Tak perlu dibawa Pulang, itu-lah Kenangan

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Renungan
dipublikasikan 10 Februari 2017
Tak perlu dibawa Pulang, itu-lah Kenangan

Kita adalah manusia dengan seribu harap, menginginkan segala bentuk kebahagiaan dapat berpihak dan  pada akhirnya kedamaain dalam jiwa itu terasa hingga akhir hanyat. Setiap harapan ini membawa kita dalam segenggam kenangan, berasal dari puing-puing langkah kehidupan. Terus berlalu hingga ia mengendap begitu jauh direlung hati terdalam. Kemudian apa yang bisa kita lakukan selain mensyukuri kenangan dengan mengambil hikmah dan pelajaran? Entah itu sedikit tentang sabar, jujur, ikhlas mengikhlaskan, bahkan tentang arti harapan yang lebih dalam.

Kenangan adalah suatu kosakata seribu arti yang tertinggal dimasa lalu, kita tak boleh terbelenggu dengan berbagai serpihannya. Jangan biarkan ia mengganggu mimpi-mimpi baru kita hingga membuat langkah kita terpenjara dalam kumpulan scene di masa lalu. Sebagai insan manusia yang berpikir, kita harus pandai-padai mengelola kenangan dalam jiwa. Apabila ia menorehkan luka, alangkah baiknya jika ia cukup menjadi pelajaran. Tidak perlu ikut mengalir dalam kehidupan, cukup berhenti dimasa itu saja. Namun, sesekali kita perlu melihat ke belakang, mencari kenangan-kenangan itu kembali untuk belajar disaat hati terluka. Semuanya semata-mata untuk membangkitkan jiwa untuk kembali berjuang.

Berbicara mengenai kenangan memang tak kan ada habisnya. Meskipun terlewati dengan berbagai adegan kehidupan lainnya, tetap saja kenangan akan tertanam dalam hati dan memberikan kesan terbaiknya disaat memori kita kembali mengingat. Luar biasa sekali otak manusia, lebih luar biasa lagi kepada Tuhan yang menciptakan otak. Apabila komputer dapat menyimpan semua data dalam RAM, maka manusia akan bekerja bersama otak untuk menyimpan kenangan. Data-data komputer memiliki resiko tinggi hilang tak tersisa jika virus sudah merajalela, hal ini juga berlaku dengan otak kita, beberapa kenangan akan hilang begitu saja seiring dengan tumbuhnya kebahagiaan atau pun rasa yang mengesankan setelah kenangan itu terlewati. Bedanya, data komputer bisa saja tidak dapat ditemukan kembali jika sudah terjangkit virus, tetapi tidak dengan otak, meskipun mengendap dalam jangka waktu begitu lama ia akan mencoba memutar bagian adegan kehidupan yang mengesankan. Ya, meskipun tidak sehangat kejadian kemarin sore. Karena Tuhan menciptakan hati, sehingga ia mampu tertanam begitu kuat, lebih dari organ tubuh kita lainnya. Ribuan syaraf yang menyusun begitu sempurna hingga ia dapat mengerti segala bentuk kenangan, baik itu yang indah atau yang meninggalkan sendu.

Apapun kenangan yang pernah kita torehkan dimasa lalu semoga bisa menjadi jalan perbaikan diri dimasa depan. Biarkan ia tinggal di belakang, tak perlu di bawa pulang. Karena kenangan adalah bagian dari kehidupan yang memang sudah menjadi pilihan. Dan cara terbaik menyikapi kenangan dengan cara memberikan pengertian dan mengikhlaskan sebaik mungkin, sehingga bisa menjadi cambuk dan alat kendali untuk menyiapkan masa depan. Menjalankan kehidupan sebaik mungkin dengan sejuta harapan atau apapun yang membuat kehidupan ini lebih bergairah lagi. Hingga pada akhirnya kita bisa menorehkan kenangan membahagiakan, baik itu untuk catatan kehidupan diri sendiri atau bagi siapapun yang mengenal kita.

Situbondo, 31 Januari 2017 9:29 PM

Dilihat 114

  • Arie Prakoso
    Arie Prakoso
    5 bulan yang lalu.
    Dan sekarang , sy masih tetpenjara dalam kenangan..!! Mungkin melupakannya tak pernah bisa, yang tersulit adalah mengikhlaskannya.

    • Lihat 1 Respon