Renungan di Kota Kerapu (Bagian 2)

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Project
dipublikasikan 03 Maret 2017
Kisah Jalanan

Kisah Jalanan


Hidup ini sebuah perjalanan. Aku menyukai jalanan, menempuh perjalanan, darinya aku tau arti pulang. Karena jalanan mengajarkan sebuah hikmah, darinya kita mampu lebih memahami penelusuran kemenangan hati, hingga kita benar-benar pulang pada pemilik kehidupan yang abadi.

Kategori Petualangan

382 Hak Cipta Terlindungi
Renungan di Kota Kerapu (Bagian 2)

“Tahu…. Tahu…. Tahu….. kerupuk…. Kerupuk…” di ujung pintu paling depan seseorang sibuk menjajakan dagangannya.

            Hingga pada akhirnya tibalah ia berada dilorong kursiku.

            “Tahu mba? Atau kerupuk?”

            Tak ada respon dari siapapun.

            “Mba.. Mba.. tahu?” sekali lagi.

            Aku mulai berpikir, entah apa yang sedang ku pikirkan, “emm iya pak, dua.” Jawabku pada akhirnya.

            “Empat ribu mba.”

            Dua bungkus tahu petis goreng sekarang menjadi milikku. Sejenak aku tak bisa menguasai pikiran, ada suatu hal yang membuatku berhenti berpikir. Dan aku tak mampu mengidentifikasi semua itu. Sesaat bapak ini sibuk mencari uang kembaliaan, aku teringat bahwa aku lupa membawa permen diatas lemari tadi.

            “Sekalian permen juga pak.”

            Dengan sigap pedagang asongan ini menyodorkan permen berisi bundaran yang ditumpuk membentuk tabung kecil. Ia tersenyum begitu puas dan bergegas pergi saat kernet bus naik.

Pelan teramat pelan, kendali bus meninggalkan terminal. Satu persatu kursi bus mulai terpenuhi penumpang dan matahari terus beranjak menuju batas cakrawala, sedangkan roda-roda bus berbalik arah menuju ujung timur pulau Jawa.

Tiba-tiba kaca jendela merembeskan aliran sejuk.

Diluar hujan, sedang didalam bus terkepung oleh asap rokok.

Sungguh aku tidak nyaman. Dan kita harus rasional apapun alasan perokok, rokok tetap mengganggu ketentraman kehidupan orang lain. Aku jadi teringat dengan seorang teman. Suatu ketika saat kami asik makan disuatu tempat, ada seorang pengunjung menikmati rokoknya tanpa merasa bersalah. Sambil mengabaikan rasa enggan, kawanku ini meminta pengunjung itu untuk mematika rokoknya. Jelas orang tersebut terganggu dengan teguran itu, merasa haknya terampas seketika, sedangkan kawanku merasa hak nya juga terampas tidak bisa menikmati udara segar. Namun sayang, aku tidak seberani dia. Biar saja jendela ini membawa hujan, aku lebih memilih basah kuyup dari pada menahan sesak dan perih di tenggorokan.

            Sambil meredamkan rasa jengkel, earphone ku keluarkan. Mungkin sentuhan musik di sore hari bisa membawa mood ku kembali lebih baik. Intro lagu mulai mengalun sendu.

            “Mba, kemana?”

            Seseorang mengajukan pertanyaan, ku lepas earphone sebelah kiri.

            “Rogojampi, Pak.” Jawabku sambil menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah.

            Bapak kernet ini berdecak ringan, menyesalkan sesuatu, lalu, “kembaliannya nanti ya mba.” Sambil melenggos ke barisan belakang tanpa menunggu persetujuanku.

            Tak ada respon, dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya pilihanku kembali pada earphone yang sempat lepas ditelinga kiri. Lagu Passeger Let Her Go mengiringi rintikan hujan yang mulai berganti menjadi derai. Jika basah ini memang harus aku saja yang merasakan tidak masalah, namun ternyata ada bocah laki-laki yang sedang memandang jendela. Wajahnya penuh air. Saat aku membalikan badan, ia tak berkomentar apapun. Dia termangu, tidak tersenyum juga tidak marah. Sejurus kemudian aku merasa begitu bersalah. Asap rokok ini bagaikan racun untuk ku, kemudian membiarkan hujan menjadi penawarnya, sedangkan penawar ini menyisakan luka pada diri orang lain. Meskipun bukan tentang luka dalam arti sebenarnya, akan tetapi kondisi dalam keadaan kedinginan sudah menunjukkan rasa tidak nyaman pada bocah laki-laki itu. Segera ku rapatkan jendela, kemudian sesegera mungkin menutup hidung dengan ujung kerudung.

            Lagu Passeger telah berakhir, satu persatu lagu lainnya mengantri untuk terputar. Sesekali bus berhenti melepaskan ladangnya, kemudian dengan cepat tergantikan. Meskipun hujan, arena permainan jalanan tetap saja ramai disibukkan oleh pemainnya.

            Situbondo menyebut dirinya sebagai kota kerapu dan kota santri. Disebut kota kerapu karena berbgaia jenis kerapu berhasil di budidayakan di wilayah ini. Lalalu sebutan sebagai kota Santri karena banyaknya pondok pesantren yang mendatangkan manusia diseluruh penjuru Indonesia yang haus ilmu. Sejak melewati kecamatan Asembagus suasana bus mulai berubah lebih damai. Suara Muhammad Taha Al Junaid mengiringi perjalanan sejuta umat yang berkendara sore ini. Murotal surah-surah sederhana berlalu dengan irama deru bus yang melaju. Ujung earphone ku memang masih menggantung di kedua telinga, tetapi sudah tak bersuara. Rentetan lagu di handphone ku telah terganti dengan suara murotal dari handphone bapak-bapak di bagian tengah kursi bus itu.

            Hampir satu jam kendaraan ini melenggang jauh, tetapi posisiku masih stag di Kota Situbondo saja. Sesekali kernet bus berjalan ke depan belakang, membawa setumpuk uang kertas dengan berbagai macam jenis pecahan. Mungkin setelah ini uang dua puluh tujuh ribu ku akan kembali memenuhi kantong sederhana ala anak kampus ditengah bulan. Hujan sedikit reda, para pengendara motor dipinggir-pinggir ruko sudah mulai melanjutkan perjalanan. Bus berhenti, dan suara murotal itu telah hilang tak bersisa.

            Perjalanan ini membuatku menjadi lebih introvert. Tak ada obrolan sederhana yang bisa ku ciptkan meskipun penumpang disampingku menunjukkan karakter orang baik. Namun, entah mengapa aku tak bergairah untuk memulai pembicaraan, perempuan berusia tiga puluhan ini seolah sibuk dengan pikirannya sendiri.

            “Selamat sore bapak-bapak ibu-ibu, perkenankanlah kami untuk menemani perjalan Anda dengan lagu yang akan kami bawakan.” Dua orang lelaki sedang bersiap dan menyampikan mukadimahnya saat aku hendak menghidupkan tombol ON di list musik handphone.

            Lagu Birunya Cinta menjadi pembuka penampilan dua pengamen yang berhias preman tapi hati mawar. Terasa mellow sekali saat membawakan lagu dangdut ini. Rasanya lagu Birunya Cinta menjadi tembang sejuta umat, aku hafal beberapa bagian liriknya karena terlalu sering mendengarkan. Bahkan lagu ini menjadi chart tertinggi deretan musik yang sering dinyanyikan kawan sekelas, hahahaha. Lagu selanjutnya didendangkan, ini pertanda bahwa mereka akan melantunkan 3 buah lagu dalam sekali naik bus. Bersaing dengan suara mesin bus dan hujan lebat diluar sana, sang pengamen terus mengerahkan kemampuan terbaiknya.

            “Hooo, biarkan perempuanmu pergi jauh…..” petikan senar bergetar mengiringi, lalu ketipung dari kumpulan paralon yang ditutupi menggunakan ban dalam bekas menjadi pemanis lagu.

            “Percayalah dia akan kembali membawa cinta……”

            “Hooooo….ooooo…ooo”

            Aku mengorek-ngorek ingatan siapa penyanyi lagu ini. Tetap tidak berhasil hingga lagu  berkahir dinyanyikan. Bisa jadi lagu itu memang bukan lagu pop hits di Indonesia atau mungkin aku saja yang terlalu kudet dengan perkembangan musik.

            Sepenggal liriknya menggambarkan sebuah kesetiaan untuk seseorang melalui kepercayaan. Percaya bahwa perempuan itu akan kembali membawa cinta meskipun langkahnya pergi jauh entah kemana. Dua episode perjalanan ini benar-benar menguras pikiran ku. Tentang percaya dan kepercayaan. Simple sekali memang jika kita mau belajar tentang kehidupan. Sepenggal perjalanan ini saja sudah membuatku belajar banyak hal.

            Hujan mulai reda, pengamen jalanan itu tak ku temukan lagi jejaknya. Jika tidak bersandar di bagian kursi belakang, bisa jadi sudah turun sebelum memasuki kawasana Taman Nasional Baluran. Hampir 3 jam lebih bus melaju jauh, kota Situbondo sudah terlewati.

            Langit kembali cerah tetapi tanah-tanah terlihat basah. Mungkin sejam yang lalu hujan telah mengguyur kota ini. Jika kecepatan bus stabil seperti demikian mungkin sejam lagi aku akan sampai di terminal Rogojampi. Tiba-tiba saja aku mengkhawatirkan sesuatu. Bapak kernet di ujung pintu depan sedang sibuk meniti jalanan. Sesekali turun untuk membantu penumpang mengambil barang. Sesaat memasuki terminal Blambangan penumpang mulai berhamburan keluar, tersisa beberapa orang, termasuk aku didalamnya. Namun, setelah melewati pelabuhan Ketapang kursi-kursi ini mulai terpenuhi kembali. Lembaran uang kertas itu kembali memenuhi tangan sang kernet, dan kembalian uang ku tak kunjung ku terima. Itu yang ku khawatirkan.

            “Lumayan uang segitu kalau dibuat pulang lagi ke Situbondo.” Sisi hatiku berbisik.

            Apa perlu aku menagihnya? Ah, sepertinya tidak mungkin. Jika ini ku lakukan berarti aku sudah malak bapak kernet itu sebanyak 3 kali?

            Susah memang jika sudah berurusan dengan uang mahasiswa yang sedang memasuki program ‘iritologi’ hehehe.

            “Sudah ikhlaskan saja. Anggap itu jatah sepuluh persen yang harus diamalkan.”

            Aku mulai berpikir dengan suara hati itu.

            Jika dipikir ulang tak ada salahnya jika sisa uang ini ku biarkan saja. Toh, aku pun tak dirugikan sama sekali, tidak mengurangi jatah bulanan di tabungan. Sekalin bisa beramal dan mensucikan harta. Orang tuaku juga senang jika uang saku yang mereka berikan dapat memberi manfaat untuk banyak orang. Namun, apa bedanya dengan tindakan korupsi? Bisa disebut bapak ini telah mengambil sesutu yang bukan haknya. Secara tidak langsung pun beliau juga punya hutang dnegan ku. Baik aku maupun kernet ini telah terlibat dalam lingkarang hutang piutang, artinya diantara keduanya berdosa dengan satu permasalahan ini.

            Sisa uang itu serasa begitu berharga diantara keadaan yang cukup krisis. Memang jatah hariku untuk tinggal di Situbondo hanya terhitung hari saja, namun ide untuk minta lagi kepada orang tua juga bukan pilihan brilian. Ah, tidak! Ibaratnya perjalanan yang ku tempuh selama di Situbondo sudah menguras tabungan orang tua. Gila sekali jika itu harus ku lakukan juga.

            “Baiklah jika sampai Kabat uang ku belum kembali juga terpaksa aku harus menanyakan lagi, atau pilihan berdamai dengan merelakan serela-relanya.” Bisikku berdamai dengan batin sendiri.

            Terminal Rogojampi semakin dekat didepan mata, dan aku masih sibuk dengan gejolak batin itu. Apa mungkin harus tetap ku lakukan tindakan itu?

            Sekian detik merenung, berpikir, dan semua ini seakan percuma saja. Terlalu melelahkan!

            “Sudahlah, ikhlaskan saja!”

            Melewati RTH Kedayunan masih tetap dengan wajah yang sama, asri dan menyejukan. Rentetan pedagang asongan berjubel disepanjang jalan, diiringi dengan segerombol pemuda yang asik berpacaran. Aku tersenyum geli memandang fenomena ini.

            Aku terkejut bukan main saat seseorang menepuk pundak ku dengan ujung jari. Pelan sekali tetapi menyentak dihati.

            “Ini!” kernet bus memberiku uang lembaran pecahan dua puluhan, lima ribu, dan dua ribu. Aku masih belum bisa mencerna kejadian bebepara detik yang lalu. Oh Tuhan, apa yang terjadi denganku? Tiba-tiba saja pikiranku membeku, membiarkan setiap adegan dalam beberapa detik ini berlalu tanpa arti.

            “Jadi turun dimana mba?”

            Tak ada jawaban.

            “Mbaak??” tanya kernet sekali lagi.

            “Terminal pak, terminal Rogojampi.” Jawabku dengan nada kaget.

            Kurang dari satu jam yang lalu aku berusaha untuk mengikhlaskan sisa unang ini. Tanpa disangka uang itu kembali dalam kurun waktu yang tak ku tentukan. Ikhlas benar-benar mendamaikan. Setelah dirundung gejolak batin yang tak menentu, seketika itu pula hati ini didamaikan dengan arti ikhlas dalam jiwa. Jika megikhlas suatu perkara bisa menyejukkan batin seperti ini mungkin kita harus sering-sering menanamkan benih ikhlas. Memang sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan bukan? Dengan ikhlaspun menjadikan sebuah amalan semakin semprurna. Dapat menembus tujuh lapis langit tanpa goyah sedikit pun oleh cobaan.

            Tiba-tiba aku jadi teringat seseorang, dia yang begitu jauh antara jarak maupun ikatan batin sekalipun. Mungkin jika rindu ini bisa ku sajikan dengan ikhlas pasti akan mendamaikan batin lebih dari apapun. Mengikhlaskan hati ini, pikiran ini, dan segala sesuatu dalam perasaanku yang sibuk di ganggu dengan bayangannya. Pabila ikhlas ini adalah sebaik-baiknya bentuk pilihan kehidupan tidak akan memungkiri jika suatu perkara itu memang menjadi hak milik kita maka ia akan kembali dengan sebaik-baiknya keadaan. Seperti halnya uang kembalianku. Dua puluh tujuh ribu ku kembali dengan selamat. Mungkin hal ini berlaku pula dengan perasaanku, ia akan datang dengan sebaik-baiknya keadaan seiring dengan rasa ikhlas tentang rindu, tentang cinta sediriku ini.

            Tepat diantara tingkungang terminal seseorang telah menyambutku berdiri disamping motor matic berwarna putih. Ku lewati pintu bus, menyambut tangan kaku nan kasar itu dengan sukacita. Senyumnya merekah dan ia membawa ku pulang dengan segenggam cerita yang menghiasi perjalanan menuju rumah.

Situbondo, 13 Februari 2017

  • view 140