Perjalanan Akhir Masa Studi #3 (Ketika Aku Kembali)

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Project
dipublikasikan 02 Maret 2018
Kisah Jalanan

Kisah Jalanan


Hidup ini sebuah perjalanan. Aku menyukai jalanan, menempuh perjalanan, darinya aku tau arti pulang. Karena jalanan mengajarkan sebuah hikmah, darinya kita mampu lebih memahami penelusuran kemenangan hati, hingga kita benar-benar pulang pada pemilik kehidupan yang abadi.

Kategori Petualangan

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Perjalanan Akhir Masa Studi #3 (Ketika Aku Kembali)

Ketika Aku Kembali*

Langkahku terus menjauh menembus dingin walau tak lagi menusuk seperti embun pagi. Setelah menempuh perjalanan selama lima jam pada akhirnya aku bisa sampai di lokasi tujuan. Luar biasa sekali, seharusnya dengan waktu tempuh demikian aku bisa mencapai pusat kota Jawa Timur. Banyak hal yang terjadi diluar dugaan saat bertemu jalanan, ya seperti kehidupan ini. Saat kita ingin menuju D dengan melewati jalan A-B-C, tetapi kenyataan kita harus melewati A-E-B terlebih dulu hingga menuju D.

 

Suasana balai masih sama sejak pertama kali aku datang. Setelah melakukan negosiasi ala tamu pada umumnya aku diantar seorang pengurus asrama menuju kamar. Letaknya cukup jauh dari kantor utama, berada dibagian ujung barat yang satu lokasi dengan tempat tinggal pegawai. Tepat di depan asrama terdapat beberapa petak tambak dan hatchery kecil tetapi cukup ramai jika peserta magang atau PKL sedang beraktivitas. Istimewanya asrama ini langsung menghadap ke timur, sehingga pantai yang berada dibalik tembok balai terlihat sangat jelas. Jika pagi menjelang, matahari pagi akan terlihat begitu menawan. Benar-benar mampu menyaingi resort mahal yang ada disepanjang jalan Ketapang di Banyuwangi.

 

Satu persatu anak tangga ku lewati, tiap pijakannya menghadirkan bayangan tiga tahun yang lalu saat aku melakukan magang mandiri. Meski kegiatan itu dilakukan selama dua minggu saja, tetapi cukup memberi kesan luar biasa. Saat menemukan anak tangga paling teratas, secara spontan perhatianku teralih pada kamar nomor 10. Bersama dua orang teman, kami pernah membuat kisah menarik setiap hari disana. Mulai dari sarapan hanya dengan sambel sampai rasa takut ingin segera tidur setelah mendengar sesuatu yang aneh.

 

Dari depan aku digiring menuju sisi kiri kamar, ujung sekali dan itu cukup jauh dari kamar yang lainnya. Perasaanku cukup antusias, mengingat babak baru akan segera ku selesaikan disini. Asrama tak cukup ramai ketika aku datang, mungkin para penghuninya sedang sibuk melakakukan kegiatan di unit kerja masing-masing.

 

Mataku menyapu seisi ruangan sambil memperhatikan setiap detailnya. Namun, aku gagal. Tiba-tiba saja apa yang ku lihat terasa jauh, sangat jauh. Sebenarnya kejadian serupa sudah sering ku alami dan sampai saat ini aku masih belum tau apa penyebabnya. Tak banyak yang ku lakukan di dalam kamar, setelah menaruh barang aku segera bergegas menuju laboratorium pakan alami. Rasanya aku tidak ingin melewatkan satu detik pun tanpa progres yang nyata. Setelah bertemu beberapa pihak yang akan membantu proses penelitian, pada akhirnya ku putuskan untuk kembali. Menata barang didalam lemari, menyikat wc, mandi dan tidur menjadi agendaku selanjutnya.

 

Suasana asrama tetap terasa sunyi hingga malam menjelang, bisa jadi para penghuninya sedang merasakan lelah berkepanjangan setelah berkutat dengan air dan para hewan piaraan. Pintu kamar sengaja ku buka, seolah menunjukkan bahwa kamar bernomor 16 ini sudah memiliki penghuni baru. Benar saja, tak lama setelah shalat magrib tiga orang perempuan mengucapkan salam sambil menawarkan beli air minum bersama. Memang tradisinya air minum asrama digunakan bersama dengan sistem iuran. Ketika mengetahui nama masing-masing secara otomatis aku menyadari jika diantara mereka akulah yang paling tua. Spontanitas aku mengucapkan kata “dik” sebagai salam perkenalan—padahal ini hanya trik semata agar aku tidak terlihat lemot luar biasa untuk menghafal nama seseorang, hehehhe. Dan kau tahu jika dua diantaranya adalah siswa SMK! Makin terasa betapa tuanya aku jika harus bercengkrama dengan mereka.

 

Tak butuh waktu lama untuk mengenal orang-orang yang ada disini. 4 orang dari SUPM Negeri Tegal, 5 lagi dari SUPM Negeri Kupang, beberapa dari Universitas Riau, dan dua orang berasal dari Universittas Gajah Mada—keduanya satu tingkat diatasku, dengan demikian aku cukup percaya diri jika aku bukanlah satu-satunya orang yang dituakan digedung ini.

            “Kamu yakin sendirian di kamar itu?” Tanya Mba Rossa dari UGM saat kami berada di luar ruangan.

            “Iya yakin lah Mba, emang kenapa? Ada yang aneh?” jawabku masih bingung.

            “Aku boleh masuk ke kamar mu?” pintanya saat kami sedang mengobrol di luar.

            Ekspresinya berubah secara tiba-tiba membuatku menerka bahwa telah terjadi sesuatu, tapi aku masih belum mampu memahami dengan baik.

            “Eh, kamu sama Fita aja kalau gitu. Jangan sendirian disini, dia pasti mau kok.” Nada suaranya masih sama.

            “Ah, apaan sih Mba. Serius nggak bakal terjadi apa-apa, aku berani kok.” Jawabku meyakinkan.

            Tanpa harus diceritakan secara detail sebenarnya aku sudah cukup mengenal suasana asrama. Bagaimanapun dua minggu di tiga tahun yang lalu benar-benar memberi kesan, Ya, walaupun tidak merasakan hal aneh tapi aku cukup tau dengan berbagai rumor yang ada digedung ini.

            “Eh, tapi aman kok. Kamu udah sholat juga kan?”

            Aku menggugu.

 

Setelah memastikan kesanggupanku dengan mendengar berbagai alasan, pada akhirnya Mba Rossa pamit undur diri bersama yang lain untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Perjalanan hari ini cukup melelahkan, meskipun demikian tak membut ku untuk pergi tidur lebih cepat.

 

Situbondo memang benar-benar berubah, walau tak terlihat secara fisik tapi suasananya selalu memberi kesan yang bermacam rasa. Setelah menyelesaikan naskah lomba, tepat pada pukul sebelas malam pada akhirnya aku bisa beristirahat juga. Malam kian larut, tapi suasana asrama masih begitu ramai. Suara musik pop barat terdengar begitu jelas sedang didengarkan orang lain di luar kamar. Suara gaduh dan tawa riang masih terdengar nyaring disebelah kamar. Aku sempat berpikir apa mungkin suara teman-teman dikamar 14 bisa terdengar sampai ke kamar? Padahal kamar sebelah benar-benar kosong tak berpenghuni. Sudahlah aku tak ingin berpikir macam-macam. Besok pagi sekali aku harus bekerja keras menyiapkan penelitian.

 

Bukan perkara mudah bagi pemula seperti aku, maklumlah aku hanya terlahir sebagai mahasiswa biasa yang tak pernah punya daya tarik di mata dosen untuk mengikuti proyek penelitiannya, meskipun dengan kode tipis-tipis bahkan dengan menawarkan diri secara langsung. Ah, aku benar-benar membayangkan bagaimana aku berupaya mencari pengalaman menjadi seorang scientist saat itu. Namun, pencapaian seseorang yang dianggap baik oleh orang lain di masa lalu tidak menjamin ketrampilan seseorang dihari ini. Asal apapun yang kita lakukan kemarin adalah sebaik-baiknya usaha untuk merubah diri menjadi lebih baik.

 

Sudah saatnya memberikan kesempatan badan dan pikiran beristirahat. Selamat malam Situbondo, selamat datang realitas kehidupan tugas akhir... Tuhan selalu bersama mahasiswa tingkat akhir.

Situbondo, 12 Februari 2018

Nurita Wahyuni

 

*Di tulis pada 3 Maret 2018

  • view 81