Tentang Akhir

Nur Mahmudah
Karya Nur Mahmudah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Juni 2016
Tentang Akhir

"Tidak ada hubungan yang berakhir baik-baik saja, Dam. Kalau baik-baik saja, kenapa berakhir?". Begitu katamu saat pertama kali bicara tentang hubungan kita masing-masing.

"Tapi, aku memang merasa tidak ada masalah dengan hubungan kami"

"Itu kan menurutmu" Kau menyela dengan cepat, tapi tetap pada intonasimu yang tenang. "Bagaimana kalau dia yang jenuh? Bosan? Atau sudah melirik yang lain? Masalah ada pada dirinya". Kata-katamu menohok tepat di hatiku. Aku tidak pernah terpikir seperti itu sebelumnya. Apa iya seperti itu? Apa iya dia setega itu?

"Tapi dia tidak mungkin mendua!" Aku mencoba membela diri.

"Aku kan tidak bilang seperti itu. Bagaimana dengan kemungkinan bahwa dia jenuh atau bosan? Itu tetap menjadi masalahnya".

Aku diam, kehilangan kata untuk melakukan pembelaan. Kamu benar. Lalu bagaimana kamu mengetahuinya?

"Aku juga pernah ada di posisimu. Kalau kau heran kenapa aku bisa bicara seperti itu".
Hei, ini hebat! Kau seperti bisa membaca pikiranku. Apa kau bilang tadi? Kau pernah ada diposisiku? Itu berarti kita memiliki kisah yang sama maksudmu?

"Dia, pergi tiba-tiba. Tanpa memberi tahu satu alasanpun yang bisa ku cerna. Seolah semua berakhir baik-baik saja. Persis, seperti yang kau pikirkan. Tapi kemudian aku mengerti, dia mungkin hanya menyembunyikan alasan sebenarnya dariku". Raut wajahmu berubah sendu Ve, dan itu jarang terjadi.
"Dia, hanya tidak ingin terdengar jahat dengan mengatakan bahwa dirinya sudah jenuh, bosan, atau ada orang lain yang lebih baik". Kau mengakhiri kalimatmu dengan senyum masam.

Ada jeda yang cukup panjang. Aku dan kamu terdiam. Tenggelam dalam kenangan masing-masing. Kisah cinta memang tak selalu manis. Bahkan yang katanya berakhir dengan baik-baik. Ada getir yang mengalir setelah memahami apa yang sebenarnya terjadi.

"Kalau itu hanya masalah mereka, kenapa kita yang menjadi korban? Kalau memang benar begitu, berarti hanya pihak kita yang merasa sakit". Hatiku berontak, tak terima dilukai sepihak.

"Kesalahan orang-orang seperti kita hanya satu, Dam".

"Apa itu?" Tanyaku penasaran. Karena sebelumnya kau bilang, kesalahan ada pada mereka.

"Mencintai terlalu dalam".

Lalu hening kembali mencipta jeda. Lagi-lagi aku terkubur dalam ingatan. Aku baru sadar, jadi itu sebabnya setiap yang dia lakukan untukku terasa hambar, seperti ada yang kurang. Mungkin dia, tidak pernah mencintai sedalam aku.

"Baiklah Dam, aku harus pergi. Besok kita bisa bertemu lagi disini". Pamitmu sambil membereskan handphone, charger, note dan bolpoin yang terserak di atas meja.
Aku memperhatikan wajahmu sekali lagi, saat kau beranjak dari kursimu. Ada banyak kata yang tertahan, berusaha untuk kau sembunyikan.

"Jadi ini, Ve? Yang membuatmu sulit membuka hati lagi. Kau takut dilukai sedalam kau mencintai, kan?"

Kau menatapku sejenak, lalu tersenyum dan berlalu. Mengabaikan pertanyaanku. Tapi  matamu menyiratkan segalanya. sekarang aku mengerti Ve. Selamat malam.

Tangerang
-Juni 2016-

 

Tentang Akhir Part 2

  • view 134