Zona Layang-layang

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 29 September 2017
Zona Layang-layang

 
            Kadang memang terasa pahit jika hanya memandangmu dari jarak yang begitu jauh. Seperti layang-layang yang melewati wilayah langit tanpa batas. Padahal hariku selalu diliputi harap-harap cemas agar kau bisa terbang lebih lama dalam zona ku. Namun, semuanya serasa mati—beku oleh kenyataan. Ya, tentang sebuah realita kau memang harus berkelana dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Meski ku rasa kau nyaman dengan berbagai zona, tapi analisa sederhanaku mengatakan itu tak bisa menjamin kau akan tetap tinggal.

            Padahal angin ku sudah sering ku ulang agar terlihat lebih syahdu. Menggiring segala lara untuk pergi menjauh, membawa segala bentuk kesejukan untuk mencoba menyakinkan kau bahwa zonaku adalah tempat pulang dan tinggal mu. Namun, nyatanya kaulah layang-layang sejati. Berpetualang hingga pada masa yang tak ku ketahui.

            Tanpa menutup kemungkinan, zona ku bisa saja menjadi tempat ternyaman bagi layang-layang lainnya. Menawarkan segala bentuk kesetiaan untuk terbang mengangkasa. Semuanya membuatku sering ragu, sebenarnya kau berada dalam takdir siapa? Perlukah aku mengacuhkan layang-layang lainnya? Membuat ia lepas tanpa angin sedetikpun? Atau mungkin ku berikan harapan dan kesempatan meskipun itu tidak sedamai angin yang ku hembuskan padamu? Lagi-lagi semuanya membuat ku menarik ulur hembusan angin, antara pernyataan menyerah, bentuk merelakan, melepaskan, membiarkan, ataupun melihatmu dengan hati merajam dalam zona lainnya.

            Parahnya saat aku benar-benar yakin bahwa langitku harus segera terisi dengan jiwa yang lain, kau kembali untuk menawarkan hari yang lebih baik. Lalu akan ku bawa kemana keyakinanku yang hakiki ini? Sampai-sampai aku lupa berprinsip itu seperti apa, jika kehadiranmu membuat angingku bergoyah untuk terbang lebih tinggi. Namun, lagi dan lagi. Kau tak pernah memberi kepastian bahwa kau ingin tinggal atau sekedar bersua pada langit yang pernah kau jejaki ini. Tak pernah kau bertanya, dan akupun enggan untuk memastikan. Dengan berbagai alasan apapun, aku tak mampu lakukan itu.

            Pada akhirnya, ku biarkan saja zonaku terisi atau kosong sekalipun, sambil melepasmu dengan kedamaian. Membiarkanmu melanjutkan petualangan tanpa ku temukan jawaban. Merelakan dengan kelapangan jiwa atas takdir yang tak bisa ku genggam. Bukannya ingin menyerah, tapi realitas kehidupan telah menunjukkan bahwa relasi tanpa ikatan itu kosong, baik itu dalam senar layangmu ataupun dengan zona ku. Tali pengikat yang begitu keramat. Tak bisa dimainkan oleh mereka yang hanya berorientasi pada kepuasan sesaat. Namun, pada tuju dan arah akan dibawa kemana antara zonaku dan talimu dalam mengarungi batas-batas langit Tuhan. Orang bilang, ikatan itu adalah akad.
 
Banyuwangi, 29 September 2017 23.48 WIB
Nurita Wahyuni

Sumber Foto: https://pixabay.com/p-1769996/?no_redirect

  • view 158