Perjalanan Akhir Masa Studi #4 (Perjalanan Akhir Telah di Mulai)

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Project
dipublikasikan 17 Maret 2018
Kisah Jalanan

Kisah Jalanan


Hidup ini sebuah perjalanan. Aku menyukai jalanan, menempuh perjalanan, darinya aku tau arti pulang. Karena jalanan mengajarkan sebuah hikmah, darinya kita mampu lebih memahami penelusuran kemenangan hati, hingga kita benar-benar pulang pada pemilik kehidupan yang abadi.

Kategori Petualangan

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
Perjalanan Akhir Masa Studi #4 (Perjalanan Akhir Telah di Mulai)

Perjalanan Akhir Telah di Mulai

Berbicara soal akhir rasanya segala sesuatu tiada yang  selesai secara penuh, yang ada hanya bentuk tranformasi perubahan menjadi bentuk satu ke bentuk lainnya. Teringat 3 tahun 5 bulan yang lalu statusku masih menjadi seorang mahasiswa baru. Tanpa idealis, mudah terprovokasi, cepat terinspirasi, dan punya semangat ala tahi-tahi ayam. Waktu telah berlalu dengan segala proses yang membentuk aku hingga hari ini, dan pada saat inilah adalah masa terpenting untuk menyelesaikan masa studi. Perjalanan akhir telah di mulai—welcome skripsi!

 

Jika skripsi memanglah jalan mengakhiri status mahasiswa strata satu, mengapa projek ini tidak dimulai sejak penyusunan proposal bahkan saat pembagian dosen pembimbing saja? Pasti banyak cerita kegalauan saat itu. Kalian yang sudah atau sedang mengalami fase sepertiku pasti sangat mengerti bagaimana hari-hari diliputi keresahan untuk mendapatkan judul. Khalayaknya seorang produsen film, menarik saja tidaklah cukup tapi harus memiliki nilai komersil. Komersil yang dimaksud  dalam konten ini yaitu nilai kebermanfaatannya dimasa depan—btw, bukankah setiap sesuatu yang diteliti untuk mencapai sebuah tujuan mensejahterahkan ya? Ah, dasar!

 

Berbicara soal skripsi pasti tak jauh dengan dunia tulis-menulis. Percaya atau tidak sebenarnya urusan menulis itu bukanlah hal yang menjemukan, kecuali jika malas mendera. Aku yakin setiap orang punya bakat untuk menuangkan ide menjadi sebuah rangkaian kata. Tak harus menjadi seorang pujangga terlebih dahulu untuk bisa menuliskan ide, apalagi untuk sebuah skrispi. Jadi, tantangan menyelesaikan skripsi yang sebenarnya (versi ku) yaitu ketahanan untuk menjalai segala sesuatu dalam setiap prosesnya.

 

Dalam menyelesikan tugas akhir, setiap kampus pasti punya strategi untuk membantu mahasiswanya lulus tepat waktu, bahkan kurang dari jatah masa pendidikan. Apalagi jika dalam serangkain penulisan skripsi dibutuhkan yang namanya research, entah itu yang sifatnya eksperimental atau survei—yang mengharuskan diri terjun dilapangan. Salah satu sistem yang sangat berkembang dikampus manapun yaitu sistem kelompokan. Selain mempercepat proses penelitian—karena dikerjakan secara bersamaan, juga bermanfaat untuk meredam perasaan tertekan jika ada kendala. Jadi, aku sangat merekomendasikan saat melakukan penelitian kita butuh memiliki yang namanya partner hidup, ehh, partner kerja maksudnya. Hehehe. Minimal dia yang bisa diajak ngobrol terkait permasalahan penelitian kita, bisa jadi melalui curhatan orang yang sebenarnya tidak terlalu mengerti dengan topik penelitian kita sebenarnya jauh lebih bisa berpikir jernih dari pada kita yang terlalu banyak memikirkan ini itu.

 

Sejak memutuskan mengambil judul penelitian ini, aku sudah teramat siap menerima segala konsekuensi melakukan segala sesuatunya seorang diri. Tanpa orang-orang yang ku kenal dengan baik dan jauh darimanapun. Sok drama benget nggak sih ya? Hahaha. Awalnya aku merasa sangat sulit untuk memulainya. Ada perasaan takut gagal, rasa cemas yang berlebihan, bahkan hal-hal aneh yang tiba-tiba muncul dalam pikiran dan semuanya serasa tak memiliki definisi. Terlalu abstrak. Mungkin ini yang disebut dengan syndrome balada mahasiswa tingkat akhir. Beruntung semua ketakutan itu hanya sementara saja. Sejujurnya sejak awal untuk membayangkan saja aku tak sanggup, itulah mengapa selama proses penyusanan proposal, perijinan dan persiapan aku tak pernah memikirkan resiko kedepannya. Bukannya mau melangkah tanpa rencana, hanya saja menghindari perasaan menyebalkan yang dapat mempengaruhi otak dan hati untuk tidak bekerja sesuai kapasitas kemampuan diri.

 

Dan tibalah saatnya, perjalanan memperoleh data telah dimulai. Banyak hal sederhana yang bisa menjadi permasalahan pelik, namun tak sedikit pula dari hal-hal sepele pun bisa menjadi pelajaran yang luar biasa. Sebagai seorang mahasiswa universitas yang notabennya mempunyai bekal teori yang lebih banyak daripada praktik, sungguh sangat menutut diri ini untuk berpikir kreatif. Apalagi dalam bidang perikanan yang segala sesuatunya butuh yang namanya keringat, lahh emang yang lain nggak? :D

 

Merasa kerepotan sendiri itu ada. Hanya sekedar men-list barang keperluan penelitian saja bisa jadi masalah, entah itu cara mendapatkannya, tingkat keterbatasan barang, bahkan sampai harganya. Mungkin seperti itulah, skripsi bisa disebut skripsi jika sudah tau bagaimana menyelesaikan pelaksanaan penelitian secara tuntas. Lain cerita lagi saat aku melaksanakan trial pertama, selang blower yang lepas saja bisa menjadi permasalahan rumit. Tak cukup satu atau dua kali tapi berulang kali. Sudah ku coba ku tutup dengan lakban hitam besar, tapi tak juga berhasil. Sempat berpikir untuk ku lem dengan lem paralon atau lem paling lengket didunia, namun pertimbangannya antara lubang blower dan selang sama-sama terbuat dari plastik, apalagi bahan plastik selang yang teramat lentur dan beresiko rusak jika bereaksi dengan bahan kimia. Kemudian setiap lubang kran aerasi yang tertangkap mata kubuka satu persatu agar tekanan angin tidak terlalu kencang. Finally, taraaaa!!! So simple banget sebenarnya tetapi terasa rumit karena merasa terbebani dan ada sedikit rasa mengeluh. Misal dengan mengucapkan “ah kok gini banget sih’ itu sudah cukup menunjukkan perasaan kita yang mengeluh.

 

Seperti pelajaran kehidupan pada umumnya, saat melaksanaan penelitian kita bisa mengambil teori dari sebuah praktek kerja secara langsung. Dulu dosen pembimbingku pernah berpesan, ilmu dan modal menyelesai skripsi itu hanya sabar dan ikhlas. Saat itu aku hanya bisa menggugu saja. Pada akhirnya disinilah aku sekarang, sedang mengamalkan teori sabar dan ikhlas.

 

Situbondo, 15 Februari 2018

Nurita Wahyuni         

 

  • view 67