Renungan di Kota Kerapu (Bagian 1)

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Project
dipublikasikan 28 Februari 2017
Kisah Jalanan

Kisah Jalanan


Hidup ini sebuah perjalanan. Aku menyukai jalanan, menempuh perjalanan, darinya aku tau arti pulang. Karena jalanan mengajarkan sebuah hikmah, darinya kita mampu lebih memahami penelusuran kemenangan hati, hingga kita benar-benar pulang pada pemilik kehidupan yang abadi.

Kategori Petualangan

211 Hak Cipta Terlindungi
Renungan di Kota Kerapu (Bagian 1)

Renungan di Kota Kerapu (Bagian 1)

Angin berhembus sedang pagi ini, tidak seperti kemarin sore. Ia terus berdesir, membawa aroma garam, dan sesekali beriringian dengan hujan. Kali ini alam cukup bersahabat, mungkin sedang mengerti batin ini telah dilampaui oleh gejolak rindu. Perasaan ingin kembali, melepas penat untuk bertarung dengan ego diri, ya jalan pulang.

            Sama seperti dua puluh dua hari yang lalu, aku menjalankan aktivitas seperti biasa, pergi ke balai untuk menggali sesuatu yang perlu di ketahui, selain tuntutan SKS yang harus ku tempuh untuk semester ini. Matahari mulai merajuk pada awan, cahaya sedikit temaram, namun langit masih menunjukkan keadaanya yang baik-baik saja. Masalahannya entah mengapa aku merasa enggan untuk beranjak. Ingin tetap tinggal, padahal rindu ini begitu menggebu-gebu. Antara pikiran yang beradu dengan komitmen juga hati yang beradu pada ego diri, aku harus tetap beranjak.

            Sepanjang jalan pantura menuju Banyuwangi kendaraan terus berlalu-lalang tanpa lelah, biasanya aku tak butuh waktu lama untuk menanti mobil angkutan menuju kota. Pada akhirnya tak kurang dari setengah jam aku mendapatkan mobil elf berwarna hijau, masyarakat Situbondo menyebutnya ‘kol.’ Setelah berpamitan ala-ala anak rantau aku bergegas naik hingga melupakan beberapa hal yang perlu ku sampaikan pada seseorang yang menemaniku tadi. Kol terus bergerak maju menuju kota, meninggalkan bukit putri tidur yang semakin menawan saat dipandang dari jauh. Awan kumulus mulai menimbun lekukan keindahananya, bisa jadi saat ini hujan lebat telah mengguyur tanah Pecaron. Deretan pohon mangrove berbaris begitu rapi, sesekali bau anyir khas laut menembus kaca mobil, mengingatkan ku pada banyak hal tentang kehidupan pesisir.

            Tak ada suara yang ku dengar kecuali deru mobil yang berusaha mendahului kendaraan didepannya. Setelah melalui beberapa menit dengan kesunyian, akhirnya au menenmukan suara perdebatan atara suami isntri dengan bahasa lokal. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan, namun dari tekanan nada si bapak membuatku sedikit menganalisis kira-kira topik apa yang sedang mereka bahas. Perdebatan terus berseteru meskipun eskpresi wajah keduanya nampak biasa, namun raut wajah tegang tak bisa terhindar menghiasi keduanya. Akhirnya perdebatan itu menemukan titik tengah setelah bapak kernet angkot melerai dengan santun. Raut wajah sang suami menunjukkan rasa puas, seakan-akan telah memenangkan suatu kompetisi seantero jagad. Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh sang sopir. Mungkin nyawa dalam dada ku tak begitu bernilai dibalik lingkaran kemudi itu. Dua sedan putih berhasil ditaklukan sopir, ia berlalu dengan bangga sambil membunyikan klakson berulang kali. Entah motif apa yang membuat sopir ini bersih keras menaklukan jalanan, bisa jadi ada keangkuhan untuk terlihat hebat oleh para penumpangnya. Dan jika beruntung bisa di hadiahi klakson balasan oleh sopir elf lainnya. Atau jauh dari analisa itu semua, bapak sopir ini sedang dirundung kejar target melihat hari semakin gelap. Bukan karena malam tiba, tapi hujan yang mulai menyapa.

            Untuk pertama kalinya, sang sopir menurunkan kecepatan kemudinya. Sepasang usia senja tersebut berhenti disuatu tempat yang tak ku ketahui. Sang ibu terus bertanya memastikan alamat yang ia maksud benar adanya, kemudian sang bapak tak lelah-lelahnya meyakinkan keberadaan tempat itu adalah objek yang mereka cari. Meski debat kecil itu terus berlangsung hingga sopir hendak menarik gasnya kembali, namun sang bapak dengan penuh kesabaran telah berhasil mengalihkan seluruh perhatian sang ibu. Raut wajah bapak itu sedikit berubah lebih tenang. Entah itu menahan marah atau apalah, tangannya dengan cekatan mengambil alih barang-barang yang perlu di bawa sang istri. Baik pak sopir atau kedua pasangangan ini aku dipaksa memahami arti percaya, bahwa dengan pengalaman pak sopir dapat melalui 2 sedan putih dengan selamat. Kemudian melalui sepasang istri ini membuatku mengerti bahwa percaya harus diiringi dengan kayakinan penuh atas kebenaran suatu keputusan.

            Aku tersenyum simpul, jok sebelahku dengan cepat terisi dengan sosok baru. Bukan masuk dari pintu itu, melainkan penumpang yang duduk dibagian jok tengah. Ia memandangku sekilas, wajahnya yang lonjong berbalut jilbab pasmina coklat menunjukkan karakter seorang guru sekolah atau mungkin pegawai pemerintahan. Kondisi tersebut juga didukung dengan seragam coklat susu khas pakaian para abdi negara. Aku tak menggambarkan tentang bentuk bibir itu berubah sedemikian kontras. Bukannya mau mengejek ciptaan Tuhan, namun kenyataan ini menyadarkan ku bahwa fisik yang Tuhan anugerahkan kepadaku sudah lebih dari cukup. Lengkap tiada yang kurang satu apapun, dan semua wajib disyukuri penuh hikmat. Hampir 15 menit perjalanan ku tempuh dengan sesekali menatap layar ponsel. Tiba-tiba bahasa lokal itu kembali ku dengar, seseorang ini sibuk mengobrolkan sesuatu dengan dua orang di jok tengah. Penampilannya sama, anggun dan menawan. Seseorang yang duduk bersamaku ini terasa menguasai panggung obrolan. Tiga sekawan itu sibuk berdebat sesuatu, sesekali perempuan jilbab pasmina itu menanggapi dengan daya analisa yang baik. Tak lama kemudian mereka turun didaerah yang tidak ku ketahui pula, sebuah pemukiman yang berdekatan dengan anak sungai. 

            Perjalananku terus berlanjut menuju pusat kota, hingga pada akhirnya keramaian khas terminal ku rasakan jua. Bisa jadi tempat ini adalah pusat transportasi yang utama di kota Situbondo. Melalui kendaraan umum inilah penghuni didalamnya melakukan mobilitas. Bagiku terminal masih menjadi momok untuk terus mawas diri. Bukannya mau berpikir negatif, tetapi entah mengapa kejadian dua tahun silam mendoktrin begitu saja, jauh didasar otak paling dalam. Beruntung tak perlu menunggu lama, bus menuju Banyuwangi segera ku temukan. Berdebar-debar dada ini, antara menahan sabar juga sedikit ketakutan. Ini memang bukanlah perjalanan pertamaku, tetapi saat melakukan perjalanan seorang diri membuat tingkat kewaspadaanku meningkat lebih tinggi. memang sudah sunatullahnya, saat melakukan perjalanan seorang perempuan harus tetap didampingi dengan mahramnya. Tak lain karena bertujuan untuk saling melindungi dalam perjalanan.

 To be continue.

Dilihat 95