Jejak di Perkebunan Pohon Pinus

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 September 2016
Jejak di Perkebunan Pohon Pinus

Sisa tenaga ku kumpulkan sambil sempoyongan membawa segala macam jenis barang. Mata ini kupaksakan lurus meski langit terus menggodaku untuk mengamatinya lebih dalam. Sekitarku tetap lengang seperti biasa, setiap lorongnya menyimpan kisah yang tak pernah terurai. Entahlah mengapa jalanan ini selalu menyimpan energi tak biasa—lain dari lorong-lorong lainnya.

            “Sudah makan?” celetukku tiba-tiba membuat seseorang dipusat ruangan ini mengalihkan pandangan.

            “Oke, maaf aku mengagetkanmu.” Lanjutku dari sekian detik berlalu tanpa jawaban, “tenang saja, aku memang terlihat acak-acakan. Sedikit lebih banyak energi yang kukeluarkan hari ini.”

            Udara berhembus tanpa tersenggal satu hetz suara pun, aroma ruangan semakin membeku dan aku sudah biasa mendapatkan respon demikian. Bola mata hitam itu menatap jendela dengan pandangan kosong, mengingatkanku segala macam kegiatan ditempat yang ku kunjungi sejam yang lalu. Aku semakin menyimpan perasaan aneh. Mereka hidup khalayaknya seperti robot, lalu bagaimana ia bisa jatuh cinta dengan pekerjaannya?

            “Jangan pasang wajah seperti itu.” Secepat angin suara lemah itu membuyarkan lamunan. “Kehidupan mereka tak seburuk yang kau pikirkan.”

            “Tapi mengapa keadaanmu seburuk yang kulihat?” Jawabku asal.

            “Ini hidupku, hidup mereka belum tentu sepertiku.”

            “Ya ya, setiap manusia punya cara tersendiri untuk menikmati hidupnya.”

            “Nah itu kau tahu.”

            “Tapi tidak harus seperti menjadi robot kan?”

            Sekilas matanya memancarkan rasa tidak suka, lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ku seorang diri. Materi yang sangat rawan untuk dibicarakan, dan aku lupa dengan kode etik itu.

            “Za, aku harus pu….” Aku terpenjerat, beku dan membisu. Orang didepanku menunjukan wajahnya telah basah oleh keringat juga—entahlah mungkinkah itu air mata?

            “Pulang? Terima kasih Rivi, kau sangat membantu.” Sambil membenahi diri dari tempat duduknya lalu meneguk air berkali-kali sampai isinya yang penuh tak bersisa.

            “Bicaralah tentang apapun Za! Apa yang membuatmu separah ini sejak kau pergi dari ruang tengah tadi?”

            “Mungkin obsesiku terlalu tinggi untuk bersamanya, siluetnya hilang bersama padamnya cahaya disore ini.” kepalanya menunduk sangat dalam, “ia selalu datang disaat malam menjelang. Cahaya-cahaya ini memberikan daya tarik baginya. Langkahnya cepat, senyumnya selembut awan sirus, dan tatapannya memberikan kilauan cahaya senja yang merah tembaga.”

            “Yang membuatmu seburuk ini?”

            “Tidak. Dia yang membuatku lebih berwarna, membangunkankan ku dari kehidupan yang kaku. Kehidupan yang kau sebut sebagai hidupnya para robot.”

            “Tapi kau banker yang hebat.” Jawabku ingin mengembalikan gairah hidupnya. “Lalu dimana dia?”

            “Jika aku tahu sudah kutemukan sejak lama. Dia selalu ada diujung jalan itu, tempat para anak-anak menikmati sore. Kami sempat membicarakan keindahan sore disetiap harinya, namun pekerjaan yang selalu menyita waktuku jauh lebih banyak dari yang ada memperkecil peluang untuk bertemu dengannya.”

            Aku mulai mengerti dengan sikap uring-uringannya beberapa hari ini. Tapi ini pilihan bodoh jika sampai membuat beberapa pekerjaannya jadi terbengkalai.

            Matanya makin sayu, mulutnya yang terbungkam menghasilkan suara gemelutuk ringan padahal hari sedang tidak hujan. Ku tarik lengannya kembali menuju ruang tengah, barangkali teh buatanku akan sedikit mengurangi rasa kecewanya meskipun aku sendiri tak yakin dengan hal itu. Setelah ini bisa ku panggilkan Pak Tomi untuk sementara menjaga Eza. Ya setidaknya mencegah dia untuk berbuat aneh-aneh. Aku juga tak mau menyakini imajinasiku jika dia akan berubah menjadi psikopat yang tega membunuh ayam-ayam dibelakang rumah . Ih, itu mengerikan.

***

            Deretan pohon pinus terus mengagungkan betapa gagahnya ia berdiri. Menjulang hingga ke atas awan. Diujung sana lapangan hijau luas terhampar, tempat anak-anak bermain dengan bola plastiknya. Satu jam menunggu tak ada pemandangan yang menganggu atau meyalahi aturan alam. Matahari tetap jatuh pada tempatnya saat sore tiba. Menghantarkan burung bangau kembali kerumahnya, lalu spontan anak-anak itu berteriak ‘hei bangau cepat pulang rumahmu kebakaran’. Sebuah lelucon yang mereka pikir akan dimengerti salah satu diantara para aves berwarna putih itu.

            Akhirnya, pengintaianku membuahkan hasil. Ada seseorang yang berbeda diantara segrombolan anak kecil disana.

            Hampir setengah lapangan kutelusri. Dengan segera ia beranjak dan mencapai sepedanya memilih pergi entah kemana. Langkahnya terlalu cepat, padahal sudah ku kerahkan seluruh tenagaku. Apa mungkin dia menyadari keberadaanku akan mengganggunya? Tidak mungkin. Dia belum sempat memerperhatikan dengan saksama keadaan sekelilingnya.

            Tersenggal napas ini. Udara khas pegunungan tak mampu memberikan jawaban atas usaha lari diantara langit yang hampir berubah menjadi jingga. Entah apa yang membuat lelaki yang biasa ku temui dengan gaya maskulin berhias aroma embun pagi itu telah berubah sikap. Kemeja putihnya telah berubah jadi putih tulang, tak lagi berhiaskan dasi warna-warni yang biasa ku komentari dengan nada menggoda. Bisa jadi hatinya sedang kacau balau oleh seseorang yang ku rasa parasnya lebih indah dari yang ia diskripsikan.

***

            Senja dihari kesekian.

            Aku sudah merubah strategi. Bukan lagi mengendap-endap seperti tentara yang siap perang. Tapi dengan jelas menantinya disisi ujung lainnya. Yups, tepat diantara jalan dia pulang kemarin sore. Memang terlalu frontal dalam hal istilah pengintaian, tapi tak ada cara lain selain mempergoki dia berjalan menuntun sepeda yang seolah-olah menari diantara ilalang dipinggir lapangan.

            Ah, tapi bisa saja dia akan mengurungkan niat untuk melewati jalan ini saat mengetahui ada orang asing yang menginginkan sesuatu darinya. Namun, mau berbalik arah juga tak mungkin. Lapangan ini terlalu luas jika disebut lapangan bola. Nyaliku pun tak seberapa besar seperti halnya anak-anak ini saat magrib tiba.

            Tebakan ku benar seratus persen. Kurang dari seratus meter dia berbalik arah. Segera ia menaiki sepedanya, berusaha mengayuh dengan secepat mungkin. Tak mau kalah, aku mengejarnya sekuat tenaga. Teori berlari yang diajarkan Pak Tomi ku terapkan. Tumitku ku tarik kedepan sehingga membentuk badan lebih condong menembus angin. Bayangan samar mulai tercipta diantara sisi kanan-kiriku. Jarakku dengannya masih tak terpaut jauh. Diantara batuan terjal dengan medan yang sedikit menanjak, pedal sepeda itu terus melaju lebih cepat. Bagaimana mungkin sepeda akan berpacu dengan kecepatan tinggi dijalanan seperti ini?

            Mataku terus fokus kedepan—hampir saja terlewati pertigaan diujung pohon pinus terakhir yang mengarah pada perkebunan lainnya. Aku terus mengikuti gadis itu hingga jalan menurun membuat tubuhku terasa ringan. Dan saat jalanan kembali menanjak aku masih cukup kuat untuk mendakinya meski kecepatan berlariku mulai menurun. Saat ku temui puncaknya, tak ada satupun yang dapat ku lihat. Pandanganku sudah kosong. Sisa jejak gadis itu tak lagi ku temui. Dan akupun tidak tahu aku berada dimana.

            Kembang kempis dadaku masih mencari ritme alur bernapas yang baik. Terseok kaki menahan nyeri dan aku memilih menepi.

            “Hey kakak berbaju coklat. Tolonglah tampakkan dirimu.” Suaraku melenggang seorang diri diantara kerumunan gagahnya pohon pinus.

            “Aku belum genap satu bulan tinggal didaerah ini.”

            Masih sunyi.

            “Tolonglah, aku hanya menanyakan beberapa hal. Tidak untuk mengganggu hidupmu.” Aku mulai mendengar sebuah isakan. Jelas itu milikku.

            Mataku terjaga disekeliling perkebunan. Rasa awas telah memuncak, hormon adrenalinku serasa terproduksi belebihan, hingga detak jantung ini tak kunjung menemui ritme yang pas. Suara kemerosok diantara deretan rumput liar membuat mataku terbelalak. Sikap kuda-kuda kusiapkan dengan mantap, takut ada orang ingin menancapkan pisau diperut atau mereka yang membawa karung untuk menangkapku.

            Napas panjangnya terurai dengan sempurna. Diujung ia menampakkan diri, tersenyum sangat menawan, keringatnya membasahai sebagian poninya. Aku terperanjat, bagaimana mungkin ia tersenyum se-teduh itu?

            “Kau siluman?” Saat menyadari Ia tak bersama sepedah yang ditunggangi tadi.

            “Aku manusia. Sungguh.” Dia melirik kekanan menunjukkan sepedanya masih tersangkut diantara semak-semak. Lalu, segera ia menariknya dengan beberapa kali hentakan dan dia berhasil melakukannya.

            “Kenapa kakak harus menghindar?” Ku sebut kakak karena terlihat usianya lebih matang dariku.

            “Apa yang kamu inginkan?” dia balik bertanya.

            “Tentang Eza. Kau pasti mengenalnya.”

            Dia berbalik arah dan ingin segera pergi saat mendengar kata itu.

            “Tolong jangan tinggalkan aku sendiri. Sungguh kurang dari satu bulan aku ada didaerah ini.”

            Tanpa basa-basi dia memboncengku dengan mulut yang masih membisu.

            “Eza menyakitimu? Bahkan ia lebih terlihat buruk daripadamu.” Ia terus mengayuh sepedanya melewati jalan lain. Aku tak berani berkomentar takut ditinggal sendiri diantara kerumuanan pinus yang mengerikan.

            “Tolong temui dia. Aku yakin kaulah perempuan yang selalu ditunggu Eza setiap sore.”

            Masih tak ada suara lain. Sekian menit waktu terlewati dengan hambar. Harusnya momen demikian menjadi kesempatanku memperoleh informasi lebih banyak.

            “Ikuti jalan ini. Tinggal beberapa meter kau akan temui lapangan tadi. Cepatlah pulang hari akan berubah gelap.” Tutup ia saat menurunkanku di pertigaan jalan. “Eza harus hidup senormal mungkin. Dia harus kembali menjadi dirinya yang dulu. Ada atau tidaknya aku semuanya tidak penting. Kehidupan harus terus berjalan.” Tuntasnya. Suaranya mengalun begitu lembut, matanya berkaca-kaca seakan menahan sesak didada.

            Ia melenggang jauh menelusuri jalanan yang belum matang aspalannya. Jajaran pohon pinus menemani kakinya yang kuat dan angin menghilangkan punggungnya tepat saat kepala setirnya menemui belokan ke arah kanan.

            Aku berbalik arah putus asa, tiba-tiba kudapati dua orang tersenyum ramah dan sangat mengerti apa yang sedang ku rasa. Usianya kira-kira sekitar dua puluh lima tahunan, namun terlihat lebih tua dari postur tubuhnya.

“Dia itu sahabat saya. Namanya Amira, dik. Dia itu janda kembang. Baru beberapa bulan yang lalu ditinggal mati suaminya. Meski suami hasil perjodohan tapi ia tetap menjaga ikatan itu. Katanya sih lebih memilih bertahan dengan kesendirian sebagai tebusan membayar janji dia pada almarhum maknya. Makanya ia sangat menghindari orang-orang baru.”

            Mengapa orang ini dengan mudahnya menceritakan kisah hidup seseorang pada orang baru sepertiku?

            “Adik orang kesekian yang ingin mengenalnya dengan baik. Makanya saya ceritakan sebelum adik bertanya.”

            “Lalu mengapa ia lebih memilih menghindari orang-orang baru?”

            “Menemui dan mengenal orang baru hanya membuat dia terluka, karena pada akhirnya ia harus kembali pada perjanjian abadi untuk tetap menjaga hati dan tak ingin membuat banyak orang berharap lebih dengannya.”

            Aku tertegun mendengar penuturan Kakak ini. Sakti sekali!

            Ternyata Tuhan masih menyisakan orang istemewa seperti dia. Sungguh betapa kuat ia menjaga janji hingga kebahagianya-pun sudah jelas akan tergadaikan. Bisa jadi Eza adalah masa indahnya yang tergadaiakan demi janji yang ia pegang teramat teguh.

            Tuntas sudah misi sore ku. Derap langkahku tak dapat menemui seleranya, seperti diri yang diujung pintu itu menatap aliran air mancur yang semakin menyerbakkan hawa sejuk. Ia tersenyum saat melihat kedatanganku, tanpa garis mata, seperti biasa. Ku pandangi lekat wajahnya. Ada semburat pesakitan dimata itu, cahaya yang tak pernah ku temukan sejak lima tahun yang lalu.

            Biasanya cinta mampu membuat manusia lupa diri. Tapi jika pemiliknya memilih yakin pada sebuah janji, maka cinta sudah terlalu cukup menjadi kekuatan untuk bertahan, dan menambah rasa percaya bahwa alam tak dibuat pada satu sisi saja. Namun, akan ada alam lain yang bisa jadi akan menyatukan cinta yang tak sempat bersemi di bumi Tuhan, ya dialam akhirat.

  • view 318