

"Eh iya waalaikumsalam" Jawabnya gugup.

"Apa benar abang ini abang Bani?" Suaranya memecah keheningan di dalam pikiran Bani.

"Eh, ii i iya. Kamu ini siapa ya? Ada perlu apa?" Akhirnya kesadaran Bani kembali pulih. Ia sudah bisa mengontrol degup jantungnya yang meningkat disebabkan senyum gadis berkerudung merah jambu dihadapannya.

"Eem maaf, saya Maila. Adik sepupu dari Bang Dean. Saya kemari untuk menyampaikan ini."

Maila menyodorkan sebuah buku fotografi yang dijanjikan Bang Dean tadi siang.

"Bang Dean juga titip pesan. Maaf dia tidak bisa datang dan maaf kalau membuat abang Bani menunggu."

Bani tersenyum menanggapi. Ah, ia hampir saja lupa tidak mempersilahkan gadis itu duduk.

"Ah ya, silahkan duduk."

"Tidak usah bang, terimakasih. Saya hanya ingin menyampaikan amanah ini saja. Jika sudah tidak ada apa-apa lagi, saya langsung pulang saja."

Diperhatikannya gadis itu. Sepertinya senyum tidak pernah lepas menghiasi wajahnya sejak ia datang dan mengucapkan salam. Diam diam hatinya tersentuh. Merasa terketuk, dan ingin segera membukakan pintunya lebar lebar. Ada perasaan aneh yang diam-diam mengendap kedalam hatinya. Tapi ia tak pandai menterjemahkan. Jadi dibiarkannya berlalu begitu.

"Oh ya memangnya ada apa dengan Bang Dean?" Tanya Bani, kali ini ia benar-benar penasaran. Karena jarang sekali bang Dean seperti ini. Menyerahkan amanah kepada orang lain.

"Bang Dean sedang tidak enak badan, tadi sore dia kehujanan saat pulang kuliah".

"Oh, kalau begitu sampaikan salam saya untuk bang dean. Semoga lekas sehat".

"Baik. Kalau begitu saya pamit pulang bang bani".

Maila berbalik meninggalkan meja Bani.

"Maila.... Tunggu "

"Ada apa bang bani?"

Bani masih berdiri termangu dari tempatnya. Sepertinya gadis ini sudah di program untuk selalu tersenyum. Senyum yang meluluh lantahkan benteng pertahanan Bani. Benteng yang selama ini ia jaga.

"Ini sudah malam. Biar saya antar" Bani berusaha menawarkan jasa pengamanan. Yang sebenarnya hanya pengalihan dari keinginannya untuk lebih lama bersama gadis itu.

"Tidak usah bang, terimakasih. Tapi saya bawa kendaraan". Jawabnya dengan senyum yang selalu lembut.

"Oh, kalau begitu hati-hati. Maila.... "

Gadis itu tersenyum malu-malu. Wajahnya merona kemerahan.

"Mari bang" Lalu wajahnya tertunduk takzim.

Pertemuan itu sangat singkat. Tapi sangat cukup untuk membuat Bani mengerti.

-bersambung-

  • view 175