Anak Koin

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Anak Koin

Awan bergumpal di ujung tenggara, bersemayam warna hitam kelabu dengan semburat cahaya yang menderu diatas segala cela. Derap langkah melaju mengiringi pagar besi, entah itu yang bersepatu atau sekalipun yang tak beralas kaki, bergegas seakan gumpalan awan itu mengejar daya hidup mereka. Jembatan panjang menuju laut menguntai dan menjulang teramat tinggi, mengambang tanpa besi hingga menemui jalan-jalan panjang beraspal. Deru mobil tak lagi ragu, apalagi tronton yang bergandeng-gandeng siap memburu rupiahnya disebrang pulau sana, lalu kaki-kaki kecil itu beranjak mengelilingi badan kapal memburu koin-koin yang terbang secara tiba-tiba.

Tepat hari ke sembilan pelabuhan ini menemui titik puncak keramainnya. Bulan telah berganti hari juga hidup yang butuh pembaharuan untuk terus memburu. Antara bahagia atau sebaliknya Odi resah berangkat ke pelabuhan. Padahal disana ia akan menemui banyak rupiah yang cukup untuk membeli setumpuk buku bekas di pasar induk di pusat kota. Ia tak butuh perlengkapan khusus untuk memburu rezekinya, tidak seperti Anto yang singgap dengan setumpuk koran atau Pak De Rowe yang hobi membawa termos sekalipun disaat musim kemarau.

“Tak butuh suasana panas atau dingin kopi tetap jadi idaman hati” seru Pak De Rowe membela diri saat Odi dan lainnya menggoda orang tua setengah baya itu.

Memang tidak patut, bisik sisi hati Odi lainnya, tapi begitulah cara mereka menghibur diri, diatara kepulan asap atau kejamnya laut yang berombak sedang, tapi mampu menahan segala napas untuk berhenti secara tiba-tiba.

            Satu persatu kapal very bersandar, menyilangkan jangkarnya ke dasar laut. Mengikat tali temalinya diantara pagar besi agar tertahan sedikit lebih lama hingga muatannya lebih penuh. Makin sesak, makin ramai, makin banyak uang saja yang berputar hari ini. Dan Odi masih resah dengan pikirannya sendiri.

            Sesaat Odi sampai pada jalan yang paling akhir diantara jalan beraspal lainnya, berjumbul kepala-kepala kecil diantara sandaran dua atau tiga kapal. Jika disitu ada satu kepala yang berukuran lebih besar maka akan mudah mengenali siapa pemiliknya. Pak No lelaki yang tak bisa disebut muda juga tak cocok jika disebut tua sedang menjumbul bersaing dengan anak-anak usia sebelas tahunan ini. Menurut Odi beliau bukan saingan, hanya sekedar bapak-bapak yang hobi renang dengan oli kapal yang cukup memodali warung kopi istrinya di ujung timur pelabuhan. Jauh beda dengan tujuan Odi dan lainnya yang hanya ingin memenuhi hasrat jajan tanpa harus mengurangi penghasilan orang tuanya yang pas-pasan.

            “Kapan mau dapat uang kalau masih males-malesan gini,”

            Seketika Odi sadar ia cukup lama bermain-main dengan pikirannya sendiri. Matanya terbelalak kaget dari apa yan ia temui. Sebuah alat seperti kacamata berukuran besar bertengger diatas kepala Andik, kemudian tersambung selang yang menjulang keatas persis seperti teropong yang biasa digunakan kapal selam saat beroperasi didasar laut. Andik cengar-cengir melihat reaksi Odi yang heran, ia merasa lebih keren dari lainnya. Ditambah dengan sepasang kaki katak yang masih ia tenteng di pundak.

            “Ini yang disebut profersional, Di.” Andik berkacak pinggang

            “Kalau penghasilanmu sebanyak karung nggak masalah, lha ini cukup beli es doger aja harus serepot orang mau piknik.”

            “Hei! Jangan salah! kalau kamu pakai ini gerakanmu bisa lebih cepat. Artinya? makin banyak uang yang kamu dapatkan.” Andik senang kepalang menjelaskan hasil analisanya.

            Odi tau betul bagaimana Andik mengimpi-impikan separangkat alat renang ini sejak  bergabung jadi pemburu koin. Tapi menurut Odi ini tidak realistis jika hasil buru koin dibuat modal mendapatkan hasil koin yang lebih banyak lagi. Jika mau berpikir lebih banyak rugi dari pada untung menjadi anak koin. Beresiko tinggi, sebut Odi. Mungkin lebih aman seperti Anto dengan setumpuk kertas di tangannya, ya meskipun tiap hari ditarget tengkulak koran yang membuat kepala berputar menjajakan tulisan-tulisan itu.

            “Apa yang mau dibanggakan coba.” Bisik Odi cukup pelan.

            “Hey jangan salah Boi, semua ini aku dapatkan dari hasil nabung uang receh pelabuhan. Ya meskipun cuma beli ditukang loak.” Ajaib—Andik mendengarkan suara Odi yang membisik, ia terheran lagi. “Artinya apa Di? Jadi anak koin itu prospek besar. Peluang bisnis yang sangat menguntungkan.” Lanjut Andik penuh semangat.

            Peluang bisnis gundulmu. Odi membatin.

“Masih tidak percaya? Lihat itu.” Andik menerawang jauh, telunjukknya menghadang pandangan Odi. Mengisyaratkan seseorang diujung sandaran kapal sedang berbahagia menyambut rezekinya.

            Odi masih terdiam tidak merespon. Bagaimana ia mau percaya dengan penyebutan peluang bisnis Andik, jika antara manfaat dan akibat lebih banyak ia rasakan. Dulu saat ia masih berumur sembilan tahun memang masih merasa aman dengan kebiasaan ini. Berenang tanpa khawatir, mungkin antara bodoh atau dibodohi. Namun kini ia seolah-olaj memakan sambal sejaban, terasa nikmat dimulut tapi kemudian perih diperut. Entah sudah berapa banyak ia menelan air bercampur dengan tumpahan minyak yang tidak sengaja keluar dari lubang kapal itu. Atau tetesan oli yang terus menerus yang biasa menjadi pelumas mesin kapal.

            Andik sudah masuk didalam air dengan peralatan snorklingnya, tubuh kecil itu melesat begitu cepat menyelip dibagian kapal-kapal. “Ayo mbak mas dilempar koinnya,” ia menderu sambil terus berenang ke sisi kapal untuk lebih dekat. Banyak yang tertarik dengan aksinya, juga tidak sedikit orang-orang yang menghiraukan karena terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Satu persatu Andik menyambut koinnya, menyelam begitu dalam bersaing dengan anak koin lainnya. Pak No tak kalah gesit karena ia ditarget oleh istrinya. Penumpang very bersorak melihat perlombaan ini, makin banyak koin yang berterbangan, makin cepat mereka menenggelamkan diri.

            Sandal kusut Odi disisikan diantara sandal lain ditepi jalanan dekat kapal. Melihat banyak koin yang dilempar membuat ia ingin bergabung. Tapi apa daya jika hati tidak berhasrat, bocah yang kini jadi remaja madya itu kembali duduk dengan menompang dagu diantara kedua telapak tangan. Odi melihat wajahnya yang terpantul diatas air. Ombak memang tidak terlalu besar saat mencapai tepian pelabuhan karena ia sudah pecah terhadang oleh badan kapal-kapal. Ia terus merunduk seakan ada yang menarik dari bentuk mukanya yang kini terlihat lebih tegas.

            Diujung pertigaan Pak De Rowe melayani pelanggannya. Menuangkan air panas dalam cup. Semua terlihat bergembira, kecuali seseorang ditepian pelabuhan yang dihalau oleh perasaan resah yang membabi buta. Selayaknya seorang sahabat, Pak De Rowe menunjukkan rasa simpatinya, meskipun hati kecilnya berkata untuk lebih memilih pelanggannya yang berjumbul keluar dari bus.

            “Hei Boi, tak kunjung berenang saja kau ini.”

            “Sedang tidak berselera Pak De.” Keluh Odi saat menyadari ia tidak lagi sendiri lagi.

            “Sudah ketemu Andik? Luar biasa sekali dia, Boi.” Pak De Rowe memberi pendapat dari pertanyaannya sendiri. “sebenarnya lumayan juga penghasilan jadi anak koin, ya Di? Buktinya Sukeno kuat memberi modal warung istrinya.”

            “Lumayan dari mananya Pak De? Modal besar untungnya cukup buat senang-senang sesaat.”

            “Mungkin karena kamu tidak rajin nabung, Di.” Tukasnya sambil memberi satu cup kopi. Odi ragu-ragu takut setelah meminum kopi itu mati seketika, eh, maksudnya harus bayar secara tiba-tiba. “Minum saja, itu gratis. Barangkali setelah ini kamu bisa semangat renang lagi.”

            “Modalnya besar Pak De. Modal nyawa!” Odi menyesap kopinya. “Lihat orang-orang diatas kapal sana Pak De. Mereka tertawa begitu bahagia, seolah orang-orang dihadapan mereka itu lumba-lumba di Ancol. Tragisnya yang ada dibawah juga bersemangat mengambil uang limaratusan, paling mentok juga seribu kan?”

            “Hei, kenapa kamu berpikir seperti itu?”

            “Lebih tragis aku juga ada diantara mereka. Sekian lama menelan air laut bercampur minyak buangan itu tidak enak, Pak De. Mau cari uang lainnya juga tidak mungkin. Pak De tau sendiri kan, mau jadi loper koran tidak semua tengkulak percaya sama anak pelabuhan apalagi ngasong jualan orang.”

            “Terus kamu maunya apa, Di?”

            “Jadi anak negara Pak De.”

            Mulut Pak De Rowe terkatup rapat, tidak mengerti maksud Odi.

            “Didalam undang-undang anak miskin itu tanggung jawab negara Pak De. Sayangnya kata Bapak kami ini tidak miskin, buktinya aku dan tiga adik-adik masih bisa beskolah. Lah padahal buat makan aja lumayan susah.”

            “Kalau begitu kau sama saja pengen miskin dong Boi? Itu semangat Bapakmu, biar tidak mudah dikasihani orang.” Sambut Pak De Rowe yang tidak tahu menahu tentang Undang-Undang, yang dia tahu cuma seperangkat kopi dan minuman hangat lainnya.

            “Tidak tahu Pak De. Yang jelas jadi anak koin semakin menghawatirkan. Air lautnya semakin gelap saja, jelas ini bentuk pencemaran.” Odi menerawang jauh ombak yang mendebur-debur yang terpecah badan kapal.

            “Makin pandai saja kau, Di, sejak lulus SMP.”

            “Lumayan Pak De, setidaknya tahu pencemaran laut itu asalnya bisa dari buangan sampah rumah tangga. Belum lagi dari puluhan kapal ini. Kadang-kadang nih ya Pak De, waktu berenang airya berubah hangat.” Tiba-tiba saja Odi mengerjap ketakutan, mengusap wajahnya begitu kasar. Bayangan itu kembali datang, tepat setahun yang lalu.

            “Kalau sudah begitu kamu maunya gimana, Di?”

            “Tidak tahu.” Sekali lagi Odi hanya bisa menjawab pertanyaan Pak De Rowe dengan dua kata itu. Bayangannya berjalan begitu cepat saat teringat Maman, sapaan Herman sahabatnya yang mati setahun lalu. Ia yakin meninggalnya Maman bukan karena sakit biasa. Terakhir ia melihat sahabatnya itu pingsan dengan mulut berbusa setelah berenang enam jam dilautan. Saat itu Odi dalam keadaan baik, hanya saja kakinya penuh luka karena tergores teritip. Sejenis kerang kecil yang menempel di badan kapal. Kakinya tidak bisa tergerakkan dengan cepat saat itu, karena rasa perih bercampur air asin semakin memperburuk keaaan. Ia hanya pasrah melihat Maman mengambang dipermukaan. Antara pedih dikaki juga luka yang menyayat hati. Maman memilih berhenti bernafas ditengah lautan.

            Wajah Odi menunduk begitu dalam, tetasan air matanya menguap begitu cepat saat membasahai aspal. Pak De Rowe sudah berlalu saat seseorang memanggilnya dari jauh. Sandal lusuhnya ia kenakan lagi. Umurnya kian bertambah, kemapuan laut dalam mendegradasi sampah semakin melemah. Dan pada akhirnya fungsinya tak bersinergi seperti dulu lagi. Odi memilih pulang setelah keramaian hari kesembilan ini, setahun memahami kepergiaan Maman sudah cukup memberi pelajaran.

            Odi beranjak meninggalkan pelabuhan dan berjanji tidak ingin kembali dengan kebiasaan yang sama.

  • view 301