Sebuah Perjalanan

Nurita Wahyuni
Karya Nurita Wahyuni Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 06 September 2016
Sebuah Perjalanan

            Tidak terasa ini adalah tahun ketiga menyandang status sebagai mahasiswa. Banyak hal yang tertoreh dan tidak sedikit yang tertinggal, termasuk dengan kenangan. Hidup terus berjalan, meski beridealis namun kita juga harus dinamis. Idealisme yang beriringan dengan sikap dinamis mengikuti segala perkembangan jaman dan perubahan dengan tetap berpedoman pada tata aturan agama dan negara. Waktu terus berjalan dan kita juga harus sigap untuk bergerak. Segala perjalanan ini membuat kita dewasa, percayalah, karena dengan berfikir positif otak akan mengintruksi semua organ tubuh untuk bekerja dengan baik. Bukan dengan keluh kesah pabila segala sel neuron itu bekerja dengan sebaliknya.

            Sejak dua tahun yang lalu jalanan adalah langkah indah untuk menuju suatu tempat yang begitu luas dengan nikmat. Meskipun meninggalkan kisah dengan berbagai macam rasa, tapi bukankah itu titik nikmatnya dari segala pencapaian sebuah perjalanan? Menghirup segala aroma perjuangan membuat diri terpacu menuju masa yang kita anggap akan bahagia disana. Padahal apabila ditelaah, setelah melakukan perjalanan begitu jauh, kemudian merasakan berbagai tantangan kehidupan lalu setelah mencapai tujuan sensasinya ya itu itu saja. Bahagia sudah pasti, apalagi berbangga diri jika itu memang suatu pencapaian tertinggi dalam hidup kita. Namun setelah itu? Akan terbungkus menjadi kenangan, tertinggal dibelakang karena waktu terus berjalan dan kita tidak boleh tinggal diam. Ya, kecuali jika kita terus berinovasi dan berjuang untuk mempertahankan suatu pencapaian hidup. dan rasa syukur yang menjadi kunci apakah kita benar-benar bahagia atau malah sebaliknya.

Setelah sekian kali melakukan perjalanan kehidupan, saya merasa kenikmat sesungguhnya dari sebuah perjuangan bukanlah pada hasil yang diperoleh, melainkan dari segala lika-liku dalam mencapainya. Sungguh rasanya luar biasa, karena disana kita akan dipaksa untuk merasakan arti sabar, memahami sebuah perjuangan dan pengorbanan, serta menghargai sebuah kekalahan untuk menang. Setelah semua rasa untuk bertahan itu kita dapatkan maka hidup kita akan terus berjalan, terus begitu menghadapi satu permasalah satu dengan lainnya, menyelesaikan satu tantangan satu dengan lainnya sampai pada akhirnya kita menemukan titik kesuksesan sebenarnya yaitu masa kematian. Mati menjadi siapa? Dikenang karena banyak manfaat bagi masyarakat atau hanya sebagai golongan yang menyesakkan ruang kehidupan? Semua butuh memilih untuk melakukan perjalan seperti apa yang kita inginkan.

Banyuwangi, 23 Agustus 2016          

  • view 195