Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 20 April 2018   08:28 WIB
Perjalanan Akhir Masa Studi #5 (Malam Itu Panjang)

            Tempat ini bukanlah hal yang baru bagiku, bahkan aku sangat terbiasa dengan segala suasana disetiap sudutnya. Namun, melihat malam yang kian meninggalkan cahaya kehidupan membuatku mengarah pada pemikiran aneh pada masa yang terlalu lama, pada malam yang terlalu panjang. Setelah selesai mengekstrak bahan uji, aku bergegas ke bagian kultur intermediet. Menyalakan kran air tawar dan mulai membuat busa. Tak ada pikiran apapun selain perasaan ingin cepat selesai. Sayangnya, matahari terlalu cepat bergegas  menuju ujung barat membuatku kalah pada senja yang terlebih dahulu menyapa. Kata orang jawa bilang, suasana surup-surup selalu tidak baik jika kita masih diluar rumah. Padahal aku berada disebuah tempat yang cukup teruji keamananya, tapi nyatanya tidak cukup aman pada perasaan yang terlalu khawatir akan suasana sore yang ada.

            Aliran air dari kran menjadi kawan, pintu samping yang terletak lurus disebelah kiri cucian juga sudah ku tutup rapat-rapat. Namun, masih tetap sama. Aku merasa di intai oleh mata-mata yang tak ku kenal. Bola mataku terus awas pada setiap sudut. Tak ada yang ku temukan kecuali petakan kolam beton yang terisi penuh air laut.

            “Chi....” aku terdiam sejenak saat mendengar pintu tengah terdengar terbuka.

            Tidak ada suara, karena aku yakin Ichi masih sibuk menghadapi lembaran kosong yang harus segera ia isi agar segera pulang.

            Sekali dua kali aku mencoba menengok ke belakang, tak ada satu bayangan apapun yang dapat ku lihat. Hanya perasaan kalang kabut bahwa diri ini sedang diawasi oleh penghuninya.

            Aku mulai berimajinasi tidak jelas. Kemudian bergegas, Aku telah selesai dengan pekerjaan di belakang.

            “Ayo pulang.” Kataku pada akhirnya setelah menemui Ichi di laboratorium kultur dan merasa aman dari intaian mata yang tak dikenal.

***

            Hari ku tak berujung pada ranjang tapi pada mikroskop setelah ku lewati sholat magrib di kamar seorang diri. Ya Tuhan, aku beruntung untuk malam ini, setidaknya ada kawan mengobrol untuk mengamati kepadatan plankton untuk yang pertama kalinya.

            Malam terasa panjang bagiku, aku terus menghitung layaknya mendekte derit waktu yang terus bergerak. Makin lama makin sunyi, tapi Ichi tetap terpaku dengan layar monitornya.

            “Aku jadi nggak enak ganggu waktumu buat nulis laporan.” Pada akhirnya aku membuka mulut setelah terlalu lama membiarkan suara handcounter mendominasi seisi ruangan.

            “Santai aja, Kak, toh aku juga seneng disini bisa internetan.” Pandangannya tidak berubah.

            Malam ini aku memang selamat dari segala sisa kekhawatiran tadi sore, beruntung aku sempat mengenal Ichi di detik-detik kepulangannya. Ya, ia akan pulang satu minggu lagi. Kembali ke tanah Riau menyelesaikan masa pendidikannya setelah melewati beberapa SKS dibalai ini. Bagaimana dengan esok? Bisa jadi aku sendiri menyusuri jalan beraspal dan duduk di depan mikroskop sambil membunyikan apapun yang bisa ku dengar.

            Selagi tangan dan mata bekerja, otakku tak kunjung berhenti memikirkan banyak hal. Bukan masalah selang aerasiku, atau sekedar plankton yang ku kultur. Bayangan seorang perempuan dibalik pintu tadi sore masih cukup mengganggu. Aku memang tidak benar-benar melihatnya, tapi aku merasakan ada jiwa yang mengawasiku. Perempuan berbaju putih dengan rambut digerai panjang, tingginya tak jauh beda dengan ku. Pandangannya kosong hanya sibuk memperhatikan ku yang sibuk bekerja. Aku diam masih diam, meski tak dapat ku tangkap dari mata tetapi hidup didalam kepala.

            “Chi, kita nggak perlu takut dengan apapun. Kita diciptakan Tuhan untuk hidup berdampingan asal kita tidak mengganggu.”

            Ichi beranjak dari tempat duduknya, spontan berlari menuju ku dan mengatakan berbagai macam hal dengan bahasa yang tak dapat ku tangkap dengan jelas.

            “Kakak habis ngeliat apa? Kakak bisa ngeliat gituan? Aduh kak, jangan buat ichi takut.” Ia panik dengan logat khas melayunya yang cukup kental.

            “Hahaha... ndak ndak, aman kok Chi. Cuma omongan biasa aja.” Aku pun kaget jika Ichi harus bereaksi demikian. Aku ingin tertawa tapi bukan pada waktu yang tepat.

            Ah, sudahlah malam akan terasa semakin panjang jika kepala ku terus disesaki dengan berbagai hal yang sifatnya imajinasi belaka. Bukannya aku tidak percaya, hanya saja aku ingin menyisihkan segala pikiran macam demikian. Bagaimana jadinya esok jika aku harus benar-benar melewati malam seorang diri di ruangan ini? Sudahlah, biar itu jadi urusan besok. Malam ini aku ingin menuntaskan penat, kemudian pergi tidur berharap esok sudah bisa menjadi sarjana, namun nyatanya tidak. Itu terlalu mustahil untuk direalisasikan wkwkw.

 

Situbondo, 15 Maret 2018

Nurita Wahyuni

Karya : Nurita Wahyuni