Jangan Menipu Allah!

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Renungan
dipublikasikan 02 Februari 2017
Jangan Menipu Allah!

Januari telah pulang dan kembali berkemas untuk ditumpuk menjadi sebuah kenangan. Perjuangan awal bulan di tahun baru ini seakan-akan mempertanyakan kualitas hidup kita ditahun yang lalu dan mempertaruhkan resolusi untuk sebelas bulan yang akan datang. Di awal Februari ini saya berada di tanah rantau, memang letaknya tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal, saya sebut demikian agar terasa kesan dramanya saja hehehe. Entah mimpi apa, pagi ini saya lebih siap dari hari sebelumnya—kurang lebih satu jam sebelum berangkat di tempat praktek. Mungkin bawaan memasuki bulan baru sehingga semangat juga terasa baru, namun pada kenyataanya saya baru sadar jika hari ini tanggal satu—tepat pada waktu tengah hari.

Dari sanalah saya berpikir waktu satu jam mungkin bisa dimanfaatkan dengan membaca buku, itung-itung bisa mempercepat deadline pengembalian (ketahuan jika buku hasil pinjaman :D). Pada bagian judul bab saja sudah mampu membuat penasaran dengan isinya, bab tentang “Jangan Menipu Allah!" Kalimat per kalimat terus saya telusuri mencari jawaban makna dari judul bab ini. Ah, Kang abik telah sukses menciptakan rasa penasaran begitu dalam bagi pembacanya. Begini sepenggal scene dalam buku tersebut.

“Bah, tolong nasihati aku.” Pinta Fahri kepada sahabatnya, Misbah.

Masih ragu Misbah mengucapkan sesuatu, merasa Fahri adalah guru baginya. Namun,  Fahri tetap mengelak untuk diberi nasehat. Hingga pada permohonan kedua akhirnya Misbah menghela nafas bersiap menyampaikan suatu hal.

“Baik, Mas. Nasihatku kepadamu, dan tentu sebelumnya adalah kepada diriku sendiri, JANGAN MENIPU ALLAH!”

Fahri mengulangi kalimat itu, “Jangan menipu Allah…”

Saya pun demikian, bergumam sedikit berbisik, “Jangan menipu Allah...” Tersentak hati ini hingga bertemu pada paragraf selanjutnya membuat air mata saya meleleh tanpa disadari.

“Jangan Menipu Allah!”  Begitu makna sebuah nasihat Rasulullah SAW. Seorang sahabat menanyakan, bagaimana manusia dapat menipu Allah? Rasulullah Menjelaskan”

“Kau mengerjakan amal yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya namun kau mengingingkan selain Allah. Takutlah dari riya’! Sesungguhnya riya’ adalah sirik kecil. Dan sesungguhnya orang riya’ akan dipanggil di hari kiamat di hadapan para makhluk dengan empat nama “Hai orang riya’! Hai orang yang menghianati janji! Hai orang yang larut dalam kemaksiatan! Hai orang yang merugi! Telah rusak amalmu dan hilang pahalamu. Tidak ada pahala disisi kami. Pergilah lalu ambil upahmu dari orang yang kau beramal karena dia, hai penipu!”

  Sadar ataupun tidak sadar kita bisa saja menipu Allah, namun pada hakikatnya Allah tidak bisa ditipu. Melakukan banyak kebaikan tetapi niatnya bukan karena Allah. Kita terlalu sibuk dengan penilaian orang lain terhadap diri kita. Mengenai berbagai hal ‘jika saya mengerjakan ini saya akan terlihat pintar dimata orang lain, jika saya belajar ini saya akan terlihat berilmu oleh orang lain, jika saya memberi ini itu saya akan dianggap dermawan oleh orang lain,’ dan segala bentuk tindakan ‘jika’ yang berharap pada ‘anggapan orang lain.’ Apabila sudah demikian, anggapan orang lain seakan-akan menjadi parameter  tingkatan kebahagian kita dalam mencapai sesuatu. Padahal pada kenyataannya orang lain hanya bergumam sepatah dua kata, bergumam kagum sesaat, setelah itu diam tak beralasan. Ya, hanya itu!

Mengapa bisa seperti demikian? Sederhana saja, mari kita lihat diri kita saat melihat pencapaian orang lain. Jika tidak mengagumi dalam hati, paling jauh ya sebagai bahan perbincangan dengan teman mengenai tindakan seseorang. Lalu setelah itu? Sudah jelas habis dengan berbagai aktivitas kita yang lainnya, kecuali jika ada rasa iri atau dengki maka pencapaian orang tersebut akan menjadi bahan pertimbangan untuk dipikirkan lebih dalam, yang dapat berlanjut dengan penyakit hati lainnya, naudzubillah.

Disebut sebagai sirik kecil, riya memanglah sifat yang merugikan diri sendiri. Bagaimana tidak, jika setiap langkah yang kita ambil hanya berlandasakn pada manusia yang ada hanya meninggalkan kecewa dan sakit hati, apabila setiap yang dilakukan tidak bisa dihargai orang lain. Pada akhirnya timbunan rasa kecewa itu akan berlipat ganda menjadi penyakit hati lainnya. Menjadi lebih keras hati, berkurang tingkat rasa kepeduliannya, bahkan bisa mengambil hak orang lain karena merasa segala sesuatu yang ia lakukan harus memiliki penghargaan sesuai harapan. Pun sebaliknya, jika Allah dijadikan tujuan utama, seburuk apapun usaha yang dihasilkan tetap akan meninggalkan kedamaian. Entah itu sesuai harapan atau tidak, sudah sangat jelas ada keyakinan dalam hati orang-orang yang bertindak karena Allah bahwa semua hasil yang diperoleh memiliki kebaikan dalam hidupnya.  InsyaaAllah dengan bermodalkan niat beribadah kepada Allah dan ikhlas kita bisa menjaga amalan-amalan ibadah.

Fahri khawatir jika nanti akan dipanggil sebagai penipu, ia diliputi rasa cemas luar biasa. Apalagi diri ini yang fakir ilmunya, masih labil iman, yang usahanya tak seberapa dalam menghindari sikap riya. Lalu bagaimana dengan segala sesuatu yang kita kerjakan? Sudahkah semata-mata karena Allah atau tidak? Bahkan tulisan ini pun tidak dapat menjamin bahwa saya sedang menipu Allah atau tidak, semua kembali pada niat.

Seperti halnya Misbah, jauh dari sebelumnya tulisan ini juga sebagai nasehat bagi saya. Disaat hati ini terasa dicambuk habis-habisan tentang menipu Allah atau tidak, rasanya saya menjadi orang jahat apabila enggan membagikan pengetahuan ini. Memang tidak banyak, namun yang sedikit ini semoga dapat memberi manfaat. Tidak ada kata terlambat, kita semua mempunyai kesempatan yang sama untuk memperbaiki niat, berusaha sebaik mungkin agar tidak menipu Allah selama nafas ini masih bersemayam pada diri ini. Semoga Allah selalu memberikan taufik kepada kita agar dapat bertindak, berucap, dan berperilaku bertujuan semata-mata karena Allah ta’ala, Aamiin.

*Terinspirasi dari karya Habiburrahman El Shirazy “Ayat-Ayat Cinta 2”

  • view 142