Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 2 Januari 2018   14:30 WIB
Nyaris Menjadi Bekas

Bisa jadi waktu itu menjadi hari terberat bagi keduanya. Meninggalkan kota seribu kenangan, pengalaman,  juga langkah perbaikan diri yang luar biasa. Aku melihat banyak perubahan dari mereka berdua, meskipun saat itu umurku masih terbilang anak-anak namun aku sudah bisa membedakan mana diri yang pandai menerima kehidupan. Setelah Cak Agus—adik bungsu ibu—meninggal tanpa sakit, banyak hal yang membuat berbeda. Meskipun tidak merubah keadaan secara kontras, tetapi cukup merubah makna dan suasana dari ada menjadi tidak adanya beliau diantara keluarga. Kala itu aku tak habis pikir tentang pilihan Kakek dan nenek untuk tetap tinggal diantara suasana sendu. Bisa jadi, segala suasana kota Surabaya adalah obat pelipur lara saat anak yang begitu mereka harapkan hanya tersisa dengan jejak nama.

            Setelah 7 tahun berlalu, akhirnya bapak ibu dan seluruh kerabat berhasil membuat mereka luluh untuk kembali merajut kehidupan di kampung kelahiran. Aku masih teringat bagaimana perdebatan sengit itu terjadi. Ketika luka lama benar-benar harus terkubur beserta kenangan dengan meninggalkan kota impian selama-lamanya. Berbagai macam jenis barang mereka kemas dengan baik, bahkan perobatan rumah tangga seperti panci dan wajan tak luput masuk dalam daftar bawaan pulang.

            “Apa ndak sebaiknya di jual saja di pasar loak barang-barangnya, Pak?” Ibuku berceletuk sambil terus memasukkan barang ke dalam kardus.

            “Dulu, Bapak kalau beli barang itu butuh waktu lama. Sekarang sudah punya malah di lepas gitu aja.”

            “Ya nanti, uang hasil jualannya bisa buat beli lagi di rumah pak.”

            “Rasanya bakalan beda nduk.”

            “Bapak kan sudah tua, ndak baik kalau Bapak dan Ibu bawa barang berat dan sebanyak ini kan? Lagian yang jemput Bapak cuma dua orang.”

            Masih terlihat ekspresi tidak rela Kakek untuk melepas barang hasil jerih payahnya. Berbagai alasan terus ibu gencarkan agar Kakek mau menjual barang-barang ini. Pada akhirnya, kakek mengalah juga membiarkan semuanya habis oleh tengkulak pasar loak.

            Satu persatu barang-barang dari lemari dikemasi, bahkan buku-buku almarhum Cak Agus tak luput dalam ide terjual dipasar loak.

            “Kalau yang ini Bapak pengen bawa pulang. Meskipun kamu ndak ngebolehin Bapak ndak peduli.”

            Tanpa komentar, ibu terus melakukan pekerjaanya. Menghindari perdebatan yang semakin rumit. Rasanya melihat persetujuan beliau untuk kembali pulang saja sudah menjadi kabar gembira, tak mungkin juga hanya gegara barang-barang yang perlu ditinggal malah membuat mereka untuk mengurungkan niat. Melihat ratusan tumpukan buku yang tak mungkin dibawa dengan wajar membuat orang tuaku mencari cara, setidaknya sebagian dari buku ini bisa tertinggal di Surabaya.

            “Pak, sepertinya ndak mungkin kalau semuanya harus dibawa pulang. Nanti bisa-bisa harus bayar uang tambahan buat barang.”

            “Ya sudah, kalau begitu dipaketin saja.” jawab Kakek tidak mau tau.

            “Toh kan bisa disumbangin ke pesantren depan kontrakan. Kalau ndak gitu bisa diberikan ke teman sekolahnya Agus.”

            “Bapak sudah sering ngasih buku-buku Agus ke temen-temennya. Apalagi pesantren di depan. Kitab-kitab yang dia punya sudah habis di bawa pengurus.”

            Aku tak habis pikir. Sekiranya ada berapa ratus eksemplar koleksi buku Cak Agus? Sungguh aku tak sanggup membayangkan, yang terlihat mata saja sudah ada 3 kardus karton berukuran besar, hampir sebesar ukuran televisi 21 inchi, dan masih ada yang tersisa.

            “Lagian kalau dibawa ke rumah ndak ada yang baca Pak. Sama aja nyampe sana juga bakal dikasihkan ke orang lain.”

            “Yawes terserah Bapak toh mau disumbangin ke siapa, yang penting sisa buku ini di bawa pulang ke Banyuwangi dulu,” Masih belum mengalah.

            “Surabaya Banyuwangi itu 7 jam lebih pak. Iya kalau dapat tempat duduk di kereta, kalau ndak ya sama aja repotnya.”

            “Kalau ndak pengen repot ya di paketin aja.” Masih dengan nada ketus. Setelah itu kakek berlalu begitu saja melewati setumpuk barang  yang masih memenuhi ruang tamu.

Sekembali dari balik pintu kamar Kakek membawa map kuning dan diitaruh begitu saja diatas buku lainnya. Tidak peduli seberapa penting dokumen itu. “Sekalin itu dibawa juga.”

            Segera saja ku ambil map kuning itu membuka lembar demi lembar yang tak ku mengerti isinya. Semakin menemukan berkas-berkas yang tak biasa membuatku semakin penasaran. Seketika itu pula ku rasa kertas-kertas ini tergolong dokumen penting, dan entah mengapa kakek membiarkannya begitu saja untuk dimasukan kardus. Yang lebih membuat penasaran mengapa Kuala Lumpur menjadi kota tujuan dari semua berkas ini?

“Dulu Cak Agus mau sekolah lagi di Malaysia?”

Sepi. Tak ada jawaban. Hingga beberapa menit berlalu suasana masih sunyi juga.

Nenek yang sedari tadi diam seribu bahasa masih juga bungkam tak berkomentar apapun. Sedang Bapak Ibu seakan tak mendengar sama sekali pertanyaanku, mereka tenggelam dalam pekerjaannya masing-masing. Kemudian Kakek hendak mau mengucapkan sesuatu tapi di urungkan begitu saja.

“Memangnya ini sebuah aib, sampai-sampai Bapak atau Ibu ndak kasih jawaban. Kakek sama nenek juga diam.”

            Kakek ku kaget bukan main. Kemudian memutuskan memperbaiki posisi duduk mendekati ku. Aku yakin 30 detik lagi beliau akan menceritakan banyak hal.

            “Rencananya gitu, tapi kalau Allah memutuskan takdir tidak sesuai apa yang kita rencanakan mau bagaimana lagi? Teruslah jadi orang baik nduk, mau belajar dari manapun,” ia mulai menerawang segala sesuatu yang ada dilangit-langit atap rumah. “Dulu Pak Lik mu itu  suka banget baca buku, jadinya punya motivasi bercita-cita tinggi. Buku apa saja, mulai dari agama, pembahasan umum, bahkan buku pengobatan tradisional juga dia baca.” Dan bola mata hitam itu mulai berkaca-kaca.

            “Semangat belajarnya luar biasa. Kamu juga harus gitu. Agus jarang sekali yang namanya beli baju baru. Kalau sudah punya uang pasti habis buat beli buku. Celananya juga beberapa potong saja, tapi diputer berulang kali biar kelihatan punya celana banyak.” Kakek tertawa lemah, “jadi apa mungkin dengan teganya Bapak mau ninggalin buku-buku Agus tanpa dinikmati oleh saudara ataupun keponakannya? Rasanya ndak adil saja,” ia menatap ibu tanpa mendapatkan balasan.

            “Agus pasti seneng kalau melihat keponakannya, mba yu-nya atau siapapun yang ada di rumah sana baca buku-buku ini.” akhirnya suara nenek terdengar juga dalam ruangan.

            “Nggeh sudah Bu, Pak, kita bawa pulang semua buku-buku Agus.” Jawab Bapak pada akhirnya.

            Ku pandangi lekat-lekat wajah kakek nenek, rautnya menggambarkan suasana yang teramat bahagia. Tidak terbalas dengan kata apapun. Aku pun mulai mengerti bahwa melalui buku manusia dapat berilmu, bermimpi dan memperjuangkan mimpi. Buktinya Cak Agus yang notabennya anak desa telah mampu memperjuangkan impiannya hingga menuju negeri Jiran. Bisa jadi, jika beliau masih ada sudah pasti dia akan banyak menjadi inspirasi ku. Mendukung segala impian ini hingga pada batas atau tak terbatas sekalipun. Semoga segala sesuatu yang engkau tinggalkan bisa menjadi amal jariahmu yang tak kan terputus hingga yaumul kiamah nanti. Allahuma Aamiin...

Banyuwangi, Oktober 2017

Nurita Wahyuni
Sumber Gambar: Klik disini

Karya : Nurita Wahyuni