25 Hari Kehidupan di Peratapan Bagian Bengawan Solo (Bagian 2)

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Project
dipublikasikan 05 Agustus 2017
Kisah Jalanan

Kisah Jalanan


Hidup ini sebuah perjalanan. Aku menyukai jalanan, menempuh perjalanan, darinya aku tau arti pulang. Karena jalanan mengajarkan sebuah hikmah, darinya kita mampu lebih memahami penelusuran kemenangan hati, hingga kita benar-benar pulang pada pemilik kehidupan yang abadi.

Kategori Petualangan

357 Hak Cipta Terlindungi
25 Hari Kehidupan di Peratapan Bagian Bengawan Solo (Bagian 2)

Desa itu adalah Poros dan Kenyataan Kehidupan           

Hamparan sawah, tiang-tiang listrik, matahari terbit, juga aroma embun pagi. Semuanya tersaji begitu menawan. Meski ini bukan yang pertama, namun suasana desa selalu membuatku jatuh hati. Sepertinya tiada alasan yang kuat selain kedamaian jiwa antara alam dan manusianya yang saling bersinergi. Memasuki Dusun Bakalan Desa Klepek, romantisme hubungan antar sesama serasa merasuk dalam jiwa. Bagaimana tidak, saat kami selesai menunaikan sholat asar tiada satupun warga yang beranjak dari tempat duduknya. Menanti salah satu diantara kami berbicara sepatah dua kata untuk menghilangkan rasa penasaran. Sesekali diantara kami melempar senyum hormat dan dibalas senyuman hangat.

            "Kami dari KKN UNAIR bu" sambut kami pada akhirnya.

            "Dualah arek KKN toh" salah satu dari mereka berseru dalam bahasa jawa.

            Secepat itu pula obrolan ringan mulai tercipta mulai dari pertanyaan umum seperti dari mana kami berasal sampai pada tujuan utama untuk mensosialisaikan pentingnya penggunanaan WC di rumah. Sikap terbuka dari warga desa adalah magnet menciptakan perasaan  nyaman untuk tetap tinggal. Selalu memberi kesan betah dengan segala fasilitas yang ada.

            Mungkin diluar sana banyak yang memandang sebelah mata, jika kehidupan desa hanyalah bagian kehidupan yang tertinggal oleh perkembangan jaman. Jauh dari mode fashion, diferesnsiasi jenis makanan, sampai cara berkomunikasi. Namun, bila ditelusuri lebih jauh desa adalah poros segala kehidupan. Bahkan apapun yang masuk dalam perut kita adalah salah satu bentuk kontribusi desa dalam memberi penghidupan pada masayarakat. Seperti Iwan Fals katakan dalam lagunya, desa adalah kenyataan dan kota adalah pertumbuhan. Lalu bagaimana bisa kita memandang kehidupan di desa jauh dari kata menyenangkan?

            Klepek mengingatkan ku dengan Krasak, sepanjang jalan menuju Blimbingsari, ataupun kesederhanaan Cungking. Semuanya mengajarkan tentang salam kehidupan untuk saling menghargai dan menghormati. Pernah suatu ketika aku merasakan suasana hati yang berbeda. Pagi itu aku memutuskan diri untuk jalan kaki menuju kampus, sepanjang melewati gang-gang kecil di kelurahan cungking, sapaan ringan dan senyum yang tulus masyarakat seketika membuat suasana hati berbeda seratus delapan puluh derajat. Entahlah, ada rasa bahagia yang tak terdefinisi.

 

            Euforia kebahagian itu terulang kembali saat aku memasuki kota bagian dari bengawan solo ini. Sesederhana apapun kondisi pedesaan tetapi ia mampu menghandirkan rasa damai dan ketenangan. Saling menghormati itulah satu dari komponen tercipta kehidupan yang tenang. Ketenangan yang berasal dari rasa saling menghormati. Menghormati apapun. Mulai dari membalas senyum sampai cara menggunakan teknologi untuk kepentingan umum. Sesederhana itu kuncinya dan sedamai itu hasilnya. #KKN-BBM UNAIR 56

Bojonegoro, 23 Juli 2017

Nurita Wahyuni

  • view 58