Lelaki dan Senja

Nur Mahmudah
Karya Nur Mahmudah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Februari 2016
Lelaki dan Senja

Sejak bertahun-tahun lalu kedatanganku di desa ini. Ada satu sosok yang paling mencuri perhatianku.

Ini aneh. Seseorang berhasil mencuri perhatianku. Seorang lelaki misterius. Yang berdiri memunggungiku di pematang sawah. Dan terlihat jelas dari teras rumah. Seseorang tanpa nama. Tanpa suara. Tanpa cerita. Karena aku hanya mengenalmu dari jauh. Yang ku tahu pasti. Aku suka caramu menikmati senja.

Bagian yang paling aku suka adalah mengira-ngira bagaimana dirimu. Sebab yang kulihat hanya gelap. Karena kau datang tepat saat langit jingga menjadi pekat dan baru pulang saat hanya ada gelap.

Hitam. Yang kulihat hanya hitam. Tapi aku tak pernah berhasil untuk mengumpulkan keberanianku menemuimu.

Karena sejujurnya, sejak hari itu aku bahkan tak rela kehilangan senja. Sebab jika senja hilang, kau tak akan lagi disana kan?

Apa alasanmu selalu berdiri disana kala senja? Entahlah, aku tak pernah benar-benar peduli dengan itu. Bukankah aku hanya senang jika kamu datang?

Hari ini, adalah hari ke-1360 semenjak kamu menjadi menu wajibku menikmati senja.

Ah ya, akhirnya kamu datang. Berdiri di tempat yang sama seperti bertahun silam.

Kau tahu? Besok aku harus pergi meninggalkan desa ini. Mungkin ini hari terakhirku memandangi punggungmu yang menghitam ditelan pekat malam.

Setelah bertahun-tahun keberanian ini ku pupuk. Hari ini harus kutemui dirimu demi perasaan aneh yang menggeliat setiap kali senja memanggilmu. Kalau aku tak mau semua ini berakhir tanpa penyelesaian. Maka aku harus menemuimu.

Ya Tuhaaan... Leherku rasanya tercekik. Hatiku menjerit.

A. K. U. Berdiri tepat di balik punggungmu.

Kamu berbalik menyadari kedatanganku.

Ada hening yang cukup lama, memberi jeda pada logika agar merasa.

Kau kah? Lelaki yang selama ini ku kagumi.

Kau kah? Lelaki misterius penikmat senja yang membawa candu bagiku.

Mata itu. Ya Tuhaaan. Mata itu bersinar. Bukan. Bukan sinar yang menyala nyala menyilaukan. Sinarnya redup bagai rembulan. Tapi tatapannya sedingin air laut malam. Menarik siapapun untuk menyelaminya lebih dalam.

Tidaaaak. Tolong. Aku hanyut, terbawa derasnya gelombang aneh sarat kesenduan. Kamu, mengapa begitu memikat?

Dan mata itu. Lagi-lagi mata itu. Berkilau bagai bintang.

Sebenarnya, makhluk seperti apa dirimu?

Sungguh. Aku ingin tetap tinggal. Di kedalaman matamu. Menyelami setiap sudut yang belum pernah kutemui di bumi.

Bawa aku. Bawa aku ke duniamu.

 

5 Februari 2016

  • view 255