Jangan Sampai Jadwal Kuliahmu Mengganggu Jadwal Ngopimu

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 29 Maret 2017
Jangan Sampai Jadwal Kuliahmu Mengganggu Jadwal Ngopimu

Suatu ketika saya terhenyak dengan pernyataan salah satu dosen saya—Bapak Listiyono, dosen FIB UNAIR, dalam obrolan singkat kami beliau berceletuk “Jangan sampai jadwal kuliahmu mengganggu jadwal ngopimu,” kami pun tertawa mencerna kalimat itu dalam otak masing-masing. Seketika itu pula aku me-flashback berbagai aktivitas tiga tahun terakhir. Bukan mau menggugat jadwal kuliah yang tak teratur hingga menyita waktu untuk bersenang-senang, melainkan bermuhasabah diri sudah seberapa jauh aku mengkambing hitamkan jadwal ngopi dengan alasan terhalang oleh jadwal kuliah. Ngopi tak harus diartikan dengan kegiatan tak berguna, duduk manis bersama secangkir minuman pahit ditemani kacang kulit kemudian menghabiskan waktu ngedabrus kesana kemari. Tidak, tidak senaif itu. Berbagai gagasan luar biasa terkadang tercipta dari meja-meja ngopi, melalui obrolan kecil bisa menciptakan sebuah ide membangun negeri. Sebenarnya ngopi itu agenda wajib bagi setiap insan yang masih membutuhkan oksigen, yang terpenting itu punya batas waktu yang alarmnya terletak dalam hati dan pikiran. Agenda ngopi bukan sekedar tentang badan yang menggalayut diatas kursi sambil tertawa berbagai topik sekalipun tak menarik, melainkan ngopi bisa sebagai ajang penyalur minat, bakat bahkan hobi. Yang suka olahraga bisa jadi ajang ngopi ketemu teman di lapangan, hobinya baca buku bisa ngopi di perpustakaan meskipun tak harus bawa kopi yang sesungguhnya, bahkan yang hobi menanam sayur bisa ngopi dipekarangan rumah. Jadi, seberapa banyak kesibukan utama kita tak harus menghalangi kegiatan yang kita sukai, termasuk ngopi.

Ngopi versiku dengan mentadaburi kata-kata. Sejak kecil aku menyukai dunia literasi, namun saat menjadi mahasiswa aktivitas ini sedikit ku sisihkan dengan dalih “Aku harus fokus kuliah, menulis bisa ku kerjakan saat waktu luang,” memang efeknya sangat bagus dalam mengikuti jadwal kuliah, tetapi tak baik bagi kemampuan ku bermain kosakata. Akhirnya aku semakin sulit memulai kalimat baru, hanya karena aku merasa tak punya cukup waktu untuk menulis membuatku lupa bagaimana cara mengkisahkan suatu proses mengamati ataupun imajinasi. Alasan karena padatnya aktivitas utama bukanlah suatu hal yang menghambat kita untuk mengembangkan diri. Jika kita terus beralasan “tidak punya waktu” maka sampai kapanpun juga kita tidak akan bisa memanajemen waktu untuk mengembangkan diri. Kita akan terpaku pada tuntutan aktivitas berdasarkan profesi. Pilihan ini bukan berarti mengesampingkan kewajiban, namun sesuatu yang kita minati adalah bagian dari kebutuhan lahir batin yang harus terpenuhi. Apapun tantangannya, bagaimanapun sulitnya, asal itu tetap pada jalur baik kita harus tetap memperjuangkan hak asasi ngopi versi masing-masing. Aktivitas dengan tekanan tinggi tak baik untuk kesehatan hati dan pikiran, dari sanalah kita perlu menyisihkan waktu untuk “ngopi.” Menuai waktu dengan suatu hal yang kita sukai asal tetap mengetahui batas wajar. Apabila takarannya pas maka akan mampu menjadi obat, seperti kopi yang mengandung antioksidan mampu menangkal racun radikal bebas. Namun, jika terlalu berlebihan akan berdampak pada kerusakan diberbagai organ. Ibaratnya kandungan kafein terlalu tinggi dapat meningkatkan asam lambung, akhirnya perut mual dan mulas berlebihan. Sepadat apapun aktivitas kita yang terpenting ngopi adalah utama. Yuk buat ngopi lebih berguna!

Sumber gambar: Google

  • view 141