Tentang Akhir (2)

Nur Mahmudah
Karya Nur Mahmudah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Juni 2016
Tentang Akhir (2)

Cangkir kedua berisi coklat panas sudah tersaji dihadapanku. Kau belum juga muncul. Padahal biasanya kau selalu tiba lebih dulu, kau bilang agar aku tak perlu menunggu. Tapi hari ini lain, ada apa denganmu?

Dan kata-katamu semalam masih terngiang ditelingaku. Kau benar, Dam. Aku memang takut dilukai sedalam aku mencintai. Karena hati itu lembut, tercipta dari segumpal darah. Bukan besi atau baja. Tapi, aku tidak pernah menutup hati. Aku hanya lebih teliti kepada siapa akan kutitipkannya nanti.

Kau muncul dari balik pintu kaca yang berderit saat terbuka. Wajahmu tampak kusut. Lalu kau segera duduk di depanku.

"Sekarang aku mengerti, Ve". Katamu lirih.

Dahiku berkerut "Maksudmu?"

"Kau benar tentang ada orang lain yang menurutnya lebih baik". Kau menghembuskan nafas dengan kencang. Matamu menyiratkan kesakitan.
"Tadi aku bertemu dia, dengan lelaki barunya". Tanganmu terkepal diatas meja. Aku tahu kau marah. Tapi kau pilih mengalah.

"Apa kamu mendengar langsung darinya?"

Kamu menggeleng mantap "Aku tahu lelaki itu! Dia teman kampusnya. Dan yang perlu kau tahu, Ve. Tidak ada teman yang merangkul pinggul sepanjang jalan, mereka sanagat mesra!" Kau terdiam sejenak, mengatur nafasmu yang memburu. "Dan itu, sudah cukup buatku, Ve".
"Sekarang aku benar-benar mengerti perasaanmu". Mata nanar itu menatapku dalam.

"Apa yang kamu mengerti tentang perasaanku?"

"Betapa sulitnya membiarkan orang lain menyentuh hati kita kembali. Setelah susah payah menyusun serpihannya yang lantak".

Aku tersenyum menatapmu. Kau belajar banyak hal dari patah hati, Dam. Dan yang aku suka, kau menghilangkan amarah, dendam dan benci dari daftar pelajaranmu.

"Orang-orang berhati tulus sepertimu, nanti pasti akan dipertemukan dengan orang yang layak dan rela. Layak, menerima hatimu secara utuh. Dan rela, memberimu hatinya yang utuh juga".

"Meski bekas luka dimana-mana, Ve?"

Aku mengangguk takzim "Bekas luka itu hanya akan menjadi pengingat. Supaya kita tidak membuat luka yang sama dihati orang lain".

"Sepertinya aku butuh waktu untuk menyembuhkannya, Ve". Tawamu mengalir bersama kalimat itu. Kau hebat Dam. Saat itu, aku tidak setegar kau.

"Tapi aku juga butuh teman untuk membantuku menyembuhkan luka" Katamu kemudian. Lagi-lagi matamu menatapku dalam. Tapi kali ini, aku tidak bisa membaca yang tersirat.

"Ve, aku butuh orang sepertimu. Kau tahu kenapa aku bisa terlihat setegar ini?" Kau mulai menggenggam jemariku. Seolah ingin memberi tahuku rasa sakit yang kau rasakan. Aku tahu, Dam. Aku tahu rasa sakitnya.

"Kenapa?" Tanyaku kemudian.

"Karna aku belajar darimu. Dari kata-katamu. Kau ingat saat kau bilang begini 'Aku tidak mau mengotori hatiku dengan amarah dan benci, hanya untuk orang-orang yang tidak mengerti caranya menghargai' ". Ucapmu sambil menirukan aku saat itu. Kami tertawa lepas. Kau boleh juga dalam meniru orang lain. Hahahaha

"See, Ve. Dan itu ampuh. Kau sangat benar, aku merasa jauh lebih tenang dengan mengabaikan rasa marah dan benci itu". Lanjutmu setelah tawa mereda.

"Tapi, Dam. Aku bahkan belum selesai dengan lukaku sendiri". Aku menundukkan pandangan dalam-dalam. Bagaimana aku bisa membantumu Dam. Sedang aku masih bergelut dengan luka dan ketakutanku sendiri.

"Hei, ayolah ! Ini bukan Ve yang aku kenal". Kau menggenggam jemariku, kali ini kau memberiku kekuatan. Aku berusaha menatap bola matamu, ada ketenangan disana. Tapi, apa aku bisa? Menjadi 'temanmu'.

Senyumku mengembang kemudian. Entah untuk apa? Aku hanya ingin tersenyum. Terkadang bahagia memang tak perlu alasan.


Tangerang, Juni 2016

  • view 103