Hati-hati, Sosial Media Itu Bisa Menjadi Morfin

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 09 Januari 2018
Hati-hati, Sosial Media Itu Bisa Menjadi Morfin

Sosial media itu ibarat sebuah morfin, membuat candu untuk kembali menikmati tanpa peduli waktu untuk berhenti. Seperti dua mata pisau, sosmed bisa menjadi senjata untuk mengudara tetapi juga sebagai senjata untuk mengubur diri dalam lembah kesengsaraan. Seorang teman saya pernah mengucapkan seribu terima kasih kepada handphone-nya sendiri dalam sebuah status. Ucapan untuk semua perjalanan yang telah membantunya menyelesaikan segala bentuk tugas kuliah dan kalimat penyesalan dari terima kasihnya yang telah menghabiskan waktu selama berjam-jam hanya untuk berselancar di sosial media.

 

Segala bentuk kemajuan komunikasi saat ini memang tak bisa terhindari, bahkan sudah merasuk menjadi life style manusia dibelahan bumi manapun. Sebuah penyedia layanan telekomunikasi Ericsson menyatakan bahwa, pengguna internet di Indoensia meningkat pada tahun 2017 sebesar 10 juta orang. Hal ini membuat Indonesia menempati posisi ke 3 setelah India dan China. Fakta lainnya yaitu rata-rata setiap orang Indonesia menggunakan internet selama 8 jam 44 menit per hari dan selama 3 jam 15 menit dihabiskan untuk menatap laman sosial media. Angka yang fantastis bukan? Jika waktu yang digunakan bersosial media dialokasikan untuk membaca buku, kira-kira sudah ada 190 halaman terselesaikan dengan kecepatan membaca normal. Sudah terbayang kan ada berapa buku yang sekiranya bisa kita selsaikan dalam waktu sebulan?

 

Meningkatnya pengguna internet di Indonesia menjadi kabar baik dan buruk. Kabar baiknya menunjukkan penduduk Indonesia tergolong dalam masyarakat yang aktif dan up to date dalam mengakses segala bentuk informasi. Bisa jadi sekian banyak dari penikmat teknologi ini merupakan golongan orang kepoers yang mempunyai rasa ingin tahu yang sangat tinggi terhadap apapun. Secara otomatis kemudahan ini tak elak membuat orang Indonesia menjadi manusia yang unggul dalam berbagai pengetahuan, baik itu secara formal maupun non formal. Sayangnya, segala informasi yang ada di internet tidak serta merta dapat kita terima begitu saja. Masih banyak sekali informasi yang perlu di tanyakan tentang validasinya. Apalagi informasi yang disajikan internet cenderung tidak ditampilkan secara penuh. Inilah yang membuat resiko adanya berita hoax karena tidak dijelaskan secara detail.

 

Dan kabar buruknya, jika sekian juta orang itu hanya memanfaatkan internet hanya untuk bersosial media belaka, apalah daya ternyata otak manusia tak khayal hanya menjadi budak yang tergelindas dengan arus kehebatan teknologi masa kini. Seperti menghabiskan waktu hanya untuk stalking seseorang untuk memuaskan rasa penasaran saja. Memang akan sangat bermanfaat jika kita seorang anggota intelegensi negara, tapi jika kita hanya seorang golongan masyarakat biasa yang menghabiskan waktu memuja orang lain itu yang sangat disayangkan.

 

Tak dapat dipungkiri, saya pun merupakan pengguna sosial media aktif. Beberapa akun sosial media yang saya punya saat ini seakan menjadi kebutuhan yang sangat sensitif wajib untuk di miliki. Apabila di asumsikan sebagai pecandu saya pernah berada di posisi itu. menikmati segala bentuk perjalanan fitur-fitur sosial media, menghabiskan waktu selama berjam-jam hingga lupa bagaimana cara untuk menghentikannya. Be like morfin. Terus seperti demikian tanpa henti sampai saya pernah merasakan seluruh telapak tangan merasakan perubahan suhu yang luar biasa. Panas tak terkira tetapi pekerjaan itu terus saya lakukan hanya untuk memenuhi hasrat ingin tau pada hal-hal yang tidak penting. Bisa jadi saat itu proses radiasi handphone sedang bereaksi pada tubuh saya.

 

Setelah itu jangan tanya dampaknya, memang dampak secara fisik belum terlihat dan saya bergidik ngeri membayangkan apa jadinya tubuh kita yang sering terpapar sinar radiasi ini. Dampak sosial yang sangat terasa yaitu terbengkalainya berbagai macam jenis pekerjaaan sampai hal yang sepeleh pun seperti mencuci baju. Sungguh berbahaya, bagi saya indikator manajemen waktu yang tidak baik itu bisa dilihat dari menumpuknya cucian hehehe.

 

So, bukan sekedar saya, tapi kita bersama harus mampu menyikapi penggunaan sosial media secara bijak. Tidak harus ditinggalkan secara penuh, itu malah membuat diri kita tidak berkembang. Ingat kita masih perlu lho untuk eksis, tapi harus eksis yang bertanggung jawab. Bukan sekedar pamer tetapi bertujuan untuk saling memotivasi dan menginspirasi. Jika kita mampu menggunakan media sosial dengan baik tak khayal kita tidak akan mati menjadi penonton saja, tetapi bisa menciptakan adikarya luar biasa dan bisa sebagai branding diri di mata dunia. Jangan sampai sosial media menjadi morfin yang menggelapkan masa depan. Menghilangkan akal bahkan menghancurkan diri dari berbagai sikap untuk berkembang.

 

Saya jadi teringat dengan nasihat Aa Gym mengenai penggunaan waktu, bahwa setiap waktu yang telah Tuhan berikan akan dipertanggung jawabkan secara nyata di yaumul akhir nanti. Sudah dibawa kemana segala nikmat waktu yang Tuhan berikan kepada kita? Digunakan dalam kegiatan yang bermanfaat atau tidak? Berdampak pada diri secara positif atau sebaliknya? Semoga waktu yang kita gunakan untuk bersosial media merupakan bentuk ibadah menuju jalan-Nya. Ini juga sebagai peringatan untuk diri saya sendiri. Semangat menjadi pengguna sosial media yang bijak.

Banyuwangi, 08 Januari 2017

Nurita Wahyuni

Sumber Gambar: Klik Disini

  • view 92