Kau dalam Persepsiku

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 07 Juni 2017
Kau dalam Persepsiku

Pertemuan kita menjadi alasan adanya perbincangan sederhana sekalipun yang rumit jua. Setelah sekian lama berlalu aku merasa ada suatu hal yang berbeda diantara kita. Entah tentang cara kita mengungkapan pendapat atau hanya tentang tatapan. Awalnya ku anggap semuanya serba biasa, tiada yang istimewa sebelum segala sesuatu itu menjadi candu. Entahlah, berkomunikasi denganmu seakan menjadi kebiasaan yang hampir disebut butuh. Walaupun pada kenyataanya menghindar adalah cara terbaik untuk menjaga, namun waktu selalu mempertemukan pada satu titik lagi. Seolah-olah semuanya berjalan untuk mendukung segala persepsi dalam hati. Denting waktu itu berlalu membuatku terperangkap dalam anggapan, argument, persepsi, analisa liar dalam otakku sendiri. Semuanya menjadi tak beres, mulai dari berpakaian hingga cara meniup secangkir kopi pun dihubung-hubungkan seakan semua itu adalah kode alam. Ya, tentang seberapa besar kesamaan yang kita punya, tentang seberapa banyak keterkaitan hati kita berdua. Parahnya, saat hati ini diliputi kegundahan mendalam, kau diujung sana serasa merasakan juga apa yang ditimpakan Tuhan. Entah itu dari raut wajah, atau sekedar kata-kata yang kau ciptakan lalu ku analisa. Kembali lagi, aku mencoba menghubungkan semuanya. Dan lagi, itu tak baik untuk kesehatan hati.

“Berpresepsi ini hanyalah sebuah kebenaran semu. Tak dibatasi oleh argument yang lebih luas, hanya dikuatkan dengan analisa dangkal tentang bagaimana ia memiliki ketertarikan yang (mungkin) sama denganmu.”

Memang apa salahnya jika aku berpendapat? Tidak ada. Semua sah-sah saja. Manusia berhak mengolah semua kejadian, kalimat, arti senyuman, maupun raut wajah masam dalam hati dan pikirannya masing-masing. Tapi jikalau kadarnya melebihi ambang batas yang ada hanyalah sebuah obsesi tanpa usaha. Tak terjamah oleh logika, yang ada hanya terbuai pada imaji menyesatkan. Seberapa besar pesonamu mendominasi aspek kehidupanku, kau tak lebih dari sebuah cobaan. Kurniawan Gunadi bilang, banyak orang yang baik, banyak orang yang hati dan pikirannya luas untuk kau ajak berdiskusi. Namun hanya satu yan tepat, dan dia adalah yang mau memutuskan sampai waktu akad. Sisanya hanyalah cobaan semata.

Lalu bagaimana dengan mu? Bisa jadi kau adalah takdir atau hanya sekedar perjalanan untuk menguatkan hati—sebatas cobaan semata. Apapun kita dihari ini yang terpenting adalah tetap menjaga. Cukup kita saling menjaga, minimal menjaga hati untuk tidak berpresepsi berlebihan. Membiarkan segala sesuatu berjalan dengan semestinya, tidak mencoba mengubah jalan ceritanya melalui imajinasi ataupun harapan yang berlebihan. Jika pada akhirnya semua hanyalah cobaan belaka, betapa beruntungnya kita telah mendapatkan ilmu menjaga hati—minimal  ini—kelak bisa digunakan untuk menghadapi pasangan halal dimasa mendatang.

 

Banyuwangi, 07 Juni 2017 09:51 am

Nurita Wahyuni

Sumber Gambar: Klik disini

  • view 87