Pandangan, Memandang, Jaga Pandangan

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Maret 2017
Pandangan, Memandang, Jaga Pandangan

Sejak dulu tatapan itu meneduhkan jiwa, seperti tirai rumput gajah yang menghadang lapangan. Mengalun kesana kemari, berdesir angin, lembut mengkoyahkan batang-batang dan semerbak ujung daun yang masih segar oleh embun pagi. Bila saja kedua otakku dapat merekam dengan baik, pasti hasilnya akan tersimpan begitu sempurna. Dua bola mata hitam itu memancarkan aura optimis. Sesekali mengkilat oleh cahaya dan makin indah saat tersenyum.

            “Kalau tidak suka bilang, jangan diam seribu kata seperti ini.” wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran yang mendalam.

            Aku hanya tersenyum tipis. Tanpa berpikir panjang, dia kembali mengerjakan aktivitasnya. Memasang wajah tak peduli dan aku yakin sebenarnya hatinya sedang menyimpan beribu tanya. Aku mengenalnya begitu baik, sosok teman yang setia dan penuh kejutan. Siapa sangka pemilik mata syahdu itu pandai merangkai bunga dibalik sikap cerobohnya yang suka memecahkan alat-alat laboratorium.

            “Aku sering kacau tiba-tiba.” Sesalnya suatu ketika setelah menghabiskan dua gelas ukur dan mematahkan tiga pipet tetes. Beruntung harga alat laboratorium itu bisa diganti dengan uang saku sekolah.

            “Kau butuh fokus lebih. Mungkin meditasi dapat membantumu.”

            Sejenak ia terdiam begitu dalam.

            “Re, coba lakukan perjalanan,” timpal Ais saat kami sibuk menghabiskan bakso di kantin “kau banyak memikirkan apa? Apa jadwal ujian minggu depan menganggu sistem berpikirmu?”

            Rena masih terdiam, samar-samar aku melihat tatapan itu sedang mencari yang ada dalam diri ku. Sesekali ia berkedip  tidak habis dalam waktu 5 menit. Mungkin lebih dari itu. Suara Ais yang terus berceloteh ringan tak kunjung mendapatkan jawaban, tapi dia terus berbicara tak memperdulikan kalimat yang ia utarakan mendapatkan perhatian atau tidak.

            Sekian detik berlalu membuatku penasaran tentang apa yang sedang Rena pikirkan. Otomatis naluriku digempar oleh rasa penasaran. Matanya mengkilat dan berbinar, namun menyisakan kekosongan. Bisa jadi segala syaraf yang ada dalam organ itu sedang melukiskan wajahku begitu detail, atau bisa jadi dia sedang meramal masa depanku, entahlah. Ingin hati aku menulis arti dari tatapan itu, terihat berpikir tetapi bola matanya tak bergerak sedikitpun, dan aku lebih memilih mengalihkan pandangan.

            Sampai saat ini pun aku masih belum bisa mengartikan semua tatapan itu. Pernah suatu ketika ia diam seribu bahasa saat melakukan presentasi hasil praktikum. Selagi menunggu giliran untuk berbicara matanya mencari-cari objek kemudian menemukan ku yang berada di ujung bangku sebelah kanan. Mulutnya terkatup begitu rapat dengan dahi dipenuhi garis kerutan tanda berpikir. Ia terpaku begitu dalam. sibuk merangkai sesuatu yang tak ku ketahui, tidak tersenyum sama sekali. Kemudian wajah innocent-nya berubah lucu saat aku berbalik menatapnya. Sejak saat itulah dia tak pernah lagi melakukannya. Setiap kali bertatap muka dia selalu mencoba mengalihkan pandangan, namun masih tetap dengan wajah yang sama. Sesekali sikapnya berubah dari Rena yang super ramah menjadi Rena yang diam seribu bahasa, tersenyum saja tidak, apalagi untuk berbicara. Jika ditanya apa penyebabnya maka dia sudah menyiapkan ratusam jurus untuk menghindar.

            “Jangan menghabiskan waktu dengan melamun.” Dia kembali membawa sesuatu yang bisa ku jadikan teman sibuk berpikir. Semangkuk pisang yang digoreng tipis dengan tepung menjadi teman hangat. Bentuknya pipih memanjang, bukan pisang goreng juga bukan kripik pisang. Makanan tak bernama tetapi selalu menjadi hidangan favorit di rumah.

            Tanpa memperhatikan ku yang sedang duduk diatas sofa ia terus melanjutkan pekerjaannya. Biasanya aku mengambil peran lain jika ada sesuatu yan perlu dikerjakan, tapi sepertinya jatah pekerjaan minggu ini sudah habis ia kerjakan dengan luar biasa,

            “Kenapa harus menatapku seperti itu?” agak sedikit kikuk ia membenahi posisi sambil terus menyelesaikan pekerjaannya.

            “Aku bisa bantu apa hari ini?”

            “Habiskan saja pisangnya, setelah itu jangan lupa dicuci mangkuknya.” Ia terkekeh tak mengalihkan pandnagan sedikitpun.

            Dia tetap sama sejak dulu hingga saat ini, selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan sendiri sebelum dirinya benar-benar tidak mampu mengerjakan. Aku yakin sikap demikian bukan berarti tidak percaya dengan pekerjaan orang lain melainkan hanya ingin memaksimalkan potensi dalam diri.

            “Dulu kau juga sering menatapku seperti itu. Mengapa harus begitu?”

            Sunyi, hingga beberapa menit berlalu.

            “Renaa??”

            Setumpuk kain ia tinggalkan begitu saja, tiba-tiba ia sudah ada diatas sofa. Memindah posisi mangkuk dari pangkuanku berubah di tangannya.

            “Ada mata yang selalu membuatku berpikir. Pemiliknya begitu mengangumkan bahkan tak bisa ku ucapkan dengan kata-kata.”

            “Jadi kau….?”

            “Jangan menyelah pembicaraan.” Ia menutup mulutku dengan sepotong pisang.

            “Aku sendiri tak sadar mengapa harus melakukannya. Segala sesuatu yang kulihat seolah mengharuskan ku untuk terus berpresepsi. Mengapa harus demikian, kenapa harus begitu, bagaimana bisa jadi begini. Dan entah aku sendiripun tak punya jawaban untuk semua pertanyaan itu.”

            Sambil menghabiskan pisang yang ada di mulut aku masih belum berkomentar apapun.

            “Aku merasa bodoh sekali saat itu,” napas panjang beriringan diakhir kalimatnya, lalu “ada suatu hal yang aneh, kurasa begitu. Pendapat itu muncul begitu saja hingga terbawa pulang dan menghiasi hari-hari yang seharusnya dapat ku manfaatkan untuk mengembangkan diri. Kau berhasil menyita waktuku untuk segalanya.”

            “Setelah itu?”

            “Aku sadar, aku perlu menjauhimu. Itu tidak baik untuk kesahatan hati. Bagaimana mungkin segala hari ku habiskan untuk menduga-duga apa yang sedang kau pikirkan. Tentang bagaimana istimewanya dirimu saat itu.”

            “Memang sejak dulu aku menjadi primadona.”

            Dia tertawa sambil menyubit lenganku gemas.

            “Lihatlah bagaimana dunia akan menjadi saksi hidup kita di akhirat nanti. Dia akan berbicara dengan segala sesuatu yang kita kerjakan. Setelah kejadian didepan kelas itu membuatku sadar, kau dapat memunculkan penyakit hati, membuatku tak bisa menjaga diri.”

            Aku kaget bukan main, tapi masih membiarkan ia terus bercerita panjang.

            “Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah ia menahan pandangan. Potongan ayat Qur’an Surah An-Nur itu membuatku gelisah. Pikiraku disibukkan dengan logika dan rasa berkeinginan. Memandangmu dengan cara terbaik membuat ketenangan dalam jiwa, namun lihatlah bahwa aku sudah menyakiti Allah. Aku telah melanggar satu perintahnya.”

            Menjaga pandangan memang bukan sekedar mata yang menatap, melainkan juga menjaga padangan hati yang terus berkeinginan juga harapan yang membumbung melebihi batas kemampuan. Tiba-tiba saja suasana menjadi sunyi, tak ada suara apapun yang ada hanya desah napas kami berdua yang saling beradu.

            “Sedikit demi sedikit aku mulai menjauh. Mencoba menjaga hati. Tatapan itu sebenarnya tak berarti apapun, aku merasa semua mengalir tanpa diskenariokan. Tak ada alasan satu katapun untuk mengubah jalan cerita baik yang ada dalam pikiran ataupun hatiku. Aku hanya menuai persepsi tentang mu yang mempesona begitu luar biasa, dengan segala sesuatu yang kau capai, semua prestasi dan usahamu yang menuai hasil, sekaligus dapat menginspirasi banyak orang.”

            “Mungkin karena egoku membuat banyak orang tidak bisa menjaga pandangan.”

            Dia bingung, bola matanya berputar acak, “Ego seperti apa? Ini masalah pribadi masing-masing. Baik antara yang dipandang yang memandang memang harus pintar-pintar menjaga pandangan.”

            “Iya ego cara memandang, bisa jadi saat itu hatiku memandang diri ini begitu luar biasa hingga mengharuskan orang lain perlu memandangku dengan cara yang tak biasa.”

“Memang benar kata orang, ‘jangan memandang lawan jenis lebih dari tiga detik, nanti kau bisa jatuh hati.’ Dan aku sudah merasakan getah dari pohon yang ku ukir batang-batangnya.”

            “Itu alasannya sampai-sampai kau tak mengangkat telponku puluhan kali? Padahal aku melakukannya karena kunci pintu sekretariat kau bawa pulang ke Jawa Tengah.”

            “Itu lain ceritanya.” Sergahnya, sambil mengibaskan tangan.

            “Setelah itu?”

            “Aku belajar untuk melepaskan semuanya.”

            “Semudah itu?”

            “Hal yang tersulit saat kita sudah menemukan yang kita cari, tetapi kita harus melepaskan karena banyak alasan, termasuk tentang menjaga hati.”

            Ia tertunduk lemas, meremas-remas ujung bantal seolah-olah segala teks cerita berada pada sarung bantal itu. Sejurus kemudian ia mengangkat wajahnya, dia tersenyum dan menatapku seperti dulu. Bukan lagi dengan tatapan kosong, melainkan diiringi senyum menawan. Matanya tetap berbinar memancarkan rasa optimis, disanalah aku merasa cita-citaku akan mudah tercapai saat ia ada dalam hidupku.

            Berjalanlah sepeti bintang-bintang yang mengiringi bulan. Walau kau hanya setitik tak bercahaya terang, namun secerca cahayamu yang tulus telah membayar segala harapan. Langkahmu untuk menjaga hati telah berbuah manis, teruslah disini mengiringi bulanmu. Aku yang sebenarnya tak bisa apa-apa tanpa mu, telah menemukanmu dalam dekapan rindu di masa lalu. Diakui atau tidak ternyata memanglah aku yang sebenarnya menggumi mu. Tak harus melewati tiga detik, melihatmu mencintai Tuhan sudah berhasil membuatku jatuh hati, walau itu hanya seceraca angin yang menyapa di daun pintu.

            “Sudah jangan menangis. Yang terpenting orang yang kau kagumi dulu sekarang sudah mau bertaruh hidup denganmu. Memang benar pesonaku tak bisa menguatkan pandangan perempuan manapun.” Sambil ku hapus rintikan air mata yang tak sengaja turun diantara sendunya sore ini.

            “Dasar!” ia mencubit lenganku lagi.

***

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memilihara kemaluannya; yang demikian itu adalah yang lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya ...”

(QS. An-Nur: 30-31)

Dilihat 111