Perjalanan Akhir Masa Studi #2 (Tragedi Jalur Baluran)

Perjalanan Akhir Masa Studi #2 (Tragedi Jalur Baluran)

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Project
dipublikasikan 27 Februari 2018
Kisah Jalanan

Kisah Jalanan


Hidup ini sebuah perjalanan. Aku menyukai jalanan, menempuh perjalanan, darinya aku tau arti pulang. Karena jalanan mengajarkan sebuah hikmah, darinya kita mampu lebih memahami penelusuran kemenangan hati, hingga kita benar-benar pulang pada pemilik kehidupan yang abadi.

Kategori Petualangan

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
Perjalanan Akhir Masa Studi #2 (Tragedi Jalur Baluran)

Tragedi Jalur Baluran

            Matahari sudah berada ditengah hari. Tidak begitu terik, tetapi tetap terasa nyeri. Apalagi setelah bangun dari tidur kemarin, Oh, Tuhan, bayangannya teramat nyata, ia datang dengan seribu wajah yang tak bisa ku definisikan. Namun, setelah semuanya pergi aku tertawan oleh berbagai pertanyaan, rindu yang makin mendalam, juga sakit yang tak tertahankan.

            Baik hati juga pikiran saling berargumen menyatakan segala sesuatu yang terlihat itu adalah tanda kau harus melupakannya, kata si akal. Disusul hati yang berbicara menenangkan, bukan! Itu hanya cara Tuhan untuk menghitung suatu kadar apa yang kau rasakan. Setelah segala sesuatu didalam diri berbicara disinilah pada akhirnya—aku ingin menyerah. Tidak, bukannya untuk putus asa. Aku hanya butuh teman berbicara.

            Aku begitu hafal dengan sepanjang jalan setapak ini, menikmati sepi sebelum semuanya ramai oleh para pemilik kamar dari tanah rantau. Seperti biasa, ku intip suasana ruangan dari celah jendela, kemudian ku putuskan membuka pintu hingga membuat pemiliknya terbangun dari tirakatnya menatap layar gadget.

            “Bapaknya bilang aku disuruh segera survei ke lokasi.” Kataku saat berhasil melewati pintu.

            “Kapan?”

            “Belum tahu.”

            “Mending secepatnya deh, Nur.”

            “Tapi kapan?” jawabku masih ragu.

            “Besok.”

            “Tapi aku belum menghubungi Bu Wiwie.”

            “Siapa?”

            “Kepala Lab”

            “Hubungi sekarang kalau gitu, bilang besok mau kesana”

            Aku masih berpikir alasan apa lagi yang perlu ku lontarkan untuk menggagalkan perjalan besok.

            “Oh ya, aku baru ingat. Nomornya kan ada di buku, dan sekarang bukunya ada dirumah.”

            “Hubungi besok pagi saja kalau gitu.”

 Aku masih belum berhasil membuatnya ragu.

            “Emang sopan kalau dadakan gini?” Aku kembali memutar otak, “atau minggu depan? Sekalian konsultasi dulu sama dosbingku.”

            “Kan lebih bagus kalau menghadap beliau sudah ada progres yang jelas.”

            Aku berpikir sejenak.

            “Bener juga sih, ya sudah, besok pagi kita berangkat.” Jawabku pada akhirnya merasa kalah telak.

            Bagiku ini bukanlah hal yang baru, tetapi rasanya menempuh jarak 97 km hanya berdua saja menjadi suatu hal yang perlu dicemaskan. Tapi kenyataannya itulah yang harus ku hadapi esok hari.

Setelah membicarakan permasalahan inti, pada akhirnya aku berbicara juga dengan mimpiku kemarin malam. Adakalanya berbicara dengannya malah membuat tingkat baper meningkat, tapi bagiku terlalu sering melegakan hati dan pikiran. Dan untuk kali ini aku harus mengakui itu, ia berhasil mengambil hikmah dan membuatku percaya itu hanya sebuah mimpi, namun pada akhirnya menimbulkan harapan-harapan baru. Uh! sama saja tingkat baperku jadi naik satu level kalau begini. Seperti pembicaraan dua orang perempuan pada umumnya setelah membicarakan ini bisa menjalar ke itu, jadinya ini itu hingga kemanapun jua.

            Sebenarnya permasalahan ini bisa diselesaikan via telpon saja, tetapi aku berhasil mematahkananya dengan memutuskan menempuh jarak hingga 20 km. Eits, ini bukanlah kesia-siaan belaka, lebih dari itu.Terkadang kita sangat membutuhkan komunikasi dua arah dengan bertatap muka untuk hal-hal sepeleh. Dengan begitu kita akan mengerti bahwa didalam permasalahan sederhana juga membutuhkan energi untuk mendapatkan bala bantuan berupa tanggapan atau hanya sekedar menggugu pada suatu cerita.

            Di ujung tenggara sudah hilang beberapa berkas cahaya, malam telah menggantikan siang. Namun, pikiranku tak cukup memberi jeda untuk tidak memutuskan berpikir pada hal ini. Bukan, bukan masalah mimpiku semalam. Beberapa kali ibu membenarkan bacaan dzikirku setelah sholat magrib, ada beberapa yang terlewat dan ada yang keliru pelafalannya. Dalam hal begini saja aku sudah berani menduakan Allah. Pikiranku benar-benar tidak terpusat pada-Nya, hatiku benar-benar diliputi keresahan.

            “Ya, Rabb tak masalah jika aku harus mati ditengah jalan, itupun karena berjuang untuk mendapatkan ilmu-Mu.” Aku membantin, masih dalam bacaan dzikir meskipun hanya didalam mulut saja, “yakinkan aku secara penuh, Ya Rabb.” Aku menunduk begitu lesu, kemudian melanjutkan bacaan dzikir dengan pikiran yang tak lagi serumit satu menit yang lalu.

Setelah selesai aku beranjak mengambil ponsel. Ku pastikan bahasa yang ku gunakan benar-benar rapi dan sopan, luput dari segala typologi yang sering menjadi kebiasaanku, baru kemudian ku tekan tombol send tepat pada pukul 18.51 WIB. Lega sekali, tapi, Ya, Tuhan! aku benar-benar baru menyadari jika mengirim pesan malan-malam seperti ini sungguh tak sopan untuk pihak-pihak tertentu.

***

            Bagiku ini terlalu siang jika harus melakukan perjalanan panjang. Jujur saja aku tak cukup antusias untuk melakukan perjalanan ini, namun mengingat kewajiban didepan mata aku tak bisa lari atas semuanya. Kita perlu menjadi pahlawan untuk diri sendiri, berani tergopoh-gopoh untuk menyiapkan beberapa hal, misalnya.

            Motorku melaju dengan kecepatan sedang, terus menderu sambil mengingat perjalanan  yang telah lalu. Sebelumnya aku sudah pernah pergi ke BPBAP Situbondo menggunakan motor. Itu sebuah instansi milik kementrian perikanan dan kelautan, tahun itu aku survei untuk keperluan Praktek Kerja Lapang, dan kali ini untuk keperluan penelitian. Tahun yang lalu sekitar pukul setengah tujuh pagi aku sudah berada di jalur Baluran sambil mengamati anak-anak berseragam ataupun para pegawai yang melawan kabut hutan pohon jati. Namun, tak ada sesal sedikitpun ketika kenyataan menunjukkan aku akan telat di lokasi.

            Aku hanya tertegun melihat kondisi didepan mata, aku tidak kecewa setelah melewati perasaan terburu tiga puluh menit yang lalu. Mungkin itulah cara Tuhan mengajarkan diri untuk saling mengerti.

            “Kemarin kan aku bilangnya jam setengan tujuh atau jam tujuh sudah siap berangkat.” Sepertinya nada suaraku berubah sedikit jengkel.

            “Oh ya? Hehehe semalem baru tidur jam dua.”

            “Revisian?”

            “Nontom film.”

            Gubrak!

            “Ya, sudah siap-siap sana!” kataku sambil mengecek layar ponsel, barangkali bu Wiwie sudah membalas pesanku semalam.

            “Semalam Risna  ngubungi aku katanya mau ikut ke balai.”

            “Oh ya? Sip deh, kan rame jadinya.”

            Beberapa menit menatap layar ponsel alangkah indahnya jika waktu menunggu ku ini bisa digunakan untuk mengerjakan yang lain.

            “Aku ambil print-printan dulu kalau gitu.” Ku atur nada suaraku agar terdengar biasa. Sungguh aku tidak sedang marah, hanya saja aku ingin menjaga bahwa aku baik-baik saja jika harus menunggu beberapa menit. Toh, ku pikir—aku belum membuat janji jam berapa akan datang. Selama masih dalam waktu jam kerja bagiku aman-aman saja meskipun harus membuat pihak balai menunggu, hehehe.

            Rencana awal berangkat jam setengah tujuh, tapi kami baru berencana berangkat sekitar jam delapan itu pun belum termasuk menunggu kedatangan Risna, isi bensin, dan mengambil titipan teman.

            “Kata Risna suruh berangkat duluan. Dia mau ke kampus bentar.” Kata Mba Lutfi dibalik punggungku saat kami sudah beranjak pergi.

            “Bilangin kita jalan pelan.” Jawabku pada akhirnya setelah menunggu cukup lama.

            Setengah jam berlalu Risna pun tak kunjung terlihat dibagian barisan belakang. Tak lebih antara 60-70 km/jam spidometerku bergerak tak membuat Risna menyusul juga. Aku mulai khawatir apabila terjadi banyak hal dengannya. Meskipun penampilannya tak khayal seperti cowo dengan motor 150 cc bergaya sporty dia tetaplah seorang perempuan, apapun alasannya.

Sepanjang perjalanan menuju Situbondo banyak hal yang kami bahas. Bermacam-macam dalam segala aspek, mulai dari topik tugas akhir yang telah berubah dari kewajiban menjadi hobi sampai pada keadaan jalan. Hujan bulan Januari membuat hutan baluran menghijau, aroma dingin menusuk begitu tajam mulai dari pintu masuk. Kira-kira butuh waktu 30 menit untuk menaklukan jalur ini, memang tidak terlalu menakutkan melihat kendaraan telah banyak berlalu lalang menuju Situbondo dan sebaliknya. Satu persatu pemandangan khas hutan baluran kami temui. Para penghuni hutan mulai menampkan diri, bukan tentang banyaknya gelandangan seperti di jalur jember, tetapi gerombolan kera jawa yang sedang sibuk menonton kendaraan berlalu-lalang.

Tak jauh dari gerombolan monyet, tiba-tiba ditengah jalan ada satu monyet telah menjadi korban tabrak lari yang entah kemana pelakunya berada. Dengan kecepatan rata-rata diatas 70 km/jam tak khayal kejadian serupa tak bisa dihindarkan. Sekilas aku dapat melihat darah mengucur diseluruh tubunya, tidak ada yang rela menjadi penolongnya hingga ia tetap terkulai di tengah jalan. Aku tak berani berhenti, motorku terus melaju melewati gerombolan monyet yang semakin ke tengah hutan semakin banyak jumlahnya.

“Mungkin insting mereka kuat banget ngerasain suasana berduka.” Celetukku.

“Lha iya, makanya banyak banget gini ya hahaha.”

Kami pun tertawa, dan pada akhirnya para monyet ini begitu menarik menjadi bahasan kami.

“Dulu ibu ku sering nakut-nakuti kalau males sekolah bakal dipindahin ke sekolah PRT di jalan Kumitir.” Seru Mba Lutfi tiba-tiba, “itu sejenis sekolah buat monyet-monyet yang ada disana. Jadi kalau udah pindah kesana otomatis nggak bisa ngomong kan Nur.”

“Emang beneran ada?”

“Ya, nggak lah. Itu kan hanya karangan ibuku aja. Biar anak-anaknya rajin sekolah.” Lanjutnya, “apalagi disitu banyak gelandangan kan. Makin ngerasa beneran ada yang namanya PRT itu.”

            “Hahahaha, ada-ada aja lho.”

            Meskipun dengan berbagai candaan aku berusaha untuk tetap fokus dengan setir motor. Beberapa kali lubang aspal begitu saja ku lewati dengan tidak sengaja.

            “Ingat, yang dibonceng ini orang tua.” Mba Lutfi berteriak dibelakang dan aku tertawa.

            Masih dengan bahasan monyet yang makin tidak jelas kami tertawa makin tidak jelas pula. Beberapa kali melewati kendaraan lain aku tetap berhati-hati. Selama menjadi seorang rider jarang sekali ku mengendalikan motor melebihi 70 km/jam. Tapi untuk urusan ini sepertinya aku tak bisa mentolerir begitu saja, berhubung hari semakin siang aku pun juga harus memperhitungkan jam berapa nanti kami harus kembali ke Banyuwangi. Setelah berhasil melewati kendaraan lain, suasana jalanan terasa begitu lengang. Tak ada satu pun kendaraan yang bisa ku lihat—sekalipun itu dari arah berlawanan.

            Aku tak merasakan firasat apapun sebelumnya, jalanan beraspal ini terlihat begitu jauh. Teramat panjang dan sangat begitu aman, hingga pada akhirnya aku berpikir sebaliknya. Dengan kecepatan hampir mencapai 90 km/jam aku tak berhasil membelokan setir motor, menarik pedal rem pun percuma saja, aku tak bisa menghindari itu.

Akhirnya, braakkkkkkk!!!

Lubang besar menganga ku terobos begitu saja, “maaf nggak kelihatan.” Teriakku melawan angin.

Kami masih diatas motor dan tidak merubah posisi sedikitpun, oh, tidak Mba Lutfi yang berubah, dia terlalu kedepan hingga mengambil jatah dudukku kemudian berangsur menarik diri kebelakang.

Motor terus melaju sampai beberapa menit saja, namun setelah itu ada yang aneh dibagian ban belakang mengubah kendali motor semakin terasa oleng. Sebelum terlambat ku turunkan laju motor dan mencoba menepi memeriksa hal apa gerangan yang sedang terjadi.

Aku lemas, seolah tak punya otot di sekujur tubuh. Air perbekalan kami bocor dan segera saja Mba Lutfi mengamankan air itu. Kami tertegun cukup lama memahami apa yang sedang terjadi. Seperti sebuah makanan yang masuk kedalam kerongkongan yang sebelum sempat dikunyah—benar-benar membuat tersedak. Tawa kami pecah tiba-tiba, entah itu ekspresi dari definisi tertawa yang sesungguhnya atau hanya sekedar tawa penenang diri saja.

“Sini biar aku yang bawa!” Sahut Mba Lutfi mengambil alih motor dan menyalakannya sambil tetap berjalan.

Kami terus berjalan menuju arah Situbondo, aku sempat berpikir untuk berbalik arah menuju arah pulang, karena jika dihitung-hitung jarak tempuh menuju desa terdekat yaitu arah ke Banyuwangi. Namun, untuk kembalipun rasanya tak mungkin, ibaratnya sebuah perang pertempuran ini harus diselesaikan dengan tuntas. Seperti lagu Megy Z juga, jika sudah terlanjur basah ya sudah sekalian mandi.

“Mba, maafkan aku. Kan jadinya kita harus susah kaya gini.”

“Duh apaan coba.” Suaranya terdengar menenangkan.

“Tapi didepan sana ada pos polisi hutan kok.” Masih terus berjalan aku sibuk mencari sinyal, “mau minta tolong sama siapa kalau gini. Bener-bener zonk nggak ada sinyal.”

“Pake hapeku!”

“Ya ampun nyampe setengah Baluran aja nggak ada ini lho.” Seru ku sedikit panik, namun jauh direlung hati yang paling dalam aku benar-benar merasakan ketenangan yang teramat tenang. Mungkin karena azamku semalam, tidak masalah jikalau harus mati toh itu juga karena memperjuangkan untuk ilmu. Anggap saja sebagai bentuk jihad memperjuangkan ilmu pengetahuan.

“Mba, masih ingat jurus taekwondo?” Saat ku lihat ada mobil pick up menepi diseberang jalan.

“Iya tenang, masih ingat kok hehehe.”

“Apa kita minta bantuan si Bapak saja?”

            “Nggak ah, Nur. Nggak percaya aku.”

            “Lha, dari pada kita nggak jelas mau jalan sampai mana.”

            Satu persatu kendaraan bermotor, truk besar, dan kendaraan lainnya yang tadi sempat ku dahului sekarang berbalik mendahului ku. Mereka melihat kami dengan ekspresi tak terdifinisikan. Mungkin saja iba mungkin saja tak peduli. Oh, hidup benar-benar kejam seperti persaingan yang ada dijalan ini. Tak cukup hanya terus berjalan, aku terus mengutak-atik layar ponsel mencari nomor seseorang yang sekiranya bisa membantu. Tapi sia-sia saja, jaringan terbaik kartu perdana manapun tak bisa menyelinap diantara rimbunan pohon jati.

            “Mba disana ada  tukang tambal ban.” Tiba-tiba dua orang laki-laki sudah berada didepan kami dari arah lain, khas sekali dengan dialek suku madura.

            “Oh ya, mas terima kasih.” Sahutku berbasa-basi. Ya, setidaknya menghargai orang-orang yang sempat ingin peduli.

            “Tapi ya gitu mba, nggak ada orangnya.”

            Gubrakkk!!!

            Aku hanya nyengir kuda menanggapi pernyataan dua orang laki-laki ini yang sekarang sudah berada dibarisan belakang kami. Laju motornya teramat pelan tanpa menciptakan obrolan sedikitpun. Ku pikir ia juga mencari kesempatan untuk berkenalan, hahaha.

            “Mas nya duluan aja.” Kata Mba Lutfi sambil terus berjalan, merasa tidak nyaman jika harus dibuntuti seperti ini.

            Dibagian belakang tak ada respon.

            “Iya Mas, duluan aja. Terima kasih.” tambahku

            Meskipun aku bukanlah petualang sejati setidaknya berjalan sejauh ini tidak menjadi masalah bagiku. Hanya saja kesenyapan hutan baluran menjadi hal yang teramat mencekam untuk dua perempuan berpenampilan sangat feminim seperti kami. Meskipun Mba Lutfi jago taekwondo tapi penampilannya tak cukup menyeramkan dimata penjahat.

            Setelah berjalan sejauh 500 meter akhirnya kami menemukan pos polisi hutan yang pertama. Langkahku mendahului Mba Lutfi dibelakang, ku periksa dua gedung yang ada disana. Namun, teramat mengecewakan saat harus ku akui tak ada satupun manusia yang bisa diandalkan. Tak lama kemudian mobil pick up hitam berplat nomor W menepi dari arah Situbondo. Lelaki paruh bayah dengan berpenampilan teramat sederhana menyapa kami layaknya seseorang yang memberi bantuan.

            “Bocor mba?”

            “Iya pak, tadi nambrak lubang langsung pecah ban belakangnya.” Jawabku.

            “Minta tolong temennya yang cowo itu buat ngangkat.” Seru si bapak sambil membuka penutup mobil pick up nya.

            Rasanya wajahku sedang berbinar bahagia. Di ujung belakang dua orang lelaki tadi berdiskusi yang tak ku ketahui apa yang mereka bicarakan. Tanpa turun dari motor, keduanya melanjutkan perjalanan tanpa berbasa-basih.

            “Mba kami duluan kalau gitu.” Serunya setelah tarikan gasnya membuat ia berubah posisi.

            Aku menganga heran kemudian reflek berteriak terima kasih. Ku pikir aku akan segera menemui bapak tukang tambal ban, ternyata tidak. Kami harus berpikir bagaimana caranya motor ini bisa berpindah posisi diatas mobil.

            “Saya kira itu temennya Mba.” Sesal si bapak setelah kami menjelaskan siapa dua orang itu. “Mba pegang bagian belakang,” mengintruksi Mba Lutfi, “Mba nya angkat bagian depan barengan sama saya,” selanjutnya menginstruksi ku. Pada akhirnya satu, dua, dan tiga. Dia sudah berada di atas mobil pick up dengan berbagai kekuatan yang ternyata tidak terlalu berat seperti yang ku bayangkan.

            Saat kami sibuk mengekang tali di setiap ujung, tiba-tiba deru motor dari arah yang juga berlawanan menghampiri kami, dan taraaa lihatlah siapa yang datang.

            “Mba ngapain?” Risna pada akhirnya bergabung dengan kami dengan gelak tawa yang tak tertahankan.

            “Ban belakang pecah, hahahaha” jawabku. Sambil bersahutan aku dan Mba Lutfi menjelaskan kronologi beberapa menit yang lalu.

            “Bentar-bentar mba, situ aja.” Dia mengeluarkan ponsel dan mengambil gambar kami yang masih belum selesai tertawa, “foto dulu.” Sambil mengangat tangan sehingga kamera terlihat menghadap wajah kami. Entah kenapa aku pun mau tersenyum begitu riang dihadapan kamera, dasar generasi mileneal!

(Dari kiri: Risna, Nurita, Mba Lutfi, dan bapak-bapak dari sidoarjo)

            Sepanjang jalan bapak penolong ini bercerita banyak hal, kalimat basa-basi juga kami lontarkan untuk mencairkan suasana. Aku tak bisa membayangkan harus menunggu berapa lama jika bapak ini mengurungkan niat berbalik arah saat melihat kami. Aku tak bisa membayangkan jika Risna berjalan terus dan tidak menyadari jaket angkatan yang ku kenakan. Dan aku pun tak bisa membayangkan jika saja aku tak pernah menerobros lubang besar ditengah jalan. Ah, pasti cerita ini tak kan pernah ada.

            Di ujung jalur baluran pada akhirnya kami menemui tukang tambal ban. Tak tanggung-tanggung berapa lubang yang harus ditambal, karena semuanya tak cukup jika hanya sekedar menutupi saja melainkan harus diganti dengan ban dalam baru.

            “Beneran bawa uang mba?” Nada suara si Bapak terdengar sangat khawatir. Ya, maklumlah kantong mahasiswa tak sedalam kantong para pekerja.

            “Iya Pak, ada.” Sambil berpikir sebenarnya aku tak punya uang chas dan sudah habis separuh untuk membeli bensin, alhasil hutanglah yang menjadi pilihan.

            Perjalanan kembali dimulai menuju balai. Tak ada kendala sedikitpun hingga sore menjelang. Setelah menemui beberapa pihak yang bisa membantu memenuhi informasi penelitianku, langkahku tersandat setelah Kepala Teknisi Balai mengintruksi ku untuk menemui beliau di ruangannya.

“Pak Iwannya ada?” tanya ku pada beberapa orang yang sepertinya juga memiliki urusan yang sama dengan beliau.

“Iya Mba, tapi ngantri dulu ya.”

Ya, mungkin menunggu benar-benar menjadi rutinitas yang tak pernah luput dalam kehidupanku. Setelah menunggu hampir setengah jam, bukannya aku bisa menemui beliau yang ada aku harus menelan ludah gara-gara Pak Iwan harus pergi untuk mengisi diskusi mingguan.

“Selalu Pak Iwan ya yang ngisi?” tanyaku kepada dua orang yang telah rampung menyelesaikan urusannya.

“Iya Mba. Selalu.” Jawab salah satu dari mereka yang kurasa adalah jawaban yang teramat menjengkelkan untuk didengarkan.

 

Aku keluar dari gedung utama di balai ini dengan perasaan yang tak menentu. Hari makin sore dan langit terlihat mulai  meredup menandakan hujan akan segera datang. Setelah menunggu sekian lama, pada akhirnya ku putuskan untuk menghubungi beliau lewat pesan singkat whatshap. Tepat pada pukul 15.00 wib kami beranjak pulang dan meninggalkan Situbondo dengan segera.

 

Hari makin larut, puluhan kendaraan saling mendahului berharap agar segera sampai dilokasi tujuan. Aroma hujan mulai menusuk syaraf hingga melewati ujung baluran tetesan hujan baru kami temui dengan syahdunya. MasyaaAllah tak bisa ku bayangkan apa jadinya melawan hujan ditengah hutan.

 

Andaikan kehidupan ini bisa dibawa sesantai melawan rasa takut ban bocor pasti akan terasa ringan dibandingkan luka yang dirundung hingga berlarut-larut. Tapi sayangnya hidup tak sebercanda itu. Boleh sesekali agar otot kepala tidak mati rasa bahwa hidup bukan sekedar garis tegang lurus yang mengekang batin untuk bersikap sewajarnya

 

Peristiwa ditengah hutan baluran pasti menjadi satu kisah diantara ribuan Kisah Jalanan lainnya yang teramat menarik yang pernah ku alami. Memahami bahwa tak semua musibah yang kita alami adalah sebuah bencana secara penuh. Semuanya punya nilai untuk dipahami setelah semua telah terlewati oleh waktu. Seandainya hari itu akan tetap berjalan dengan sesuai rencana mungkin jalan pulang ku tak selancar tadi. Ternyata Allah benar-benar memberi ruang untuk menyelamatkan diri ini dibalik kejadian molornya waktu keberangkatan, ban bocor dan menunggu kepastian informasi dari pihak balai. Keesokan harinya aku menerima kiriman gambar dari seorang teman yang menunjukkan kejadian sore hari pada Jum’at, 02 Februari 2018. Ternyata satu diantara titik jalur baluran sedang terjadi banjir bandang dan hujan lebat. Allah adalah sebaik-baiknya perencana diantara harapan dan segala apapun yang direncanakan oleh manusia.

 

Berprasangka baik adalah pilihan terbaik untuk menerima segala sesuatu untuk menjadi sebuah penerimaan hidup yang terbaik, sekalipun itu adalah sebuah luka dan rasa patah. Biar ban bocor ditengah hutan itu tertinggal menjadi sebuah kenangan, terkubur dengan waktu di masa lalu. Lalu akan ku bawa nilai hikmanya sampai ku temukan orang-orang baru yang mau mendengarkan cerita kacanganku ini tapi bermakna hingga kapanpun jua.

Dari Banyuwangi, hingga Situbondo, 02-27 Februari 2018

Nurita Wahyuni

  • view 117