Memahami Siklus Semester Tua

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Juli 2017
Memahami Siklus Semester Tua

 
            Menjelang penutupan semester genap ini saya ingin menuliskan sesuatu. Sebuah catatan seorang mahasiswa yang hampir memasuki usia rawan yang disebut dengan semester tua. Dulu saat masih disebut maba banyak yang memberi nasehat seperti ini ”Belajarlah dengan baik, gunakan potensimu dengan seoptimal mungkin. Kalau sudah tua dan merasakan malas pasti akan susah untuk menghilangkannya.” Saat itu saya merasa tidak habis fikir, sikap sesorang untuk memutuskan mau belajar terus atau tidak tergantung pada diri sendiri. Kemauan itu murni dari dalam diri, bukan sebuah siklus yang harus dipercayai bahwa fase itu akan benar terjadi. Dan kini saya berada pada posisi yang disebut mahasiswa (hampir) tua. Saya sebut demikian karena semester 6 saya belum terselsaikan secara tuntas sebelum memasuki masa penerimaan nilai KHS :D

            Disaat memasuki masa pembelajaran yang semakin spesifik dalam hal materi perkuliahan, kenyataan pertama yang dihadapi yaitu jadwal kuliah mulai terasa banyak longgarnya dibadingkan saat memasuki tahun kedua pertama kuliah. Bahkan untuk semester ini dalam seminggu saya hanya masuk kelas antara tiga sampai empat hari saja, lebih dari itu merasakan libur satu minggu full juga menjadi hal biasa. Hal ini juga berdampak pada list tugas yang tidak terlalu menguras tenaga dan fikiran seperti dulu. Yang biasanya tidur hanya dua sampai tiga jam sehari, kali ini asupan tidur sebanyak delapan jam sehari sudah mampu tercukupi meskipun include dengan tidur di kelas. Hehehe. Alhasil, jadwal aktivitas yang semakin jarang membuat jadwal semakin runyam untuk diatur agar tetap produktif. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?

            Saat kita berada pada posisi dengan jadwal super padat, secara otomatis otak akan menginstruksi tubuh kita untuk mengikuti segala rangkaian acara secara tepat waktu, sehingga semua yang kita agendakan dapat terlaksana tepat waktu. Bahkan waktu untuk sekedar mandi yang ditargetkan sepuluh  menit  bisa tercapai dengan baik. Inilah sifat sesungguhnya seorang manusia, mampu bergerak tepat waktu disaat diri dikelilingi dengan berbagai tekanan. Mery Riana mengatakan, manusia yang berkembang adalah manusia yang merasakan tekanan dalam hidup. Secara otomatis, orang yang memiliki banyak tekanan adalah mereka yang mampu mengembangkan dirinya dengan baik. Lain halnya dengan sebuah keadaan mengerjakan satu laporan bisa di kerjakan berminggu-minggu dengan dalih masih ada waktu besok untuk mengerjakan atau alasan lain, literature yang dibutuhkan sulit sekali ditemukan. Dan beginilah sifat sesungguhnya manusia, merasa bahwa ia masih punya cukup waktu untuk melakukan pekerjaanya di esok hari.

            Jadi tak heran, jika kakak kelas saya dulu berasumsi belajar di usia yang semakin menua menjadi hambatan dalam menumbuhkan semangat. Tidak lain tidak bukan karena aktivitas kita yang semakin jarang. Waktu yang dibiarkan longgar secara terus menerus teraamat membahayakan utamanya pada perkembangan rasa malas yang kadang kala hinggap disetiap saat. Memang tidak dapat dipungkiri, malas ini adalah sifat alamiah manusia. Sehebat apapun manusia dimuka bumi pasti pernah merasakan malas dan enggan dalam mengerjakan sesuatu, namun bedanya yaitu manajemen malas yang ia kelola lebih cermat dibanding kita yang terlalu sibuk menuruti malas hingga berlarut-larut.

            Inilah mengapa kita perlu melakukan perintah Rasulullah didalam hadistnya yang disebut kerjakanlah 5 perkara sebelum 5 perkara. Kerjakan suatu hal saat sehat sebelum tiba sakit, lakukan suatu hal saat waktu luang sebelum datang waktu sempit, lakukan suatu hal saat umur masih muda sebelum menua, lakukan suatu hal saat masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, kerjakanlah suatu hal didalam hidupmu sebelum tiba waktu matimu.  Karena kita tidak akan pernah tau kondisi diri kita diesok hari. Namun, sering kali kita kalah oleh ego diri dibandingkan kata mutiara orang bijak manapun. Kita terlalu asik menikmatai sebuah rasa malas hanya untuk kenimkatan yang semu. Benar kata Ippo santosa, bahwa malasmu hanya membahagiakanmu sejenak namun akan menyengsarakanmu selamanya.

            Pada dasarnya menurunya semangat belajar itu bukanlah sebuah siklus yang harus dihadapi semua orang yang bertambah umur. Bisa disebut mereka yang mendelkarasikan siklus malas dan menurunnya semangat belajar terjadi disaat masa semester tua adalah mereka yang tidak bisa mengoptimalkan waktu luang untuk mengembangkan diri dengan sisa waktu yang ada. Namun, semua itu adalah bagian dari sifat alamiah manusia, semua tergantung pada diri kita mau membentengi diri dengan cara seperti apa. Selanjutnya hanya ada dua pilihan membiarkan segala perasaan enggan itu hidup dalam sanubari, atau malah bisa digunakan sebagai strategi untuk menghadapi hal demikian dikemudian hari. Secara garis besar, semangat belajar bisa didapatkan dengan bertemu banyak orang, melakukan banyak hal, tidak berdiam diri dikamar  merenungi nasib yang tak kunjung jelas mau dibawa kemana dan nampak seperti apa. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan al-hal yang buruk. Jelas sekali, disaat jadwal harian yang tidak teratur karena banyak nganggur yang ada waktu luang ini hanya memupuk malas menjadi lebih berkembang.

            So, agar siklus rasa malas ini bisa terhindari mungkin banyak hal yang bisa kita lakukan dengan mengerjakan apa yang kita sukai. Mungkin melalui hobi bisa membawa berkah, minimal bisa menghindari waktu luang kita yang diisi dengan keburukan. Selebihnya bisa menjadi ladang kita untuk bermanfaat bagi sesama.

NB.Jauh dari lubuk hati terdalam, tulisan ini tidak bermaksud untuk menginterpresi seseorang atau golongan tertentu, melainkan hanya sebagai alaram untuk diri sendiri.
 
Banyuwangi, 14 Juni 2017

  • view 62